PENDAHULUAN
1. Neuron tidak mampu menyimpan glikogen, makanya jika tidak mendapatkan suplay makanan secara cepat ( toleransi 3 / menit ) akan menyebabkan kematian
2. Hidup matinya neuron tergantung arteri yang memperdarahi
3. Penghentian Aliran Darah Otak (ADO) lebih dari 3 menit menyebabkan kerusakan irreversible
ANATOMI (Review)
1. Otak memperoleh darah melalui 2 sistem :
a. Karotis (interna kanan dan kiri) Bercabang menjadi a. serebri anterior dan media Memperdarahi lobus frontalis, parietalis, beberapa bagian temporalis
b. Vertebra ( a.vertebra kanan dan kiri) Mempercabangkan a.serebeli inferior Memperdarahi lobus oksipitalis dan bagian medial temporalis Darah vena dialirkan dari
2. otak melalui 2 sistem : Vena interna dan eksterna
FISIOLOGI- ALIRAN DARAH OTAK ( ADO )
1. ADO tidak adekuat menimbulkan gejala-gejala defisit neurologi
2. ADO dipengaruhi faktor :
a. Tekanan untuk memompakan darah dari arteri ke vena = p(A-V)
Tekanan sistemik berpengaruh
b. Tahanan pembuluh darah otak = CVR, dipengaruhi oleh :
1) Tekanan intrakranium
2) Viskositas darah
3) Tonus pembuluh darah otak
Diformulasikan
CBF = p (A-V)
CVR
CBF : Cerebral Blood Flow
P : Pressure, A :Arteri, V : Vena
CVR : Cerebro-Vascular Resistance
3. Untuk ADO memadai, p (A-V) dipertahankan, dicegah peningkatan CVR
4. Volume otak, CSF dan darah dalam ruang tengkorak adalah tetap (DOKTRIN KELLIE MONROE
5. Benar selama daya autoregulasi otak berfungsi baik
6. Daya autoregulasi berfungsi normal bila tekanan sistolik 50-150 mmHg
7. TD tidak selalu ADO meningkat karena tonus p.d otak meningkat ? konstriksi ? ADO tetap dan sebaliknya
8. Jika TD sampai titik kritis, ADO tidak mencukupi ? insufiensi serebrovaskular ? iskemi ? infark
9. TIK meningkat mengakibatkan vasokonstriksi dan TD meningkat dan ADO tidak berubah
10. Tetapi bila TIK mencapai 450 mmHg mempengaruhi ADO menurun
11. Viskositas darah meningkat mengakibatkan CVR meningkat dan ADO menurun
12. Tekanan arteri meningkat dan tonus p.d meningkat dan vasokonstriksi, dan sebaliknya
13. Keadaan dinding p.d mempengaruhi tenaga untuk mendorong darah
PENYAKIT GPDO
a. STROKE
b. Hypertensive encephalopaty
c. Arterosklerosis serebri
d. Aneurisma intrakanialis
e. Trombosis Vena otak
Sabtu, Juni 27, 2009
GANGGUAN PADA KARYAWAN DI PERKANTORAN MODERN
I. LATAR BELAKANG
Dengan semakin berkembangnya kemajuan kehidupan manusia yang berdampak pada semakin rumitnya masalah hubungan sosial manusia maka munculah apa yang disebut administrasi yang dipakai sebagai metode untuk mengatur tata urusan kehidupan manusia dalam berbagai bidang seperti ekonomi, kenegaraan, hubungan sosial dan banyak lagi. Sistem manajerial kemudian juga hadir sebagai aplikasinya dalam bidang ekonomi. Sistem ini kemudian melahirkan institusi baru yang mengakomodasi administrasi yang kini lazim kita sebut kesekretariatan atau perkantoran. Seiring dengan berjalannya waktu sistem ini berubah menjadi komunitas yang masing-masing mempunyai ciri khas sosialnya sendiri yang kemudian memiliki dampak pada pelakunya.
Sebuah klasifikasi klasik yang masih dapat dipakai tentang pekerja adalah klasifikasi pekerja menjadi dua yaitu pekerja fisik atau Blue-Collar Workers dan pekerja kantor atau White Collar Workers. White Collar Workers memiliki suatu kondisi dan beban kerja yang tentu saja berbeda dengan pekerja lainnya. Mereka bekerja di sebuah ruangan tertutup dalam satu bangunan. Tak jarang bangunan itu cukup sempit dengan ventilasi terbatas dan sering digantikan oleh pendingin ruangan. Mereka bekerja dibelakang meja dengan setumpuk kertas dokumen dan mesin ketik atau komputer dengan mobilitas fisik yang rendah, kecuali pada strata tertentu yang mobilitasnya sangat tinggi seperti direktur atau manajer.
Jam kerja yang diberlakukan bagi mereka bervariasi yang panjangnya antara 6 jam efektif hingga 10 jam pada industri tertentu. Pekerjaan mereka secara umum berkutat pada urusan dokumen dan hubungan interpersonal yang mengarah pada pengaturan bidang yang mereka tangani. Beban mereka cukup menguras pikiran dengan suasana yang kadang penuh ketegangan dan intrik. Timbul gaya hidup dan berbagai ciri kehidupan mereka seperti postur dan kondisi fisik diakibatkan oleh perbedaan pola makan dan gaya hidup lain seperti pilihan hiburan atau kecenderungan pada alkohol dan kurangnya olahraga.
II. DESKRIPSI
Perkantoran di era modern ini didefinisikan sebagai suatu lingkungan kerja dimana fungsinya untuk mengatur kerja operasional dari perusahaan. Strata sosial dalam komunitas perkantoran secara umum dapat digambarkan secara hirakhis seperti sebagai berikut:
Direktorat Komisaris
Bagian (manajerial)
Sub bidang (supervisor)
Tim kerja
Karyawan
Masing-masing bagian ini memiliki beban kerja dan kondisi kerja yang khas dan berbeda. Seperti direktur yang merupakan penanggung jawab tertinggi memiliki beban kerja yang tidak berat dan tingkat stress yang cukup rendah bila dibandingkan pihak manajerial. Kedua strata ini adalah strata yang mempunyai status sosial yang cukup baik di masyarakat dengan gaji yang baik pula.
Sedang bagian sub bidang cenderung untuk mempunyai tingkat stress cukup tinggi dalam posisinya sebagai penanggung jawab pelaksanaan secara teknis. Tim kerja dapat dikatakan sebagai sub unit terkecil dalam perkantoran yang menjadi ujung tombak pelaksana teknis organisasi. Tim inilah yang paling sering ditekan oleh pihak manajerial dengan berbagai target kerja yang kadang menguras pikiran mereka. Mereka jugalah yang berhadapan dengan pihak luar yang memakai jasa mereka. Tingkat stress yang berbeda ini juga membedakan teknik terapi dan penghilangan stress pada tiap strata.
III. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KERJA
Dalam lingkungan perkantoran terutama kita jumpai penyakit-penyakit yang tidak menular, namun tidak menutup kemungkinan munculnya penyakit menular yang penu-larannya didukung oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Ventilasi dan sistem pendingin ruangan (AC/ Air Conditioner)
Di indonesia, AC dipakai di banyak tempat termasuk lingkungan kerja. Apalagi penggunaan AC yang berfungsi kurang baik dapat meningkatkan kelembaban ruangan. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang disebut “Humidifier Fever”.
Timbulnya humidifier fever ini bisa terjadi karena perawatan AC yang tidak baik/teratur dan seringnya frekuensi pemakaian AC (±10jam/hari). Bila hal tersebut dibiarkan tanpa penanganan maka dapat menyebarkan penyakit keseluruh ruangan perkantoran tersebut.
2. Faktor Fisik
Yang termasuk faktor fisik disini bisa benda ataupun zat yang terdapat di kantor dan secara fisik dapat menularkan penyakit. Misalnya karpet yang biasa digunakan untuk melapisi ruangan ber-AC di perkantoran, apabila tidak dijaga kebersihannya maka dapat menimbulkan tumpukan debu halus yang bila tersebar terbawa angin dan terhirup pekerja kantoran akan mengganggu kesehatan.
3. Faktor Sanitasi
Seringkali kita jumpai di perkantoran disediakan minuman ataupun dapur bagi para pegawainya. Bila kebersihan air minum tersebut tidak terjaga maka dapat dapat juga menjadi salah satu faktor yang mendukung penyebaran penyakit.
Selain itu toilet bagi pekerja perkantoranpun harus dijaga kebersihannya agar jangan sampai menjadi sumber dan media penyebaran penyakit.
IV. INDENTIFIKASI MASALAH
Masalah kesehatan dalam lingkungan pekantoran tidak kalah dengan masalah kesehatan di pabrik-pabrik. Faktor-faktor yang mendorong timbulnya masalah tersebut antara lain:
1. Faktor Sosial Ekonomi
Salah satu masalah yang timbul yaitu stress, yang disebabkan karena terlalu banyaknya pekerjaan dan juga adanya konflik dengan rekan sesama karyawan atau dengan atasan. Stress ini termasuk dalam masalah kesehatan mental dan psikologi.
2. Faktor Resiko dan Gaya Hidup Pekerja Perkantoran
Gaya hidup yang salah sering menimbulkan masalah pada para pekerja, seperti:
? Karena terlalu sering duduk di belakang meja, sehingga aktivitas gerak mereka kurang. Hal tersebut dapat menyebabkan aliran darah kurang lancar sehingga timbul masalah pegal-pegal, linu di daerah punggung, pinggang, leher dan bahu.
? Kebiasaan lainnya seperti merokok, minum kopi, dan alkohol juga sering menimbulkan masalah.
? Kebiasaan makan makanan cepat saji (karena kurangnya waktu istirahat) sering menimbulkan masalah yang serius seperti stroke dan jantung koroner.
? Bagi operator komputer, sering timbul masalah dengan penglihatannya seperti mata perih, berair, dan mata merah
? Kebiasaan para pekerja untuk lembur dapat merangsang timbulnya stress akibat terlalu memaksakan diri dalam bekerja
3. Faktor Struktur Bangunan dan Lingkungan Kerja
Hal yang sering menimbulkan masalah antara lain : ventilasi, pencahayaan, dan sanitasi yang kurang memenuhi persyaratan. Sedangkan masalah kesehatan yang mungkin timbul antara lain : sesak nafas, asma, dan pneumoconeosis.
V. EPIDEMIOLOGI
Perkantoran di era modern ini didefinisikan sebagai suatu lingkungan kerja dimana fungsinya untuk mengatur kerja operasional dari perusahaan. Jadi sifatnya tidak terjun langsung ke lapangan namun sifatnya hanya sebagai “otak” dari suatu kegiatan perusahaan. Seringkali ditemukan permasalahan kesehatan pabrik, perkebunan, pertambangan, dan lain-lain, sedangkan masalah kesehatan kantor diabaikan. Hal tersebut disebabkan karena perkantoran seringkali diidentikkan dengan pekerjaan ringan yang hanya duduk dibalik meja serta berada didalam gedung yang dilengkapi dengan fasilitas untuk menunjang kerja dan kenyamanan bagi karyawan. Namun lingkungan seperti itu justru menimbulkan masalah tersendiri mengenai kesehatan para pekerja perkantoran. Pola kerja perkantoran sendiri cenderung lebih banyak mencurahkan pemikiran daripada kerja secara fisik sehingga juga dapat mendukung timbulnya masalah kesehatan psikis.
Canadian Institute Health Research (2004) menemukan fakta bahwa dari 70% pekerja kantor di negara industri yang bekerja di ruangan ber-AC sering menderita gejala-gejala seperti iritasi pada membran mukosa mata, tenggorokan dan hidung yang juga ditemukan pada gejala penyakit respirasi. Selain itu juga telah dilakukan penelitian risiko faktor fisik, kimia dan mikrobiologi terhadap terjadinya gangguan/keluhan sakit pada gedung bertingkat yang menggunakan AC sebagai penyejuk ruangan oleh Sukar antara tahun 1998 sampai 1999.
VI. MANIFESTASI KLINIS
Pada umumnya, penyakit yang sering muncul pada pekerja perkantoran dan perbankan adalah sress dan penyakit pernafasan. Beberapa penyakit yang sering mengenai para pekerja perkantoran tersebut antara lain :
1. Batuk
Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia, dan peradangan. Inhalasi debu, asap dan benda – benda asing kecil merupakan penyebab paling sering dari batuk. Perokok sering kali menderita batuk kronik karena terus menerus mengisap benda asing (asap) dan saluran nafasnya sering mengalami peradangan kronik.
Orang – orang yang bekerja pada perkantoran dan perbankan mempunyai resiko terkena batuk lebih besar. Hal ini disebabkan karena umumnya mereka bekerja pada suatu ruangan tertutup (ventilasi kurang), sehingga resiko inhalasi debu dan asap lebih besar. Hal ini diperparah apabila dalam ruangan tertutup tersebut terdapat perokok sehingga ruangan itu dipenuhi asap rokok.
2. Dispnea
Sering disebut sebagai sesak nafas, adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonal. Seorang yang mengalami dispnea sering mengeluh nafasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Dispnea merupakan keluhan yang biasa pada “syndrome hiperventilasi” pada orang – orang sehat yang mengalami stress emosi.
Orang – orang yang bekerja pada ruangan tertutup tentu saja memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami dispnea. Hal ini diperparah bila orang tersebut mempunyai rasa takut secara psikis bahwa dia tidak dapat memperoleh jumlah udara yang cukup. Seseorang menjadi sangat dispnea terutama akibat pembentukan karbondioksida yang berlebihan dalam cairan tubuh. Namun, pada suatu waktu karbondioksida dan oksigen dalam cairan tubuh dalam batas normal. Tetapi untuk mencapai gas – gas ini dalam batas normal, orang tersebut harus bernafas dengan kuat sekali. Pada keadaan seperti ini, aktivitas otot – otot pernafasan yang sering kali membuat seseorang merasa dalam keadaan dispnea berat.
3. Sianosis
Sianosis merupakan salah satu tanda pertukaran gas yang kurang memadai. Hal ini ditandai dengan warna kebiru – biruan pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan absolut hemoglobin tereduksi (hemoglobin yang tidak berikatan dengan O2). Dapat merupakan tanda insufisiensi pernafasan, meskipun bukan merupakan tanda yang diandalkan.
Ada 2 jenis sianosis: sianosis sentral dan sianosis perifer. Sianosis sentral disebabkan oleh insufisiensi oksigenasi hemoglobin dalam paru – paru, dan yang paling mudah diketahui pada wajah, bibir, cuping telinga serta bagian bawah lidah. Sianosis perifer akan terjadi apabila aliran darah banyak berkurang sehingga sangat menurunkan saturasi darah vena, dan akan menyebabkan suatu daerah menjadi biru. Sianosis perifer dapat terjadi akibat infusiensi jantung, sumbatan pada aliran darah, atau vasokonstriksi pembuluh darah akibat suhu yang dingin.
Pada orang yang bekerja di suatu perkantoran ataupun perbankan, sering terkena suhu yang dingin akibat penggunaan AC yang terus menerus dalam suatu ruangan kerja. Oleh sebab itu, orang – orang yang bekerja pada ruangan yang ber AC mempunyai resiko yang lebih besar terkena sianosis khususnya sianosis perifer
4. Empisema Paru Kronik
Empisema paru kronik yang dapat muncul bila seseorang menghisap asap rokok dalam jangka waktu yang lama. Orang – orang yang bekerja pada perkantoran yang ruangannya tidak ber–AC dan kebetulan di dalam ruangan tersebut terdapat perokok, maka seluruh pegawai dalam ruangan tersebut mempunyai resiko untuk terkena empisema paru kronik. Empisema paru kronik yang disebabkan oleh asap rokok ini diakibatkan oleh adanya bahan – bahan yang dapat mengiritasi bronkhus dan bronkhiolus. Bahan – bahan tersebut mengacaukan mekanisme pertahanan normal saluran pernafasan termasuk kelumpuhan sebagian silia epitel pernafasan oleh efek nikotin. Sehingga mukus tidak dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran nafas. Perangsangan sekresi mukus yag berlebihan yang selanjutnya mengakibatkan kekambuhan kondisi ini, dan hambatan terhadap makrofag alveolus sehingga menjadi kurang efektif dalam memerangi infeksi.
5. Stress Emosi
Selain penyakit pernafasan, orang – orang yang bekerja pada perkantoran ataupun perbankan juga mempunyai kecenderungan untuk mengalami stress emosi. Stress ini dapat disebabkan karena banyaknya pekerjaan yang dibebankan pada mereka, konflik dengan teman sekantor ataupun karena kebosanan terhadap pekerjaan yang monoton di kantor. Untuk menghindari terjadinya stress perlu diciptakan suatu suasana kerja yang harmonis dan variatif.
Suatu hal yang sering kita lupakan pada tinjauan aspek klinik adalah kedudukan pegawai wanita yang hamil. Dalam suatu perkantoran pada umumnya belum diatur secara jelas apa yang menjadi hak mereka. Misalnya, mereka berhak mendapat cuti selama berapa bulan. Namun, yang perlu diingat bahwa selama pegawai tersebut cuti hamil mereka tetap mendapatkan gaji secara utuh. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menetapkan suatu UU yang mengatur hal ini.
VII. STRATEGI PENANGGULANGAN
Dalam melakukan strategi penanggulangan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Proses Kerja
Agar proses kerja pada perkantoran modern berjalan optimal, maka proses kerja yang dilakukan harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan proses kerja diantaranya:
a. Sikap tubuh dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, alat petunjuk dan cara-cara dalam melayani mesin (gerak, arah dan kekuatan)
b. Untuk normalisasi ukuran mesin dan alat-alat kerja, harus diambil ukuran terbesar sebagai dasar serta diatur dengan suatu cara, sehingga ukuran tersebut dapat diperkecil dan dapat dipakai oleh tenaga kerja yang lebih kecil. Misalnya; kursi dapat dinaik turunkan, tempat duduk yang dapat dimaju-mundurkan, dll.
c. Dari sudut otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang, dinasehatkan untuk duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan pemilihan sikap duduk tegak diselingi istrirahat dengan sedikit membungkuk.
d. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk. Jika tidak mungkin, kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk duduk.
2. Pengendalian Lingkungan Kerja
a. Lingkungan fisik
• Pekerjaan yang memerlukan ketelitian harus mendapat penerangan yang intensitasnya tinggi (±1000 luks). Pekerjaan yang memerlukan perbedaan dalam waktu yang pendek dan kontras harus mendapat penerangan sedikitnya 3000 luks. Pekerjaan kasar yang tidak memerlukan penglihatan yang kritis harus mendapat penerangan sedikitnya 50 luks. Selain intensitas penerangan, kesilauan dan kedipan antara obyek kerja dan sekitarnya juga harus diperhatikan. Sumber cahaya lain selain dari matahari tidak boleh menimbulkan panas berlebihan atau merusak susunan udara sehingga mengakibatkan gangguan dalam bekerja.
• Membersihkan mesin atau peralatan lain (seperti AC) dari debu-debu yang bisa masuk per inhalasi dan mengganggu kesehatan secara rutin
• Mengatur kelembaban udara, pH, suhu sehingga mikroba dan jamur tidak tumbuh
b. Lingkungan sosial budaya
Menciptakan suasana perkantoran yang kondusif. Keharmonisan antar karyawan dan antar karyawan dengan atasan akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, selain itu bisa mengurangi penyakit yang sering menyerang karyawan yaitu stress.
3. Manajemen Pelayanan Kesehatan Kerja pada Karyawan
a) Primer level of prevention
Penyuluhan kesehatan yang dapat dilakukan diantaranya tentang gizi yang baik (karena kebanyakan pekerja perkantoran lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji akibat waktu istirahat yang terbatas, dimana makanan cepat saji ini disinyalir menjadi penyebab stroke dan penyakit jantung koroner), sanitasi individu dan lingkungan kerja, kebiasaan hidup sehat dan kegiatan sosial/rekreasi serta spiritual
b) Secondary level
Early diagnosis terhadap karyawan sehingga jika dimungkinkan adanya penyakit kerja maka akan segera diketahui dan diterapi. Sehingga fungsi tubuh bisa cepat kembali dan tidak menimbulkan kecacatan
c) Rehabilitation
4. Sistem Manajemen
? Kebijakan perusahaan dalam pemberian upah yang sesuai sehingga karyawan tidak mencari kerja sambilan yang akan mengganggu produktivitas kerja dan juga kesehatannya
? Pengadaan sarana kesehatan yang memadai seperti klinik, rumah sakit dan yang lainnya
? Pemberlakuan sangsi bagi pekerja yang melanggar aturan kesehatan dan keselamatan kerja
? Adanya pembagian shift ataupun kerja malam secara proporsional, karena pada pekerja malam (lemburan) akan menyebabkan:
a. Irama faal terganggu
b. Adanya ketidakseimbangan elektrolit tubuh
c. Kelelahan yang sangat akibat kuatnya kerja parasimpatis dibanding simpatis
? Adanya kebijakan bahwa pekerja dalam sehari tujuh jam dan 35 jam dalam seminggu
5. Pelaksanaan UU yang berhubungan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(a) UU Kerja No. 3
“Tiap-tiap minggu harus diadakan sedikitnya sehari untuk istirahat”
(b) PP Menaker No. 7 Tahun 1964
? Memenuhi ukuran yang sesuai dengan tubuh tenaga kerja kita dan sesuai dengan bentuknya
? Nyaman sehingga menghindarkan ketegangan otot dan kelesuan yang berlebihan
? Memudahkan gerakan untuk bekerja, harus ada sandaran punggung
(c) UU No. 14 Tahun 1969 tentang ketentuan pokok tenaga kerja
Memuat ketentuan pokok tenaga kerja, mengatur hygiene perusahan dan kesehatan kerja
(d) Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1951
“Buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jikalau pekerjaan dilakukan malam hari atau berbahaya bagi kesehatan atau keselamatan buruh, waktu kerja tidak boleh lebih dari 6 jam sehari dan 35 jam seminggu” (Pasal 10 Ayat 1)
DAFTAR PUSTAKA
Canadian Institute Health Research, 2004. Ultra-violet Irradiation Could Reduce Office Sickness. (Online). (http://www.sk.lung.ca/content.cfm?edit_realword=xtra0129), diakses tanggal 9 April 2005.
Sukar, 1999. Sindroma Penyakit pada Gedung Bertingkat. (Online). (http://www.litbang.depkes.go.id/ekologi/abstrak_98-99.htm - 113k), diakses tanggal 9 April 2004.
Dengan semakin berkembangnya kemajuan kehidupan manusia yang berdampak pada semakin rumitnya masalah hubungan sosial manusia maka munculah apa yang disebut administrasi yang dipakai sebagai metode untuk mengatur tata urusan kehidupan manusia dalam berbagai bidang seperti ekonomi, kenegaraan, hubungan sosial dan banyak lagi. Sistem manajerial kemudian juga hadir sebagai aplikasinya dalam bidang ekonomi. Sistem ini kemudian melahirkan institusi baru yang mengakomodasi administrasi yang kini lazim kita sebut kesekretariatan atau perkantoran. Seiring dengan berjalannya waktu sistem ini berubah menjadi komunitas yang masing-masing mempunyai ciri khas sosialnya sendiri yang kemudian memiliki dampak pada pelakunya.
Sebuah klasifikasi klasik yang masih dapat dipakai tentang pekerja adalah klasifikasi pekerja menjadi dua yaitu pekerja fisik atau Blue-Collar Workers dan pekerja kantor atau White Collar Workers. White Collar Workers memiliki suatu kondisi dan beban kerja yang tentu saja berbeda dengan pekerja lainnya. Mereka bekerja di sebuah ruangan tertutup dalam satu bangunan. Tak jarang bangunan itu cukup sempit dengan ventilasi terbatas dan sering digantikan oleh pendingin ruangan. Mereka bekerja dibelakang meja dengan setumpuk kertas dokumen dan mesin ketik atau komputer dengan mobilitas fisik yang rendah, kecuali pada strata tertentu yang mobilitasnya sangat tinggi seperti direktur atau manajer.
Jam kerja yang diberlakukan bagi mereka bervariasi yang panjangnya antara 6 jam efektif hingga 10 jam pada industri tertentu. Pekerjaan mereka secara umum berkutat pada urusan dokumen dan hubungan interpersonal yang mengarah pada pengaturan bidang yang mereka tangani. Beban mereka cukup menguras pikiran dengan suasana yang kadang penuh ketegangan dan intrik. Timbul gaya hidup dan berbagai ciri kehidupan mereka seperti postur dan kondisi fisik diakibatkan oleh perbedaan pola makan dan gaya hidup lain seperti pilihan hiburan atau kecenderungan pada alkohol dan kurangnya olahraga.
II. DESKRIPSI
Perkantoran di era modern ini didefinisikan sebagai suatu lingkungan kerja dimana fungsinya untuk mengatur kerja operasional dari perusahaan. Strata sosial dalam komunitas perkantoran secara umum dapat digambarkan secara hirakhis seperti sebagai berikut:
Direktorat Komisaris
Bagian (manajerial)
Sub bidang (supervisor)
Tim kerja
Karyawan
Masing-masing bagian ini memiliki beban kerja dan kondisi kerja yang khas dan berbeda. Seperti direktur yang merupakan penanggung jawab tertinggi memiliki beban kerja yang tidak berat dan tingkat stress yang cukup rendah bila dibandingkan pihak manajerial. Kedua strata ini adalah strata yang mempunyai status sosial yang cukup baik di masyarakat dengan gaji yang baik pula.
Sedang bagian sub bidang cenderung untuk mempunyai tingkat stress cukup tinggi dalam posisinya sebagai penanggung jawab pelaksanaan secara teknis. Tim kerja dapat dikatakan sebagai sub unit terkecil dalam perkantoran yang menjadi ujung tombak pelaksana teknis organisasi. Tim inilah yang paling sering ditekan oleh pihak manajerial dengan berbagai target kerja yang kadang menguras pikiran mereka. Mereka jugalah yang berhadapan dengan pihak luar yang memakai jasa mereka. Tingkat stress yang berbeda ini juga membedakan teknik terapi dan penghilangan stress pada tiap strata.
III. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KERJA
Dalam lingkungan perkantoran terutama kita jumpai penyakit-penyakit yang tidak menular, namun tidak menutup kemungkinan munculnya penyakit menular yang penu-larannya didukung oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Ventilasi dan sistem pendingin ruangan (AC/ Air Conditioner)
Di indonesia, AC dipakai di banyak tempat termasuk lingkungan kerja. Apalagi penggunaan AC yang berfungsi kurang baik dapat meningkatkan kelembaban ruangan. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang disebut “Humidifier Fever”.
Timbulnya humidifier fever ini bisa terjadi karena perawatan AC yang tidak baik/teratur dan seringnya frekuensi pemakaian AC (±10jam/hari). Bila hal tersebut dibiarkan tanpa penanganan maka dapat menyebarkan penyakit keseluruh ruangan perkantoran tersebut.
2. Faktor Fisik
Yang termasuk faktor fisik disini bisa benda ataupun zat yang terdapat di kantor dan secara fisik dapat menularkan penyakit. Misalnya karpet yang biasa digunakan untuk melapisi ruangan ber-AC di perkantoran, apabila tidak dijaga kebersihannya maka dapat menimbulkan tumpukan debu halus yang bila tersebar terbawa angin dan terhirup pekerja kantoran akan mengganggu kesehatan.
3. Faktor Sanitasi
Seringkali kita jumpai di perkantoran disediakan minuman ataupun dapur bagi para pegawainya. Bila kebersihan air minum tersebut tidak terjaga maka dapat dapat juga menjadi salah satu faktor yang mendukung penyebaran penyakit.
Selain itu toilet bagi pekerja perkantoranpun harus dijaga kebersihannya agar jangan sampai menjadi sumber dan media penyebaran penyakit.
IV. INDENTIFIKASI MASALAH
Masalah kesehatan dalam lingkungan pekantoran tidak kalah dengan masalah kesehatan di pabrik-pabrik. Faktor-faktor yang mendorong timbulnya masalah tersebut antara lain:
1. Faktor Sosial Ekonomi
Salah satu masalah yang timbul yaitu stress, yang disebabkan karena terlalu banyaknya pekerjaan dan juga adanya konflik dengan rekan sesama karyawan atau dengan atasan. Stress ini termasuk dalam masalah kesehatan mental dan psikologi.
2. Faktor Resiko dan Gaya Hidup Pekerja Perkantoran
Gaya hidup yang salah sering menimbulkan masalah pada para pekerja, seperti:
? Karena terlalu sering duduk di belakang meja, sehingga aktivitas gerak mereka kurang. Hal tersebut dapat menyebabkan aliran darah kurang lancar sehingga timbul masalah pegal-pegal, linu di daerah punggung, pinggang, leher dan bahu.
? Kebiasaan lainnya seperti merokok, minum kopi, dan alkohol juga sering menimbulkan masalah.
? Kebiasaan makan makanan cepat saji (karena kurangnya waktu istirahat) sering menimbulkan masalah yang serius seperti stroke dan jantung koroner.
? Bagi operator komputer, sering timbul masalah dengan penglihatannya seperti mata perih, berair, dan mata merah
? Kebiasaan para pekerja untuk lembur dapat merangsang timbulnya stress akibat terlalu memaksakan diri dalam bekerja
3. Faktor Struktur Bangunan dan Lingkungan Kerja
Hal yang sering menimbulkan masalah antara lain : ventilasi, pencahayaan, dan sanitasi yang kurang memenuhi persyaratan. Sedangkan masalah kesehatan yang mungkin timbul antara lain : sesak nafas, asma, dan pneumoconeosis.
V. EPIDEMIOLOGI
Perkantoran di era modern ini didefinisikan sebagai suatu lingkungan kerja dimana fungsinya untuk mengatur kerja operasional dari perusahaan. Jadi sifatnya tidak terjun langsung ke lapangan namun sifatnya hanya sebagai “otak” dari suatu kegiatan perusahaan. Seringkali ditemukan permasalahan kesehatan pabrik, perkebunan, pertambangan, dan lain-lain, sedangkan masalah kesehatan kantor diabaikan. Hal tersebut disebabkan karena perkantoran seringkali diidentikkan dengan pekerjaan ringan yang hanya duduk dibalik meja serta berada didalam gedung yang dilengkapi dengan fasilitas untuk menunjang kerja dan kenyamanan bagi karyawan. Namun lingkungan seperti itu justru menimbulkan masalah tersendiri mengenai kesehatan para pekerja perkantoran. Pola kerja perkantoran sendiri cenderung lebih banyak mencurahkan pemikiran daripada kerja secara fisik sehingga juga dapat mendukung timbulnya masalah kesehatan psikis.
Canadian Institute Health Research (2004) menemukan fakta bahwa dari 70% pekerja kantor di negara industri yang bekerja di ruangan ber-AC sering menderita gejala-gejala seperti iritasi pada membran mukosa mata, tenggorokan dan hidung yang juga ditemukan pada gejala penyakit respirasi. Selain itu juga telah dilakukan penelitian risiko faktor fisik, kimia dan mikrobiologi terhadap terjadinya gangguan/keluhan sakit pada gedung bertingkat yang menggunakan AC sebagai penyejuk ruangan oleh Sukar antara tahun 1998 sampai 1999.
VI. MANIFESTASI KLINIS
Pada umumnya, penyakit yang sering muncul pada pekerja perkantoran dan perbankan adalah sress dan penyakit pernafasan. Beberapa penyakit yang sering mengenai para pekerja perkantoran tersebut antara lain :
1. Batuk
Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia, dan peradangan. Inhalasi debu, asap dan benda – benda asing kecil merupakan penyebab paling sering dari batuk. Perokok sering kali menderita batuk kronik karena terus menerus mengisap benda asing (asap) dan saluran nafasnya sering mengalami peradangan kronik.
Orang – orang yang bekerja pada perkantoran dan perbankan mempunyai resiko terkena batuk lebih besar. Hal ini disebabkan karena umumnya mereka bekerja pada suatu ruangan tertutup (ventilasi kurang), sehingga resiko inhalasi debu dan asap lebih besar. Hal ini diperparah apabila dalam ruangan tertutup tersebut terdapat perokok sehingga ruangan itu dipenuhi asap rokok.
2. Dispnea
Sering disebut sebagai sesak nafas, adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonal. Seorang yang mengalami dispnea sering mengeluh nafasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Dispnea merupakan keluhan yang biasa pada “syndrome hiperventilasi” pada orang – orang sehat yang mengalami stress emosi.
Orang – orang yang bekerja pada ruangan tertutup tentu saja memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami dispnea. Hal ini diperparah bila orang tersebut mempunyai rasa takut secara psikis bahwa dia tidak dapat memperoleh jumlah udara yang cukup. Seseorang menjadi sangat dispnea terutama akibat pembentukan karbondioksida yang berlebihan dalam cairan tubuh. Namun, pada suatu waktu karbondioksida dan oksigen dalam cairan tubuh dalam batas normal. Tetapi untuk mencapai gas – gas ini dalam batas normal, orang tersebut harus bernafas dengan kuat sekali. Pada keadaan seperti ini, aktivitas otot – otot pernafasan yang sering kali membuat seseorang merasa dalam keadaan dispnea berat.
3. Sianosis
Sianosis merupakan salah satu tanda pertukaran gas yang kurang memadai. Hal ini ditandai dengan warna kebiru – biruan pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan absolut hemoglobin tereduksi (hemoglobin yang tidak berikatan dengan O2). Dapat merupakan tanda insufisiensi pernafasan, meskipun bukan merupakan tanda yang diandalkan.
Ada 2 jenis sianosis: sianosis sentral dan sianosis perifer. Sianosis sentral disebabkan oleh insufisiensi oksigenasi hemoglobin dalam paru – paru, dan yang paling mudah diketahui pada wajah, bibir, cuping telinga serta bagian bawah lidah. Sianosis perifer akan terjadi apabila aliran darah banyak berkurang sehingga sangat menurunkan saturasi darah vena, dan akan menyebabkan suatu daerah menjadi biru. Sianosis perifer dapat terjadi akibat infusiensi jantung, sumbatan pada aliran darah, atau vasokonstriksi pembuluh darah akibat suhu yang dingin.
Pada orang yang bekerja di suatu perkantoran ataupun perbankan, sering terkena suhu yang dingin akibat penggunaan AC yang terus menerus dalam suatu ruangan kerja. Oleh sebab itu, orang – orang yang bekerja pada ruangan yang ber AC mempunyai resiko yang lebih besar terkena sianosis khususnya sianosis perifer
4. Empisema Paru Kronik
Empisema paru kronik yang dapat muncul bila seseorang menghisap asap rokok dalam jangka waktu yang lama. Orang – orang yang bekerja pada perkantoran yang ruangannya tidak ber–AC dan kebetulan di dalam ruangan tersebut terdapat perokok, maka seluruh pegawai dalam ruangan tersebut mempunyai resiko untuk terkena empisema paru kronik. Empisema paru kronik yang disebabkan oleh asap rokok ini diakibatkan oleh adanya bahan – bahan yang dapat mengiritasi bronkhus dan bronkhiolus. Bahan – bahan tersebut mengacaukan mekanisme pertahanan normal saluran pernafasan termasuk kelumpuhan sebagian silia epitel pernafasan oleh efek nikotin. Sehingga mukus tidak dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran nafas. Perangsangan sekresi mukus yag berlebihan yang selanjutnya mengakibatkan kekambuhan kondisi ini, dan hambatan terhadap makrofag alveolus sehingga menjadi kurang efektif dalam memerangi infeksi.
5. Stress Emosi
Selain penyakit pernafasan, orang – orang yang bekerja pada perkantoran ataupun perbankan juga mempunyai kecenderungan untuk mengalami stress emosi. Stress ini dapat disebabkan karena banyaknya pekerjaan yang dibebankan pada mereka, konflik dengan teman sekantor ataupun karena kebosanan terhadap pekerjaan yang monoton di kantor. Untuk menghindari terjadinya stress perlu diciptakan suatu suasana kerja yang harmonis dan variatif.
Suatu hal yang sering kita lupakan pada tinjauan aspek klinik adalah kedudukan pegawai wanita yang hamil. Dalam suatu perkantoran pada umumnya belum diatur secara jelas apa yang menjadi hak mereka. Misalnya, mereka berhak mendapat cuti selama berapa bulan. Namun, yang perlu diingat bahwa selama pegawai tersebut cuti hamil mereka tetap mendapatkan gaji secara utuh. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menetapkan suatu UU yang mengatur hal ini.
VII. STRATEGI PENANGGULANGAN
Dalam melakukan strategi penanggulangan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Proses Kerja
Agar proses kerja pada perkantoran modern berjalan optimal, maka proses kerja yang dilakukan harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan proses kerja diantaranya:
a. Sikap tubuh dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, alat petunjuk dan cara-cara dalam melayani mesin (gerak, arah dan kekuatan)
b. Untuk normalisasi ukuran mesin dan alat-alat kerja, harus diambil ukuran terbesar sebagai dasar serta diatur dengan suatu cara, sehingga ukuran tersebut dapat diperkecil dan dapat dipakai oleh tenaga kerja yang lebih kecil. Misalnya; kursi dapat dinaik turunkan, tempat duduk yang dapat dimaju-mundurkan, dll.
c. Dari sudut otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang, dinasehatkan untuk duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan pemilihan sikap duduk tegak diselingi istrirahat dengan sedikit membungkuk.
d. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk. Jika tidak mungkin, kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk duduk.
2. Pengendalian Lingkungan Kerja
a. Lingkungan fisik
• Pekerjaan yang memerlukan ketelitian harus mendapat penerangan yang intensitasnya tinggi (±1000 luks). Pekerjaan yang memerlukan perbedaan dalam waktu yang pendek dan kontras harus mendapat penerangan sedikitnya 3000 luks. Pekerjaan kasar yang tidak memerlukan penglihatan yang kritis harus mendapat penerangan sedikitnya 50 luks. Selain intensitas penerangan, kesilauan dan kedipan antara obyek kerja dan sekitarnya juga harus diperhatikan. Sumber cahaya lain selain dari matahari tidak boleh menimbulkan panas berlebihan atau merusak susunan udara sehingga mengakibatkan gangguan dalam bekerja.
• Membersihkan mesin atau peralatan lain (seperti AC) dari debu-debu yang bisa masuk per inhalasi dan mengganggu kesehatan secara rutin
• Mengatur kelembaban udara, pH, suhu sehingga mikroba dan jamur tidak tumbuh
b. Lingkungan sosial budaya
Menciptakan suasana perkantoran yang kondusif. Keharmonisan antar karyawan dan antar karyawan dengan atasan akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, selain itu bisa mengurangi penyakit yang sering menyerang karyawan yaitu stress.
3. Manajemen Pelayanan Kesehatan Kerja pada Karyawan
a) Primer level of prevention
Penyuluhan kesehatan yang dapat dilakukan diantaranya tentang gizi yang baik (karena kebanyakan pekerja perkantoran lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji akibat waktu istirahat yang terbatas, dimana makanan cepat saji ini disinyalir menjadi penyebab stroke dan penyakit jantung koroner), sanitasi individu dan lingkungan kerja, kebiasaan hidup sehat dan kegiatan sosial/rekreasi serta spiritual
b) Secondary level
Early diagnosis terhadap karyawan sehingga jika dimungkinkan adanya penyakit kerja maka akan segera diketahui dan diterapi. Sehingga fungsi tubuh bisa cepat kembali dan tidak menimbulkan kecacatan
c) Rehabilitation
4. Sistem Manajemen
? Kebijakan perusahaan dalam pemberian upah yang sesuai sehingga karyawan tidak mencari kerja sambilan yang akan mengganggu produktivitas kerja dan juga kesehatannya
? Pengadaan sarana kesehatan yang memadai seperti klinik, rumah sakit dan yang lainnya
? Pemberlakuan sangsi bagi pekerja yang melanggar aturan kesehatan dan keselamatan kerja
? Adanya pembagian shift ataupun kerja malam secara proporsional, karena pada pekerja malam (lemburan) akan menyebabkan:
a. Irama faal terganggu
b. Adanya ketidakseimbangan elektrolit tubuh
c. Kelelahan yang sangat akibat kuatnya kerja parasimpatis dibanding simpatis
? Adanya kebijakan bahwa pekerja dalam sehari tujuh jam dan 35 jam dalam seminggu
5. Pelaksanaan UU yang berhubungan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(a) UU Kerja No. 3
“Tiap-tiap minggu harus diadakan sedikitnya sehari untuk istirahat”
(b) PP Menaker No. 7 Tahun 1964
? Memenuhi ukuran yang sesuai dengan tubuh tenaga kerja kita dan sesuai dengan bentuknya
? Nyaman sehingga menghindarkan ketegangan otot dan kelesuan yang berlebihan
? Memudahkan gerakan untuk bekerja, harus ada sandaran punggung
(c) UU No. 14 Tahun 1969 tentang ketentuan pokok tenaga kerja
Memuat ketentuan pokok tenaga kerja, mengatur hygiene perusahan dan kesehatan kerja
(d) Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1951
“Buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jikalau pekerjaan dilakukan malam hari atau berbahaya bagi kesehatan atau keselamatan buruh, waktu kerja tidak boleh lebih dari 6 jam sehari dan 35 jam seminggu” (Pasal 10 Ayat 1)
DAFTAR PUSTAKA
Canadian Institute Health Research, 2004. Ultra-violet Irradiation Could Reduce Office Sickness. (Online). (http://www.sk.lung.ca/content.cfm?edit_realword=xtra0129), diakses tanggal 9 April 2005.
Sukar, 1999. Sindroma Penyakit pada Gedung Bertingkat. (Online). (http://www.litbang.depkes.go.id/ekologi/abstrak_98-99.htm - 113k), diakses tanggal 9 April 2004.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN PENDEKATAN FISIOBIOLOGI
PENDAHULUAN
a. Semua sel dalam tubuh akan menghasilkan energi yang digunakan menyelenggarakan FUNGSI SELULERNYA.
b. Energi di dapat melalui metabolisme zat makanan (gula / glukosa) dalam rangkaian reaksi kimia dengan menggunakan OKSIGEN.
c. Reaksi kimia menghasilkan energi, air, CO2
d. < O2 ? sel mendapatenergi dari glikolisis anaerob menghasilkan energi dalam jumlah sedikit dan asam laktat
e. Glikoliis anaerob berlangsung lama menyebabkan timbunan asam laktat akan merubah situasi cairan tubuh menjadi lebih asam menyebabkan aktivitas sel ?
f. Dampak ? aktivitas sel : hilangnya nafsumakan, ? urine output, pusing, nyeri kepala, wajah nampak ngantuk, cemas, lelah ? lebih berat : ? tingkat kesadaran ? ? koma (diawali klien gelisah & tidak kooperatif)
OKSIGEN : KEBUTUHAN DASAR YANG PALING VITAL DALAM KEHIDUPAN
OKIGENASI :
Proses mendapatkan O2 dan mengeluarkan CO2
Melibatkan sistem pernafasan dan kardiovaskuler
3 Tahapan :
1. Ventilasi Paru
2. Difusi Gas
3. Transportasi Gas
VENTILASI PARU
Masuknya O2 atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya CO2 dari alveoli ke atmosfir terjadi saat respirasi (inspirasi – ekspirasi).
Dipengaruhi oleh :
1. Tekanan O2 atmosfir
2. Keadaan saluran nafas
3. Compliance & recoil
4. Pengaruh nafas
Tekanan O2 Atmosfer :
1. Merupakan jumlah tekanan berbagai gas yang terkandung dalam udara.
2. Saat inspirasi tekanan udara atmosfir yang rendah ? masuk ka alveolus.
Keadaan saluran nafas :
Inspirasi & ekspirasi ? udara melewati saluran nafas (hidung, pharynx, larynx, trachea, bronchus, bronchiolus, alveoli).
Penyebab jalan nafas menjadi lebih sempit / tersumbat ? secret lebih/kental, spasme/kontriksi, benda asing/ masa di saluran nafas / di luar saluran nafas.
Complience & Recoil
1. Daya pengembangan dan pengempisan paru & thorak
2. Kemampuan terbentuk oleh :
a. Gerakan turun naik diafragma melalui kontraksi & relaksasi otot diafragma.
b. Elevasi & depresi iga-iga untuk ? & ? diameter anteroposterior rongga dada melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot respirasi.
c. Elastisitas jaringan paru memungkinkan alveolus mengembang dan mengempis.
d. Adanya surfaktan (zat phospholipids yang meliputi permukaan alveoli) paru-paru mudah dikembangkan & mencegah kolap paru.
Pengaturan Nafas
1. Pusat pengaturan respirasi : medulla oblongata & Pons.
2. Pusat nafas terangsang oleh ? CO2 seluruh tubuh.
Ners dituntut : dapat mengidentifikasi kemampuan ventilasi paru klien dan memperkirakan faktor penyebab yang menghambat ventilasi
Kebutuhan Oksigen dipengaruhi oleh :
1. Ketinggian
Dataran tinggi : tekanan darah ? ? tekanan oksigen ?
Sebaliknya
2. Lingkungan
Lingkungan panas dan dingin mempengaruhi kebutuhan seseorang terhadap oksigen.
3. Latihan
Latihan fisik mempengaruhi ? denyut jantung dan respirasi sehingga ? kebutuhan oksigen.
4. Emosi
Takut, cemas, marah merangsang aktivitas simpatis menyebabkan ? denyut jantung frekuensi resp. sehingga kebutuhan oksigen ?
5. Status Kesehatan
Gangguan pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler dapat mempengaruhi kebutuhan oksigen.
6. Gaya Hidup:
Kebiasaan merokok mempengaruhi keadaan pemenuhan oksigen seseorang
PENGKAJIAN
A Keadaan saluran nafas
Apakah klien merasa sesak / kesulitan bernafas ?
Adakah ? frekuensi / tipe pernafasan ?
Apakah klien batuk ? (sputum, hemoptisis)
Bagaimana suara nafasnya ?
? + vesikuler
? + suara nafas tambahan : snoring (ngorok), gargling (seperti suara kumur-kumur), crowing (lengking).
Inspeksi adanya retraksi sternokleidomastoid
Auskultasi Paru : wheezing (penyempatan jalan nafas), rales (? kelembapan saluran nafas), ronchi (akumulasi secret).
Palpasi daerah leher : pembesaran thyroid
Nyeri daerah thorak / abdomen ? menghalangi kemampuan batuk.
B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
a. Penumpkkan secret / secret yangkental / benda asing.
b. Trauma ? menghalangi batuk ekspansi dada / paru dan batuk
c. Tidak sadar (pengaruh anestesi) / koma ? menyebabkan relaksasi otot-otot
d. Penyakit yang mengganggu kemampuan batuk / pengeluaran secret
e. Tidak adekuat hidrasi
f. Penyakit paru ? penumpukan secret.
Manifestasi Klinis
a. Suara nafas abnormal
b. Batuk produktif dengan secret berlebihan
c. Batuk tidak produktif
d. Sianosis
e. Dispnea
f. Retraksi otot sternokleidomastoid
g. Perubahan rate & kedalaman pernafasan
Intervensi
Intervensi yang tepat tergantung faktor penyebab ? secara umum menghemat penggunaan oksigen istirahat.
a. Penumpukan secret:
1. Secret kental:
a. Berikan cairan yang adekuat bila tidak ada kontra indikasi
b. Humidifikasi / nebulisasi
c. Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran
2. Secret berada pada saluran nafas besar (sampai dengan brochus):
a. Latihan batuk efektif jika klien sadar, kooperatif dan punya kemampuan untuk batuk
b. Jika tidak bisa batuk karena nyeri thorak / abdomen (pembedahan / trauma) ? kolaborasi anti nyeri.
c. Jika tidak bisa batuk lakukan pengisapan lendir.
3. Secret terdapat pada percabangan saluran nafas yang kecil / alveoli: Lakukan fisioterapi dada dengan drainage postural, kemudian batuk efektif atau pengisapan lendir.
b. Tersumbat obstruksi :
1) Oleh lidah yang jatuh kebelakang pada klien koma / pengaruh anestesi, trauma ? obstruksi sal nafas bagian atas ? lakukan pemasangan oropharyngeal tube (mouth tube / goedel).
2) Tersumbat oleh masa, trauma / penyakit yang menyebabkan tertutup atau menyempitnya jalan nafas bawah pharynx ? kolaborasi pemasangan endotracheal tube / tracheotomy.
3) Akibat infeksi akut, alergi yang menyebabkan spasme bronchial & edema atau bronchokontriki ? kolaborasi pemberian kortikoteroid, anti alergi atau bronchodilator.
Kemampuan compliance & recoil thorak dan paru, dilakukan dengan pemeriksaan.
a) Apakah klien mengalami kesulitan bernafas
b) Pemeriksaan fisik
1) Apakah klien mengalami kesulitan bernafas?
2) Pemeriksaan fisik
Inspeksi :
? Penggunaan otot-otot pernafasan tambahan ? menandakan kesulitan pengembangan dada / paru akan terjadi karena penyempitan jalan nafas / gangguan pengembangan covum thoraks / kesulitan pengembangan paru / kesimetrisan pengembangan dada.
? Frekuensi, irama, kedalaman resp & rasio insp: eksp.
? Adakah distensi abdomen yang akan menghalangi ? diafragma.
Auskultasi :
? Bandingkan suara aliran udara paru kiri dan kanan.
? Adakah suara nafas tambahan (rales, wheezing, rochi) yang akan mengganggu kemampuan compliance paru.
Palpasi :
? Keadaan tulang iga, adakah fraktur?
? Vokal fremitus?
Perkusi :
Adakah perubahan suara perkusi diatas area paru
a) Adakah klien mengalami masalah pada hub saraf – otot atau masalah sistem saraf?
b) Adakah klien mengalami nyeri abdomen / thorak? Keadaan nyeri akan menghalangi pengembangan paru.
c) Apakah mampu melakukan aktivitas / immobilisasi ?
d) Apakah ada riwayat trauma kepala / penggunaan obat-obat narkotik yang menekan pusat nafas?
e) Hasil analisa gas darah?
C DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan:
a. Obstruksi jalan nafas
b. Ekspansi dada yang tidak adekuat ? karena imobilisasi, nyeri dada / abdomen.
c. Gangguan neuromuskuler
d. Penyakit paru kronis akanmenyebabkan penumpukan udara / cairan pada rongga pleura
e. ? pengeluaran CO2 karena penyakit paru tertentu (empisema).
2. Manifestasi klinis
a. Dispnea
b. ? frekuensi pernafasan
c. perubahan kedalam pernafasan
d. perubahan rasio inspirasi : ekspirasi
e. retraksi dada
D Intervensi
a. Intervensi yang sifatnya umum untuk semua perubahan pola nafas :
Posisi semi fowler / fowler ? ? kapasitas vital paru
Perubahan posisi memberikan kesempatan semua alveoli berkembang secara optimal.
Ambulasi / exercise mempengaruhi ? pembentukan energi untuk bernafas & CO2 yang akan merangsang pusat nafas.
b. Intervensi spesifik
Latihan nafas dalam ? untuk pasien dengan pernafasan cepat dan dangkal ? mencegah ateletaksis.
Latihan pursed lip breathing ? latihan nafas diafragma / menggunakan incentive spirometers ? untuk pasien dengan hambatan dalam ekspirasi / retensi CO2.
c. Intervensi medis
Pemasangan WSD ? untuk ? tekanan intra pleura akibat efusi pleura, pneumothorax yang mengganggu pengembangan paru
Pemasangan fiksasi ? klien dengan multiple fraktur costae.
Pemasangan ventilator / respirator / IPPB ? klien yang mengalami kesulitan nafas akibat gangguan pada hubungan saraf – otot / gangguan sistem saraf.
E DIFUSI GAS
Pertukaran antara O2 dan CO2 alveoli dengan kapiler paru.
Dipengaruhi oleh
1) Ketebalan membran respirasi
2) Luas permukaan membran
3) Koefisien difusi
4) Perbedaan tekanan
Kemampuan difusi gas antara alveoli dengan kapiler paru
Pemeriksaan :
1. KETEBALAN MEMBRAN RESPIRASI
Inspeksi :
a. Retraksi Intercostals, Retraksi Substernal (klien dengan edema paru / radang paru akut)
b. Pernafasan cepat dan dangkal
c. Pernafasan cuping hidung
Auskultasi Suara Paru
Rales (edema paru / radang paru akut)
2. PERUBAHAN LUAS PERMUKAAN PARU :
a. Adakah riwayat operasi ? pengangkatan lobus paru
b. Hasil pemeriksaan thorak photo
3. PERKIRAAN TEKANAN GAS PADA ALVEOLI
Tanda – tanda hambatan ventilasi
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan pertukaran gas aperfusi jaringan tidak adekuat, berhubungan dengan:
a. Edema Paru
b. Congesti paru
Dengan manifestasi klinis :
a. Hipoventilasi
b. ? kesadaran
c. Sianosis
d. Ekstremitas dingin dan lembab
e. Gas darah abnormal
Intervensi
1) Istirahat ? untuk menghemat penggunaan oksigen (intervensi utama)
2) Pemberian Oksigen ? untuk perbedaan konsentrasi / tekanan oksigen antara alveoli dengan kapiler.
3) membatasi intake cairan (pada klien dengan edema paru)
4) Ambulasi ? untuk ? sirkulasi yang akan memperbaiki rtio perfusi – ventilasi.
5) Kolaborasi : antibiotik (khusus pada klien radang akut parenkim paru.
6) ? Intake protein melalui oral / pemberian plasma albumin (khusus pada hipoalbuminemia)
TRANSPORTASI GAS
Untuk transportasi gas (O2 dan CO2) ditentukan oleh aktivitas sistem kardiovaskuler
Transportasi Oksigen
Oksigen dapat di transport dari kapiler paru ke jaringan-jaringan melalui 2 cara :
a. Secara fisik ? larut dalam plasma (3%)
b. Secara kimia ? berikatan dengan Hb dalam bentuk oxyhemoglobin / HbO2 (97%)
c.
Transport CO2
Transport dari jaringan ke paru-paru kemudian dibuang ke atmosfer, dilakukan dengan cara :
a. Secara fisik ? larut dalam plasma (5%)
b. Secara kimia ? bergabung dengan Hb membentuk carbaminohemoglobin (30%)
c. Berikatan dengan air kemudian membentuk bicarbonat plasma (65%).
Dalam keadaan istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah di transport dari jaringan ke paru-paru
CO2 penting bagi keseimbangan asam basa
Transport gas dipengaruhi oleh:
Curah jantung
N. dewasa CO 5lt ? melalui darah di transport sekitar 5 ml O2 dan 4 ml CO2 per 100 ml darah ? curah jantung ? kecepatan transport O2 ke jaringan dan CO2 dari jaringan.
Jumlah eritrosit
O2 di transport secara kimia berikatan dengan Hb yang terdapat dalam eritrosit ? ? eritrosit dan konsentrasi Hb ? ? transportasi oksigen.
Exercise
Pada gerak badan berat / atlet terlatih ? kecepatan transport O2 ke jaringan ? 15 – 20 kali dari normal
Exercise ? produksi CO2 ? merangsang pusat nafas dan ? kecepatan denyut jantung ? sehingga mempercepat pengiriman CO2 keluar tubuh.
Hematokrit darah:
? HCT >> akan ? viscositas darah ? sehingga beban jantung ? yang mengakibatkan ? curah jantung.
? HCT menggambarkan jumlah cairan <, sementara 65% CO2 di transport dalam keadaan b erikatan H2O
? HCT menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah menyebabkan ? transportasi O2.
Keadaan pembuluh darah
Sumbatan / penyempitan pembuluh darah (ex. Arteriosclerosis O2 ke jaringan sumbatan vena akan ?pengiriman CO2 ke jaringan.
Untuk memperkirakan transportasi gas ? dilakukan pemeriksaan:
1. Evaluasi curah jantung :
Apakah klien mengalami :
a. Nafas pedek?
b. Kelelahan
c. Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
Amati sirkulasi perifer
a. Adakah perasaan tak nyaman pada dada
b. Adakah ?/? BB?
c. Adakah pembengkakan ekstremitas ?
d. Adakah klien mengeluh pusing, sakit kepala, palpitasi ?
e. Berapa jumlah urine out put ? (N. 1 – 2 ml /kg BB/Jam)
f. Amati status mental / tingkat kesadaran klien.
Perkiraan keadaan otot jantung
a. Pemeriksaan serum enzim
b. Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan suara jantung
a. S1 – S2
b. Suara jantung tambahan : S3, S4, murmur
Lakukan pemeriksaan
a. Tekanan darah pada berbagai posisi (N. 5 – 10 mmHg)
b. Hitung pulse pressure
c. Radial pulse
d. Frekuensi denyut jantung
e. CTR
f. CVP
g. Adanya distensi vena jugularis
h. Adanya hepato jugular
i. Reflux
j. Serum elektrolit
2. Evaluasi Jumlah Eritrosit dan Hb
3. Evaluasi keadaan cairan tubuh
Periksa tekanan darah
Periksa HCT dan bandingkan dengan Hb (N = 3 x Hb)
Amati tanda-tanda > / < cairan
4. Evaluasi Kondisi Pembuluh Darah
Sumbatan arteri
Area distal sumbatan menjadi :
a. Pucat atau sianosis
b. Pada rabaan dingin
c. Klien mengeluh nyeri terutama saat digerakkan
d. Kulit nampak kering
e. Nadi kadang-kadang tak teraba
Sumbatan vena
Area proximal sumbatan:
a. Kemerahan
b. Pada rabaan panas
c. Klien mengeluh nyeri
d. Tampak bengkak
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Hambatan transportasi gas berhubungan dengan defisiensi hemoglobin,
Manifestasi klinis:
a. Mudah lelah
b. Pusing/sakit kepala
Intervensi
a. Kolaborasi dengan medis ? pemberian transfusi darah (jika diperlukan)
b. Perbaikan diet (TKTP) dan banyak mengkonsumsi sayuran berchlorophyl.
2. Perubahan curah jantung berhubungan dengan:
Disfusi jantung akibat penyakit pada a. coronaria, penyakit katup, abnormal struktur, kegagalan konduksi
? volume cairan intravaskuler
Cardiac arrest
Imbalance elektrolit
Manifestasi Klinis
Arrhythmia jantung
Perubahan tekanan darah
Adanya abnormalitas suara jantung : S3, S4, murmur.
Pucat cianosis pada kulit dan mukosa membran
Kulit dingin dan lembab
Batuk dengan sputum berbercak kemerahan
Abnormalitas elektrolit terutama kalium
Intervensi Kep:
Untuk mengatasi masalah ? curah jantung ? >> intervensi medis yang sangat spesifik sesuai dengan penyebabnya. Ners melakukan intervensi sebagai implikasi dari intervensi medis,
Misalnya :
A Disfungsi Jantung (payah jantung)
Intervensi Keperawatan:
a. Istirahat kan menghemat Oksigen
b. Batasi intake cairan (jumlah out put + insensible water loss)
c. Batasi intake natrium
Intervensi Medis
a. Pemberian digoxin berpengaruh ? kekuatan kontraksi jantung (efek inotropik +) sehingga isi sekuncup ? yang menyebabkan denyut jantung ?
b. Pada hipokalemia mempengaruhi digoxin akan menyebabkan arrytmia, efek samping lain: mual, muntah, nyeri kepala, diare.
Implikasi Keperawatan
a. Sebelum pemberian digoxin; periksa denyut jantung (jika DJ sekitar 60 – 80 x/menit ? kolaborasi untuk perubahan dosis atau dihentikan sementara?).
b. Periksa serum Kalium (jika serum kalium, 3,5 mEq/I ? koreksi Kalium
c. Sesudah pemberian : amati tanda-tanda efek samping obat.
B Penurunan Cairan Intravaskuler
Intervensi medis
Pemberian cairan melalui intravenous line (infus) sesuai dengan kebutuhan.
Implikasi Keperawatan :
a. Tentukan tempat pemasangan sesuai dengan jenis cairan dan perkirakan lamanya pemasangan infus.
b. Observasi kecepatan cairan dan lokasi pemasangan
c. Catat intake dan out put
d. Observasi tanda-tanda kecukupan cairan
C Cardiac Arrest :
Intervensi :Resusitasi cardio – pulmo cerebral
D Imbalance elektrolit :
Intervensi : koreksi elektrolit
a. Semua sel dalam tubuh akan menghasilkan energi yang digunakan menyelenggarakan FUNGSI SELULERNYA.
b. Energi di dapat melalui metabolisme zat makanan (gula / glukosa) dalam rangkaian reaksi kimia dengan menggunakan OKSIGEN.
c. Reaksi kimia menghasilkan energi, air, CO2
d. < O2 ? sel mendapatenergi dari glikolisis anaerob menghasilkan energi dalam jumlah sedikit dan asam laktat
e. Glikoliis anaerob berlangsung lama menyebabkan timbunan asam laktat akan merubah situasi cairan tubuh menjadi lebih asam menyebabkan aktivitas sel ?
f. Dampak ? aktivitas sel : hilangnya nafsumakan, ? urine output, pusing, nyeri kepala, wajah nampak ngantuk, cemas, lelah ? lebih berat : ? tingkat kesadaran ? ? koma (diawali klien gelisah & tidak kooperatif)
OKSIGEN : KEBUTUHAN DASAR YANG PALING VITAL DALAM KEHIDUPAN
OKIGENASI :
Proses mendapatkan O2 dan mengeluarkan CO2
Melibatkan sistem pernafasan dan kardiovaskuler
3 Tahapan :
1. Ventilasi Paru
2. Difusi Gas
3. Transportasi Gas
VENTILASI PARU
Masuknya O2 atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya CO2 dari alveoli ke atmosfir terjadi saat respirasi (inspirasi – ekspirasi).
Dipengaruhi oleh :
1. Tekanan O2 atmosfir
2. Keadaan saluran nafas
3. Compliance & recoil
4. Pengaruh nafas
Tekanan O2 Atmosfer :
1. Merupakan jumlah tekanan berbagai gas yang terkandung dalam udara.
2. Saat inspirasi tekanan udara atmosfir yang rendah ? masuk ka alveolus.
Keadaan saluran nafas :
Inspirasi & ekspirasi ? udara melewati saluran nafas (hidung, pharynx, larynx, trachea, bronchus, bronchiolus, alveoli).
Penyebab jalan nafas menjadi lebih sempit / tersumbat ? secret lebih/kental, spasme/kontriksi, benda asing/ masa di saluran nafas / di luar saluran nafas.
Complience & Recoil
1. Daya pengembangan dan pengempisan paru & thorak
2. Kemampuan terbentuk oleh :
a. Gerakan turun naik diafragma melalui kontraksi & relaksasi otot diafragma.
b. Elevasi & depresi iga-iga untuk ? & ? diameter anteroposterior rongga dada melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot respirasi.
c. Elastisitas jaringan paru memungkinkan alveolus mengembang dan mengempis.
d. Adanya surfaktan (zat phospholipids yang meliputi permukaan alveoli) paru-paru mudah dikembangkan & mencegah kolap paru.
Pengaturan Nafas
1. Pusat pengaturan respirasi : medulla oblongata & Pons.
2. Pusat nafas terangsang oleh ? CO2 seluruh tubuh.
Ners dituntut : dapat mengidentifikasi kemampuan ventilasi paru klien dan memperkirakan faktor penyebab yang menghambat ventilasi
Kebutuhan Oksigen dipengaruhi oleh :
1. Ketinggian
Dataran tinggi : tekanan darah ? ? tekanan oksigen ?
Sebaliknya
2. Lingkungan
Lingkungan panas dan dingin mempengaruhi kebutuhan seseorang terhadap oksigen.
3. Latihan
Latihan fisik mempengaruhi ? denyut jantung dan respirasi sehingga ? kebutuhan oksigen.
4. Emosi
Takut, cemas, marah merangsang aktivitas simpatis menyebabkan ? denyut jantung frekuensi resp. sehingga kebutuhan oksigen ?
5. Status Kesehatan
Gangguan pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler dapat mempengaruhi kebutuhan oksigen.
6. Gaya Hidup:
Kebiasaan merokok mempengaruhi keadaan pemenuhan oksigen seseorang
PENGKAJIAN
A Keadaan saluran nafas
Apakah klien merasa sesak / kesulitan bernafas ?
Adakah ? frekuensi / tipe pernafasan ?
Apakah klien batuk ? (sputum, hemoptisis)
Bagaimana suara nafasnya ?
? + vesikuler
? + suara nafas tambahan : snoring (ngorok), gargling (seperti suara kumur-kumur), crowing (lengking).
Inspeksi adanya retraksi sternokleidomastoid
Auskultasi Paru : wheezing (penyempatan jalan nafas), rales (? kelembapan saluran nafas), ronchi (akumulasi secret).
Palpasi daerah leher : pembesaran thyroid
Nyeri daerah thorak / abdomen ? menghalangi kemampuan batuk.
B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
a. Penumpkkan secret / secret yangkental / benda asing.
b. Trauma ? menghalangi batuk ekspansi dada / paru dan batuk
c. Tidak sadar (pengaruh anestesi) / koma ? menyebabkan relaksasi otot-otot
d. Penyakit yang mengganggu kemampuan batuk / pengeluaran secret
e. Tidak adekuat hidrasi
f. Penyakit paru ? penumpukan secret.
Manifestasi Klinis
a. Suara nafas abnormal
b. Batuk produktif dengan secret berlebihan
c. Batuk tidak produktif
d. Sianosis
e. Dispnea
f. Retraksi otot sternokleidomastoid
g. Perubahan rate & kedalaman pernafasan
Intervensi
Intervensi yang tepat tergantung faktor penyebab ? secara umum menghemat penggunaan oksigen istirahat.
a. Penumpukan secret:
1. Secret kental:
a. Berikan cairan yang adekuat bila tidak ada kontra indikasi
b. Humidifikasi / nebulisasi
c. Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran
2. Secret berada pada saluran nafas besar (sampai dengan brochus):
a. Latihan batuk efektif jika klien sadar, kooperatif dan punya kemampuan untuk batuk
b. Jika tidak bisa batuk karena nyeri thorak / abdomen (pembedahan / trauma) ? kolaborasi anti nyeri.
c. Jika tidak bisa batuk lakukan pengisapan lendir.
3. Secret terdapat pada percabangan saluran nafas yang kecil / alveoli: Lakukan fisioterapi dada dengan drainage postural, kemudian batuk efektif atau pengisapan lendir.
b. Tersumbat obstruksi :
1) Oleh lidah yang jatuh kebelakang pada klien koma / pengaruh anestesi, trauma ? obstruksi sal nafas bagian atas ? lakukan pemasangan oropharyngeal tube (mouth tube / goedel).
2) Tersumbat oleh masa, trauma / penyakit yang menyebabkan tertutup atau menyempitnya jalan nafas bawah pharynx ? kolaborasi pemasangan endotracheal tube / tracheotomy.
3) Akibat infeksi akut, alergi yang menyebabkan spasme bronchial & edema atau bronchokontriki ? kolaborasi pemberian kortikoteroid, anti alergi atau bronchodilator.
Kemampuan compliance & recoil thorak dan paru, dilakukan dengan pemeriksaan.
a) Apakah klien mengalami kesulitan bernafas
b) Pemeriksaan fisik
1) Apakah klien mengalami kesulitan bernafas?
2) Pemeriksaan fisik
Inspeksi :
? Penggunaan otot-otot pernafasan tambahan ? menandakan kesulitan pengembangan dada / paru akan terjadi karena penyempitan jalan nafas / gangguan pengembangan covum thoraks / kesulitan pengembangan paru / kesimetrisan pengembangan dada.
? Frekuensi, irama, kedalaman resp & rasio insp: eksp.
? Adakah distensi abdomen yang akan menghalangi ? diafragma.
Auskultasi :
? Bandingkan suara aliran udara paru kiri dan kanan.
? Adakah suara nafas tambahan (rales, wheezing, rochi) yang akan mengganggu kemampuan compliance paru.
Palpasi :
? Keadaan tulang iga, adakah fraktur?
? Vokal fremitus?
Perkusi :
Adakah perubahan suara perkusi diatas area paru
a) Adakah klien mengalami masalah pada hub saraf – otot atau masalah sistem saraf?
b) Adakah klien mengalami nyeri abdomen / thorak? Keadaan nyeri akan menghalangi pengembangan paru.
c) Apakah mampu melakukan aktivitas / immobilisasi ?
d) Apakah ada riwayat trauma kepala / penggunaan obat-obat narkotik yang menekan pusat nafas?
e) Hasil analisa gas darah?
C DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan:
a. Obstruksi jalan nafas
b. Ekspansi dada yang tidak adekuat ? karena imobilisasi, nyeri dada / abdomen.
c. Gangguan neuromuskuler
d. Penyakit paru kronis akanmenyebabkan penumpukan udara / cairan pada rongga pleura
e. ? pengeluaran CO2 karena penyakit paru tertentu (empisema).
2. Manifestasi klinis
a. Dispnea
b. ? frekuensi pernafasan
c. perubahan kedalam pernafasan
d. perubahan rasio inspirasi : ekspirasi
e. retraksi dada
D Intervensi
a. Intervensi yang sifatnya umum untuk semua perubahan pola nafas :
Posisi semi fowler / fowler ? ? kapasitas vital paru
Perubahan posisi memberikan kesempatan semua alveoli berkembang secara optimal.
Ambulasi / exercise mempengaruhi ? pembentukan energi untuk bernafas & CO2 yang akan merangsang pusat nafas.
b. Intervensi spesifik
Latihan nafas dalam ? untuk pasien dengan pernafasan cepat dan dangkal ? mencegah ateletaksis.
Latihan pursed lip breathing ? latihan nafas diafragma / menggunakan incentive spirometers ? untuk pasien dengan hambatan dalam ekspirasi / retensi CO2.
c. Intervensi medis
Pemasangan WSD ? untuk ? tekanan intra pleura akibat efusi pleura, pneumothorax yang mengganggu pengembangan paru
Pemasangan fiksasi ? klien dengan multiple fraktur costae.
Pemasangan ventilator / respirator / IPPB ? klien yang mengalami kesulitan nafas akibat gangguan pada hubungan saraf – otot / gangguan sistem saraf.
E DIFUSI GAS
Pertukaran antara O2 dan CO2 alveoli dengan kapiler paru.
Dipengaruhi oleh
1) Ketebalan membran respirasi
2) Luas permukaan membran
3) Koefisien difusi
4) Perbedaan tekanan
Kemampuan difusi gas antara alveoli dengan kapiler paru
Pemeriksaan :
1. KETEBALAN MEMBRAN RESPIRASI
Inspeksi :
a. Retraksi Intercostals, Retraksi Substernal (klien dengan edema paru / radang paru akut)
b. Pernafasan cepat dan dangkal
c. Pernafasan cuping hidung
Auskultasi Suara Paru
Rales (edema paru / radang paru akut)
2. PERUBAHAN LUAS PERMUKAAN PARU :
a. Adakah riwayat operasi ? pengangkatan lobus paru
b. Hasil pemeriksaan thorak photo
3. PERKIRAAN TEKANAN GAS PADA ALVEOLI
Tanda – tanda hambatan ventilasi
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan pertukaran gas aperfusi jaringan tidak adekuat, berhubungan dengan:
a. Edema Paru
b. Congesti paru
Dengan manifestasi klinis :
a. Hipoventilasi
b. ? kesadaran
c. Sianosis
d. Ekstremitas dingin dan lembab
e. Gas darah abnormal
Intervensi
1) Istirahat ? untuk menghemat penggunaan oksigen (intervensi utama)
2) Pemberian Oksigen ? untuk perbedaan konsentrasi / tekanan oksigen antara alveoli dengan kapiler.
3) membatasi intake cairan (pada klien dengan edema paru)
4) Ambulasi ? untuk ? sirkulasi yang akan memperbaiki rtio perfusi – ventilasi.
5) Kolaborasi : antibiotik (khusus pada klien radang akut parenkim paru.
6) ? Intake protein melalui oral / pemberian plasma albumin (khusus pada hipoalbuminemia)
TRANSPORTASI GAS
Untuk transportasi gas (O2 dan CO2) ditentukan oleh aktivitas sistem kardiovaskuler
Transportasi Oksigen
Oksigen dapat di transport dari kapiler paru ke jaringan-jaringan melalui 2 cara :
a. Secara fisik ? larut dalam plasma (3%)
b. Secara kimia ? berikatan dengan Hb dalam bentuk oxyhemoglobin / HbO2 (97%)
c.
Transport CO2
Transport dari jaringan ke paru-paru kemudian dibuang ke atmosfer, dilakukan dengan cara :
a. Secara fisik ? larut dalam plasma (5%)
b. Secara kimia ? bergabung dengan Hb membentuk carbaminohemoglobin (30%)
c. Berikatan dengan air kemudian membentuk bicarbonat plasma (65%).
Dalam keadaan istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah di transport dari jaringan ke paru-paru
CO2 penting bagi keseimbangan asam basa
Transport gas dipengaruhi oleh:
Curah jantung
N. dewasa CO 5lt ? melalui darah di transport sekitar 5 ml O2 dan 4 ml CO2 per 100 ml darah ? curah jantung ? kecepatan transport O2 ke jaringan dan CO2 dari jaringan.
Jumlah eritrosit
O2 di transport secara kimia berikatan dengan Hb yang terdapat dalam eritrosit ? ? eritrosit dan konsentrasi Hb ? ? transportasi oksigen.
Exercise
Pada gerak badan berat / atlet terlatih ? kecepatan transport O2 ke jaringan ? 15 – 20 kali dari normal
Exercise ? produksi CO2 ? merangsang pusat nafas dan ? kecepatan denyut jantung ? sehingga mempercepat pengiriman CO2 keluar tubuh.
Hematokrit darah:
? HCT >> akan ? viscositas darah ? sehingga beban jantung ? yang mengakibatkan ? curah jantung.
? HCT menggambarkan jumlah cairan <, sementara 65% CO2 di transport dalam keadaan b erikatan H2O
? HCT menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah menyebabkan ? transportasi O2.
Keadaan pembuluh darah
Sumbatan / penyempitan pembuluh darah (ex. Arteriosclerosis O2 ke jaringan sumbatan vena akan ?pengiriman CO2 ke jaringan.
Untuk memperkirakan transportasi gas ? dilakukan pemeriksaan:
1. Evaluasi curah jantung :
Apakah klien mengalami :
a. Nafas pedek?
b. Kelelahan
c. Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
Amati sirkulasi perifer
a. Adakah perasaan tak nyaman pada dada
b. Adakah ?/? BB?
c. Adakah pembengkakan ekstremitas ?
d. Adakah klien mengeluh pusing, sakit kepala, palpitasi ?
e. Berapa jumlah urine out put ? (N. 1 – 2 ml /kg BB/Jam)
f. Amati status mental / tingkat kesadaran klien.
Perkiraan keadaan otot jantung
a. Pemeriksaan serum enzim
b. Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan suara jantung
a. S1 – S2
b. Suara jantung tambahan : S3, S4, murmur
Lakukan pemeriksaan
a. Tekanan darah pada berbagai posisi (N. 5 – 10 mmHg)
b. Hitung pulse pressure
c. Radial pulse
d. Frekuensi denyut jantung
e. CTR
f. CVP
g. Adanya distensi vena jugularis
h. Adanya hepato jugular
i. Reflux
j. Serum elektrolit
2. Evaluasi Jumlah Eritrosit dan Hb
3. Evaluasi keadaan cairan tubuh
Periksa tekanan darah
Periksa HCT dan bandingkan dengan Hb (N = 3 x Hb)
Amati tanda-tanda > / < cairan
4. Evaluasi Kondisi Pembuluh Darah
Sumbatan arteri
Area distal sumbatan menjadi :
a. Pucat atau sianosis
b. Pada rabaan dingin
c. Klien mengeluh nyeri terutama saat digerakkan
d. Kulit nampak kering
e. Nadi kadang-kadang tak teraba
Sumbatan vena
Area proximal sumbatan:
a. Kemerahan
b. Pada rabaan panas
c. Klien mengeluh nyeri
d. Tampak bengkak
DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Hambatan transportasi gas berhubungan dengan defisiensi hemoglobin,
Manifestasi klinis:
a. Mudah lelah
b. Pusing/sakit kepala
Intervensi
a. Kolaborasi dengan medis ? pemberian transfusi darah (jika diperlukan)
b. Perbaikan diet (TKTP) dan banyak mengkonsumsi sayuran berchlorophyl.
2. Perubahan curah jantung berhubungan dengan:
Disfusi jantung akibat penyakit pada a. coronaria, penyakit katup, abnormal struktur, kegagalan konduksi
? volume cairan intravaskuler
Cardiac arrest
Imbalance elektrolit
Manifestasi Klinis
Arrhythmia jantung
Perubahan tekanan darah
Adanya abnormalitas suara jantung : S3, S4, murmur.
Pucat cianosis pada kulit dan mukosa membran
Kulit dingin dan lembab
Batuk dengan sputum berbercak kemerahan
Abnormalitas elektrolit terutama kalium
Intervensi Kep:
Untuk mengatasi masalah ? curah jantung ? >> intervensi medis yang sangat spesifik sesuai dengan penyebabnya. Ners melakukan intervensi sebagai implikasi dari intervensi medis,
Misalnya :
A Disfungsi Jantung (payah jantung)
Intervensi Keperawatan:
a. Istirahat kan menghemat Oksigen
b. Batasi intake cairan (jumlah out put + insensible water loss)
c. Batasi intake natrium
Intervensi Medis
a. Pemberian digoxin berpengaruh ? kekuatan kontraksi jantung (efek inotropik +) sehingga isi sekuncup ? yang menyebabkan denyut jantung ?
b. Pada hipokalemia mempengaruhi digoxin akan menyebabkan arrytmia, efek samping lain: mual, muntah, nyeri kepala, diare.
Implikasi Keperawatan
a. Sebelum pemberian digoxin; periksa denyut jantung (jika DJ sekitar 60 – 80 x/menit ? kolaborasi untuk perubahan dosis atau dihentikan sementara?).
b. Periksa serum Kalium (jika serum kalium, 3,5 mEq/I ? koreksi Kalium
c. Sesudah pemberian : amati tanda-tanda efek samping obat.
B Penurunan Cairan Intravaskuler
Intervensi medis
Pemberian cairan melalui intravenous line (infus) sesuai dengan kebutuhan.
Implikasi Keperawatan :
a. Tentukan tempat pemasangan sesuai dengan jenis cairan dan perkirakan lamanya pemasangan infus.
b. Observasi kecepatan cairan dan lokasi pemasangan
c. Catat intake dan out put
d. Observasi tanda-tanda kecukupan cairan
C Cardiac Arrest :
Intervensi :Resusitasi cardio – pulmo cerebral
D Imbalance elektrolit :
Intervensi : koreksi elektrolit
ASPIRASI PNEUMONIA KAUSA INTOKSIKASI MINYAK TANAH
Pengertian :
Aspirasi pneumonia adalah radang parenkim paru, karena masuknya benda asing/ aspirasi isi lambung. Sebagian bersifat kimia, akibat reaksi terhadap asam lambung dan sebagaian bacterial akibat organisme yang mendiami mulut dan lambung.
Aspirasi isi lambung dalam jumlah sedikit dapat mengakibatkan edema paru yang menyebar luas dan kegagalan pernafasan.
Minyak tanah dapat menimbulkan keracunan bila terminum manusia dan bila diaspirasi kedalam paru dapat menyebabkan keracunan akut, perdarahan dan bronkopneumonia yang akhirnya menyebabkan kematian.
Laporan kasus :
I. Pengkajian : tanggal 17 – 4 – 200
Jam : 14.30 WIB
IDENTITAS :
Anak AND, laki-laki, 14 bulan, anak I, No CM : 10054458, Diagnosa Medis : Aspirasi pneumonia, causa Intoksikasi Minyak Tanah, dirawat di UPI R. Anak RSUD. Soedarso Pontianak sejak tanggal 16 April 2009 jam 18.45 WIB.
R.K.S
• Awal kejadian, pagi 16 April 2009 klien ditinggal kedua orang tuanya, bersama neneknya di rumah. Saat nenek berada didepan rumah, klein jalan sendiri ke dapur lalu minum minyak tanah yang ada di botol aqua, waktu dan jumlah yang dimunum tidak diketahui persis.
• Klien sempat diberi minum air oleh neneknya, lalu dibawa ke RSU Sambas.
• Di RSU Sambas klien sempat dikumbah lambung dan klien sempat tidak sadar
• Klien dikirim ke RSUD. Soedarso Pontianak
INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan 1 :
Gangguan pertukaran gas berhubungan edema paru
1. Mengobservasi VS : N, S, T, P
2. Memberikan injeksi :
• Cefotaxim 300 mg/I.V
• Cloxacillin 150 mg/I.V
• Kalmethason 3 mg/I.V
3. Melanjutkan terapi O2 : 2 leter/menit via kanule, masker : 10 Liter/menit, ambu bag
4. Mengobservasi posisi dan tetesan infus D10¼Saline 900 cc/24 jam
5. Monitor dan menganalisa AGD
6. Mengatakan kepada orang tua klien bahwa anaknya masih puasa
7. Melakukan bantuan nafas (ambu bag) dan pijat jantung luar
8. Memberikan injeksi adrenalin 1 : 10.000 IU/I.V
INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan 2 :
Intolenransi aktifitas berhubunan dengan ketidak seimbangan suplai O2
1. Membatasi pengunjung selama klien kritis
2. Kalau ada keluarga yang bezuk
3. Menjelaskan kepada ibu klien dan neneknya tentang pentingnya keseimbangan istrahat dan aktifitas bagi klien
4. Membantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat
5. Mengevaluasi respon klien terhadap aktifitas ringan
Aspirasi pneumonia adalah radang parenkim paru, karena masuknya benda asing/ aspirasi isi lambung. Sebagian bersifat kimia, akibat reaksi terhadap asam lambung dan sebagaian bacterial akibat organisme yang mendiami mulut dan lambung.
Aspirasi isi lambung dalam jumlah sedikit dapat mengakibatkan edema paru yang menyebar luas dan kegagalan pernafasan.
Minyak tanah dapat menimbulkan keracunan bila terminum manusia dan bila diaspirasi kedalam paru dapat menyebabkan keracunan akut, perdarahan dan bronkopneumonia yang akhirnya menyebabkan kematian.
Laporan kasus :
I. Pengkajian : tanggal 17 – 4 – 200
Jam : 14.30 WIB
IDENTITAS :
Anak AND, laki-laki, 14 bulan, anak I, No CM : 10054458, Diagnosa Medis : Aspirasi pneumonia, causa Intoksikasi Minyak Tanah, dirawat di UPI R. Anak RSUD. Soedarso Pontianak sejak tanggal 16 April 2009 jam 18.45 WIB.
R.K.S
• Awal kejadian, pagi 16 April 2009 klien ditinggal kedua orang tuanya, bersama neneknya di rumah. Saat nenek berada didepan rumah, klein jalan sendiri ke dapur lalu minum minyak tanah yang ada di botol aqua, waktu dan jumlah yang dimunum tidak diketahui persis.
• Klien sempat diberi minum air oleh neneknya, lalu dibawa ke RSU Sambas.
• Di RSU Sambas klien sempat dikumbah lambung dan klien sempat tidak sadar
• Klien dikirim ke RSUD. Soedarso Pontianak
INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan 1 :
Gangguan pertukaran gas berhubungan edema paru
1. Mengobservasi VS : N, S, T, P
2. Memberikan injeksi :
• Cefotaxim 300 mg/I.V
• Cloxacillin 150 mg/I.V
• Kalmethason 3 mg/I.V
3. Melanjutkan terapi O2 : 2 leter/menit via kanule, masker : 10 Liter/menit, ambu bag
4. Mengobservasi posisi dan tetesan infus D10¼Saline 900 cc/24 jam
5. Monitor dan menganalisa AGD
6. Mengatakan kepada orang tua klien bahwa anaknya masih puasa
7. Melakukan bantuan nafas (ambu bag) dan pijat jantung luar
8. Memberikan injeksi adrenalin 1 : 10.000 IU/I.V
INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan 2 :
Intolenransi aktifitas berhubunan dengan ketidak seimbangan suplai O2
1. Membatasi pengunjung selama klien kritis
2. Kalau ada keluarga yang bezuk
3. Menjelaskan kepada ibu klien dan neneknya tentang pentingnya keseimbangan istrahat dan aktifitas bagi klien
4. Membantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat
5. Mengevaluasi respon klien terhadap aktifitas ringan
Selasa, Juni 23, 2009
TEKNIS OPERASIONAL DAN INTERPRESTASI EKG STRIP
ELEKTROKARDIOGRAFI
Pendahuluan
Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung. Sedangkan Elektrokardiografi (EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Kegiatan listrik jantung dalam tubuh dapat dicatat dan direkam melalui elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh. EKG sangat berguna dalam membantu menegak kan diagnosa beberapa penyakit jantung, akan tetapi klinis pasien tetap merupakan pegangan yang penting dalam menegakkan diagnosa, sebab sering kelainan EKG ditemukan pada orang normal atau sebaliknya gambaran EKG normal didapatkan pada orang yang menderita kelainan jantung. Oleh sebab itu dalam pembelajaran EKG selalu ditekankan adanya istilah “Don’t treat the monitor but treat the patient”.
EKG sangat berguna dalam menentukan kelainan seperti berikut : Gangguan irama jantung (Disritmia), Hipertrofi Atrium & Ventrikel, Iskemia/Infark otot jantung, Perikarditis, efek beberapa obat – obatan terutama digitalis dan antiaritmia, kelinan elektrolit yang juga dapat menyebabkan kelainan EKG serta untuk menilai fungsi pacu jantung. Sebelum sampai dengan interpretasi EKG, berikut akan dibahas dulu mengenai :
1. SANDAPAN EKG
A. Sandapan bipolar
B. Sandapan Unipolar
2. KERTAS EKG
3. KURVA EKG
A. Gelombang P
B. Gelombang QRS
C. Gelombang T
D. Gelombang U
E. Interval PR
F. Segemen ST
4. Cara menilai EKG strip
1. SANDAPAN EKG
Untuk memperoleh rekaman EKG, dipasang elektroda-elektroda di kulit pada tempat tertentu. Lokasi penempatan elektroda ini penting, karena penempatan yang salah akan menghasilkan pencatatan yang berbeda.
Terdapat 2 jenis sandapan (“Lead”) pada EKG.
1. Sandapan bipolar
2. Sandapan unipolar
Sandapan bipolar
Dinamakan sandapan bipolar karena sandapan ini hanya merekam perbedaan potensial dari 2 elektroda, sandapan ini ditandai dengan angka romawi I, II dan III.
Sandapan I : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan (+).
Sandapan II : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).
Sandapan III : Merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).
Ketiga sandapan ini dapat digambarkan sebagai sebuah segitiga sama sisi (segitiga EINTHOVEN)
Sandapan Unipolar
Sandapan unipolar ini terdiri dari 2, yaitu sandapan unipolar ekstremitas dan unipolar prekordial.
Sandapan unipolar ekremitas
Merekam besar potensial listrik pada satu ektremitas, elektroda eksplorasi diletakkan pada ekstremitas yang akan diukur. Gabungan elektroda-elektroda pada ekstremitas lain membentuk elektroda indiferen (potensial 0).
Sandapan aVR : Merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA), dimana tangan kanan bermuatan (+), tangan kiri dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan aVL : Merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA), dimana tangan kiri bermuatan (+), tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan aVF : Merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF), dimana kaki kiri bermuatan (+), tangan kanan dan tangan kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan unipolar prekordial
Merekam besar potensial listrik jantung dengan bentuan elektroda eksplorasi yang ditempatkan di beberapa tempat pada dinding dada. Elektroda indiferen diperoleh dengan meggabungkan ketiga elektroda ekstremitas.
Sandapan V1 : Ruang interkostal IV garis sternal kanan
Sandapan V2 : Ruang interkostal IV garis sternal kiri
Sandapan V3 : Pertengahan antara V2 dan V4
Sandapan V4 : Ruang interkostal V garis midklavikula kiri
Sandapan V5 : Sejajar V4 garis aksila depan
Sandapan V6 : Sejajar V4 garis aksila tengah
Umumnya perekaman EKG lengkap dibuat 12 sandapan (lead), akan tetapi pada keadaan tertentu perekaman dibuat sampai V7, V8, V9 atau V3R, V4R.
Gambar 1. Sandapan Bipolar dan Unipolar
Sumber : Halloway, 1993
2. KERTAS EKG
Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horizontal dan vertikal dengan jarak 1 mm. Garis yang lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm. Garis horizontal menggambarkan waktu dimana 1 mm = 0,04 detik;5 mm = 0,20 detik. Garis vertikal menggambarkan voltase dimana 1 mm = 0,1 milivolt; 10 mm = 1 milivolt.
Pada praktek sehari-hari perekaman dibuat dengan kecepatan 25 mm/detik. Kalibrasi yang biasa dilakukan adalah 1 milivolt yang menghasilkan defleksi setinggi 10 mm. Pada keadaan tertentu kalibrasi dapat diperbesar yang akan menghasilkan defleksi 20 mm atau diperkecil yang akan menghasilkan defleksi setinggi 5 mm. Hal ini haris dicatat pada kertas hasil rekaman, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang salah bagi yang membacanya.
Gambar 2. Kertas EKG
Sumber : Huff, 1993
3. KURVA EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi pada Atrium dan Ventrikel.
Proses listrik ini terdiri dari :
1. Depolarisasi Atrium
2. Repolarisasi Atrium
3. Depolarisasi Ventrikel
4. Repolarisasi Ventrikel
Sesuai dengan proses listrik jantung, setiap hantaran pada EKG normal memperlihatkan 3 proses listrik yaitu; depolarisasi Atrium, depolarisasi Ventrikel dan repolarisasi Ventrikel. Repolarisasi Atrium umumnya tidak terlihat pada EKG karena disamping intensitasnya kecil juga repolarisasi Atrium waktunya bersamaan dengan depolarisasi Ventrikel yang mempunyai intensitas yang jauh lebih besar.
Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P, Q, R, S dan T serta kadang terlihat gelombang U. Selain itu juga ada beberapa interval dan segmen EKG.
Gambar 3. Kurva EKG
Sumber : Huff, 1993
Gelombang P
Merupakan gambaran proses depolarisasi Atrium
Nilai normal - Lebar < 0,12 detik
- Tinggi < 0,3 milivolt
- Selalu (+) di Lead II
- Selalu (-) di Lead aVR
Gelombang QRS
Merupakan gambaran proses depolarisasi Ventrikel
Nilai normal - Lebar 0,06 – 0,12 detik
- Tinggi tergantung sandapan (lead)
Gelombang QRS terdiri dari gelombang Q, R dan S
Gelombang Q adalah defleksi negatif pertama pada gelombang QRS.
Nilai normal gelombang Q adalah :
- Lebar < 0,12 detik
- Dalamnya < 1/3 tinggi R
Gelombang Q abnormal disebut gelombang Q pathologis.
Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya gelombang QRS positif di L I, LII, V5 dan V6. Dilead aVR, V1 dan V2 biasanya hanya kecil atai tidak ada sama sekali.
Gelombang S adalah defleksi negatif setelah gelombang R.
Di lead aVR, V1 dan V2, gelombang S terlihat lebih dalam, di lead V4, V5 dan V6 makin berkurang dalamnya.
Gelombang T
Merupakan gambaran proses repolarisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hampir semua lead kecuali di aVR.
Gelombang U
Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebab timbulnya gelombang U masih belum diketahui, namun diduga timbul akibat repolarisasi lambat sistem konduksi Interventrikuler.
Interval PR
Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar antara 0,12 – 0,20 detik. Ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi Atrium dan jalannya impuls melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi Ventrikel.
Segmen ST
Segment ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T. segmen ini normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekordial dapat bervariasi dari – 0,5 sampai +2 mm. Segmen ST yang naik diatas garis isoelektris disebut ST elevasi dan yang turun dibawahi garis isoelektris disebut ST depresi.
4. CARA MENGINTERPRETASIKAN EKG STRIP
1. Tentukan iramanya teratur atau tidak, dengan cara melihat jarak antara QRS satu dengan QRS yang lain jaraknya sama atau tidak.
2. Tentukan frekuensi jantung (“Heart rate”)
Menghitung frekuensi jantung ( HR ) melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. 300
Jumlah kotak sedang antara R – R’
b. 1500
Jumlah kotak kecil antara R –R’
c. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah gelombang QRS dalam 6 detik tsb kemudian dikalikan 10 atau ambil dalam 12 detik, kalikan 5.
3. Tentukan gelombang P normal atau tidak, juga lihat apakah setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS ? (P : QRS) ?
4. Tentukan interval PR normal atau tidak ?
5. Tentukan gelombang QRS normal atau tidak ?
Irama EKG yang normal impuls ( sumber listrik ) berasal dari Nodus SA, maka iramanya disebut dengan irama Sinus (“Sinus Rhythim”).
Kriteria Irama Sinus adalah :
- Irama teratur
- Frekuensi jantung ( HR ) 60 – 100 X/menit
- Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR normal 0,12 – 0,20 detik
- Gelombang QRS normal 0,16 – 0,12 detik
Irama yang tidak mempunyai kriteria disebut di atas disebut ARITMIA atau DISRITMIA.
Aritmia terdiri dari aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls atau aritmia dapat terjadi juga dikarenakan oleh gangguan penghantaran impuls.
Beberapa contoh gambaran aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls.
TAKHIKARDIA SINUS ( ST )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi : > 100 – 150 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR : Normal (0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal (0,06 – 0,12 detik)
BRADIKARDI SINUS ( SB )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal ( 0,12 - 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
“ARITMIA SINUS”
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Bisanya antara 60 – 100 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
“ SINUS ARREST “
Kriteria :
- Terdapat episode hilangnya satu atau lebih gelombang P, QRS dan T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
- Hilangnya gel P, QRS, T tidak menyebabkan kelipatan jarak antara R – R’
EKSTRASISTOL ATRIAL ( AES/PAB/PAC )
Kriteria :
- Ekstrasistol selalu mengikuti irama dasar
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Bentuknya berbeda dari gel irama dasarnya
- Interval PR : Bisanya normal, bisa juga memendek
- Gelombang QRS : Normal
TAKHIKARDI SUPRAVENTRIKEL ( SVT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 150 – 250 X/menit
- Gelombang P : Sukar dilihat karena bersatu dengan gel T.
Kadang gelombang P terlihat kecil
- Interval PR : Tidak dapat dihitung atau memendek
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
FLUTTER ATRIAL ( AFL )
Kriteria :
- Irama : Biasanya teratur, bisa juga tidak
- Frekuensi ( HR ) : Bervariasi
- Gelombang : Bentuknya seperti gigi gergaji, dimana gelombang P timbulnya teratur dan dapat dihitung, P : QRS = 2:1, 3:1 atau 4:1
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal
FIBRILASI ATRIAL ( AF )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Bervariasi
- Gelombang P : Tidak dapat diidentifikasikan
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal
IRAMA JUNCTIONAL ( JR )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 40 – 60 X/menit
- Gelombang P : Terbalik di depan, dibelakang atau menghilang
- Interval PR : Kurang dari 0,12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
EKSTRASISTOL JUNCTIONAL ( JES )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Tidak normal, sesuai dengan letak asal impuls
- Interval PR : Memendek atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
TAKHIKARDI JUNCTIONAL ( JT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : > 100 X/menit
- Gelombang P : Terbalik di depan, belakng atau menghilang
- Interval PR : < 0,12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
IRAMA IDIOVENTRIKULER ( IVR )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 20 – 40 X/menit
- Gelombang P : Tidak terlihat
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik
EKTRASISTOL VENTRIKEL ( VES/PVB/PVC )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Tidak ada
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik
Lima ( 5 ) bentuk Ekstrasistol Ventrikel yang berbahaya :
1. Ekstrasistol Ventrikel > 6 X/menit
2. Ekstrasistol Ventrikel Bigemini
3. Ektrasistol Ventrikel “ Multifocal”
4. Ekstrasistol Ventrikel “ Consecutif ”
5. Ektrasistol Ventrikel R on T
TAKHIKARDI VENTRIKEL ( VT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : > 100 X/menit
- Gelombang P : Tidak terlihat
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik
FIBRILASI VENTRIKEL ( VF )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Tidak dapat dihitung
- Gelombang P : Tidak ada
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : Tidak dapat dohitung, bergelombang & tidak teratur
Fibrilasi Ventrikel kasar (“Coarse”)
Fibrilasi Ventrikel halus (“Fine”)
Fibrilasi Ventrikel halus (“Fine”)
Beberapa contoh gambaran aritmia yang disebabkan oleh terganggunya penghantaran impuls.
BLOK SINOTRIAL (SA BLOK)
Kriteria :
- Terdapat episode hilangnya satu atau lebih gelombang P, QRS, T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal (0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 1
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya antara 60 – 100 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Memanjang > 0,20 detik
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 2 TIPE MOBITZ 1
(WENCHEBACH)
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, ada satu gelombang P yang tidak diikuti QRS
- Interval PR : Terdapat episode makin lama makin panjang, kemudian blok, selanjutnya siklus berulang
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 2 TIPE MOBITZ 2
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, ada satu atau lebih gel P yang tidak diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal/memanjang secara konstan, kemudian ada blok
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 3 ( TAVB )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, akan tetapi gel P & gel QRS berdiri sendiri, sehingga gel P kadang diikuti gel QRS, kadang tidak
- Interval PR : Berubah ubah/tidak ada
- Gelombang QRS : Normal/>0,12 detik
Pendahuluan
Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung. Sedangkan Elektrokardiografi (EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Kegiatan listrik jantung dalam tubuh dapat dicatat dan direkam melalui elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh. EKG sangat berguna dalam membantu menegak kan diagnosa beberapa penyakit jantung, akan tetapi klinis pasien tetap merupakan pegangan yang penting dalam menegakkan diagnosa, sebab sering kelainan EKG ditemukan pada orang normal atau sebaliknya gambaran EKG normal didapatkan pada orang yang menderita kelainan jantung. Oleh sebab itu dalam pembelajaran EKG selalu ditekankan adanya istilah “Don’t treat the monitor but treat the patient”.
EKG sangat berguna dalam menentukan kelainan seperti berikut : Gangguan irama jantung (Disritmia), Hipertrofi Atrium & Ventrikel, Iskemia/Infark otot jantung, Perikarditis, efek beberapa obat – obatan terutama digitalis dan antiaritmia, kelinan elektrolit yang juga dapat menyebabkan kelainan EKG serta untuk menilai fungsi pacu jantung. Sebelum sampai dengan interpretasi EKG, berikut akan dibahas dulu mengenai :
1. SANDAPAN EKG
A. Sandapan bipolar
B. Sandapan Unipolar
2. KERTAS EKG
3. KURVA EKG
A. Gelombang P
B. Gelombang QRS
C. Gelombang T
D. Gelombang U
E. Interval PR
F. Segemen ST
4. Cara menilai EKG strip
1. SANDAPAN EKG
Untuk memperoleh rekaman EKG, dipasang elektroda-elektroda di kulit pada tempat tertentu. Lokasi penempatan elektroda ini penting, karena penempatan yang salah akan menghasilkan pencatatan yang berbeda.
Terdapat 2 jenis sandapan (“Lead”) pada EKG.
1. Sandapan bipolar
2. Sandapan unipolar
Sandapan bipolar
Dinamakan sandapan bipolar karena sandapan ini hanya merekam perbedaan potensial dari 2 elektroda, sandapan ini ditandai dengan angka romawi I, II dan III.
Sandapan I : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan (+).
Sandapan II : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).
Sandapan III : Merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).
Ketiga sandapan ini dapat digambarkan sebagai sebuah segitiga sama sisi (segitiga EINTHOVEN)
Sandapan Unipolar
Sandapan unipolar ini terdiri dari 2, yaitu sandapan unipolar ekstremitas dan unipolar prekordial.
Sandapan unipolar ekremitas
Merekam besar potensial listrik pada satu ektremitas, elektroda eksplorasi diletakkan pada ekstremitas yang akan diukur. Gabungan elektroda-elektroda pada ekstremitas lain membentuk elektroda indiferen (potensial 0).
Sandapan aVR : Merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA), dimana tangan kanan bermuatan (+), tangan kiri dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan aVL : Merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA), dimana tangan kiri bermuatan (+), tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan aVF : Merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF), dimana kaki kiri bermuatan (+), tangan kanan dan tangan kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan unipolar prekordial
Merekam besar potensial listrik jantung dengan bentuan elektroda eksplorasi yang ditempatkan di beberapa tempat pada dinding dada. Elektroda indiferen diperoleh dengan meggabungkan ketiga elektroda ekstremitas.
Sandapan V1 : Ruang interkostal IV garis sternal kanan
Sandapan V2 : Ruang interkostal IV garis sternal kiri
Sandapan V3 : Pertengahan antara V2 dan V4
Sandapan V4 : Ruang interkostal V garis midklavikula kiri
Sandapan V5 : Sejajar V4 garis aksila depan
Sandapan V6 : Sejajar V4 garis aksila tengah
Umumnya perekaman EKG lengkap dibuat 12 sandapan (lead), akan tetapi pada keadaan tertentu perekaman dibuat sampai V7, V8, V9 atau V3R, V4R.
Gambar 1. Sandapan Bipolar dan Unipolar
Sumber : Halloway, 1993
2. KERTAS EKG
Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horizontal dan vertikal dengan jarak 1 mm. Garis yang lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm. Garis horizontal menggambarkan waktu dimana 1 mm = 0,04 detik;5 mm = 0,20 detik. Garis vertikal menggambarkan voltase dimana 1 mm = 0,1 milivolt; 10 mm = 1 milivolt.
Pada praktek sehari-hari perekaman dibuat dengan kecepatan 25 mm/detik. Kalibrasi yang biasa dilakukan adalah 1 milivolt yang menghasilkan defleksi setinggi 10 mm. Pada keadaan tertentu kalibrasi dapat diperbesar yang akan menghasilkan defleksi 20 mm atau diperkecil yang akan menghasilkan defleksi setinggi 5 mm. Hal ini haris dicatat pada kertas hasil rekaman, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang salah bagi yang membacanya.
Gambar 2. Kertas EKG
Sumber : Huff, 1993
3. KURVA EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi pada Atrium dan Ventrikel.
Proses listrik ini terdiri dari :
1. Depolarisasi Atrium
2. Repolarisasi Atrium
3. Depolarisasi Ventrikel
4. Repolarisasi Ventrikel
Sesuai dengan proses listrik jantung, setiap hantaran pada EKG normal memperlihatkan 3 proses listrik yaitu; depolarisasi Atrium, depolarisasi Ventrikel dan repolarisasi Ventrikel. Repolarisasi Atrium umumnya tidak terlihat pada EKG karena disamping intensitasnya kecil juga repolarisasi Atrium waktunya bersamaan dengan depolarisasi Ventrikel yang mempunyai intensitas yang jauh lebih besar.
Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P, Q, R, S dan T serta kadang terlihat gelombang U. Selain itu juga ada beberapa interval dan segmen EKG.
Gambar 3. Kurva EKG
Sumber : Huff, 1993
Gelombang P
Merupakan gambaran proses depolarisasi Atrium
Nilai normal - Lebar < 0,12 detik
- Tinggi < 0,3 milivolt
- Selalu (+) di Lead II
- Selalu (-) di Lead aVR
Gelombang QRS
Merupakan gambaran proses depolarisasi Ventrikel
Nilai normal - Lebar 0,06 – 0,12 detik
- Tinggi tergantung sandapan (lead)
Gelombang QRS terdiri dari gelombang Q, R dan S
Gelombang Q adalah defleksi negatif pertama pada gelombang QRS.
Nilai normal gelombang Q adalah :
- Lebar < 0,12 detik
- Dalamnya < 1/3 tinggi R
Gelombang Q abnormal disebut gelombang Q pathologis.
Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya gelombang QRS positif di L I, LII, V5 dan V6. Dilead aVR, V1 dan V2 biasanya hanya kecil atai tidak ada sama sekali.
Gelombang S adalah defleksi negatif setelah gelombang R.
Di lead aVR, V1 dan V2, gelombang S terlihat lebih dalam, di lead V4, V5 dan V6 makin berkurang dalamnya.
Gelombang T
Merupakan gambaran proses repolarisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hampir semua lead kecuali di aVR.
Gelombang U
Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebab timbulnya gelombang U masih belum diketahui, namun diduga timbul akibat repolarisasi lambat sistem konduksi Interventrikuler.
Interval PR
Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar antara 0,12 – 0,20 detik. Ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi Atrium dan jalannya impuls melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi Ventrikel.
Segmen ST
Segment ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T. segmen ini normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekordial dapat bervariasi dari – 0,5 sampai +2 mm. Segmen ST yang naik diatas garis isoelektris disebut ST elevasi dan yang turun dibawahi garis isoelektris disebut ST depresi.
4. CARA MENGINTERPRETASIKAN EKG STRIP
1. Tentukan iramanya teratur atau tidak, dengan cara melihat jarak antara QRS satu dengan QRS yang lain jaraknya sama atau tidak.
2. Tentukan frekuensi jantung (“Heart rate”)
Menghitung frekuensi jantung ( HR ) melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. 300
Jumlah kotak sedang antara R – R’
b. 1500
Jumlah kotak kecil antara R –R’
c. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah gelombang QRS dalam 6 detik tsb kemudian dikalikan 10 atau ambil dalam 12 detik, kalikan 5.
3. Tentukan gelombang P normal atau tidak, juga lihat apakah setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS ? (P : QRS) ?
4. Tentukan interval PR normal atau tidak ?
5. Tentukan gelombang QRS normal atau tidak ?
Irama EKG yang normal impuls ( sumber listrik ) berasal dari Nodus SA, maka iramanya disebut dengan irama Sinus (“Sinus Rhythim”).
Kriteria Irama Sinus adalah :
- Irama teratur
- Frekuensi jantung ( HR ) 60 – 100 X/menit
- Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR normal 0,12 – 0,20 detik
- Gelombang QRS normal 0,16 – 0,12 detik
Irama yang tidak mempunyai kriteria disebut di atas disebut ARITMIA atau DISRITMIA.
Aritmia terdiri dari aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls atau aritmia dapat terjadi juga dikarenakan oleh gangguan penghantaran impuls.
Beberapa contoh gambaran aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls.
TAKHIKARDIA SINUS ( ST )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi : > 100 – 150 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR : Normal (0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal (0,06 – 0,12 detik)
BRADIKARDI SINUS ( SB )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal ( 0,12 - 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
“ARITMIA SINUS”
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Bisanya antara 60 – 100 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
“ SINUS ARREST “
Kriteria :
- Terdapat episode hilangnya satu atau lebih gelombang P, QRS dan T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
- Hilangnya gel P, QRS, T tidak menyebabkan kelipatan jarak antara R – R’
EKSTRASISTOL ATRIAL ( AES/PAB/PAC )
Kriteria :
- Ekstrasistol selalu mengikuti irama dasar
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Bentuknya berbeda dari gel irama dasarnya
- Interval PR : Bisanya normal, bisa juga memendek
- Gelombang QRS : Normal
TAKHIKARDI SUPRAVENTRIKEL ( SVT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 150 – 250 X/menit
- Gelombang P : Sukar dilihat karena bersatu dengan gel T.
Kadang gelombang P terlihat kecil
- Interval PR : Tidak dapat dihitung atau memendek
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
FLUTTER ATRIAL ( AFL )
Kriteria :
- Irama : Biasanya teratur, bisa juga tidak
- Frekuensi ( HR ) : Bervariasi
- Gelombang : Bentuknya seperti gigi gergaji, dimana gelombang P timbulnya teratur dan dapat dihitung, P : QRS = 2:1, 3:1 atau 4:1
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal
FIBRILASI ATRIAL ( AF )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Bervariasi
- Gelombang P : Tidak dapat diidentifikasikan
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal
IRAMA JUNCTIONAL ( JR )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 40 – 60 X/menit
- Gelombang P : Terbalik di depan, dibelakang atau menghilang
- Interval PR : Kurang dari 0,12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
EKSTRASISTOL JUNCTIONAL ( JES )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Tidak normal, sesuai dengan letak asal impuls
- Interval PR : Memendek atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
TAKHIKARDI JUNCTIONAL ( JT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : > 100 X/menit
- Gelombang P : Terbalik di depan, belakng atau menghilang
- Interval PR : < 0,12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal
IRAMA IDIOVENTRIKULER ( IVR )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 20 – 40 X/menit
- Gelombang P : Tidak terlihat
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik
EKTRASISTOL VENTRIKEL ( VES/PVB/PVC )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Tidak ada
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik
Lima ( 5 ) bentuk Ekstrasistol Ventrikel yang berbahaya :
1. Ekstrasistol Ventrikel > 6 X/menit
2. Ekstrasistol Ventrikel Bigemini
3. Ektrasistol Ventrikel “ Multifocal”
4. Ekstrasistol Ventrikel “ Consecutif ”
5. Ektrasistol Ventrikel R on T
TAKHIKARDI VENTRIKEL ( VT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : > 100 X/menit
- Gelombang P : Tidak terlihat
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik
FIBRILASI VENTRIKEL ( VF )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Tidak dapat dihitung
- Gelombang P : Tidak ada
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : Tidak dapat dohitung, bergelombang & tidak teratur
Fibrilasi Ventrikel kasar (“Coarse”)
Fibrilasi Ventrikel halus (“Fine”)
Fibrilasi Ventrikel halus (“Fine”)
Beberapa contoh gambaran aritmia yang disebabkan oleh terganggunya penghantaran impuls.
BLOK SINOTRIAL (SA BLOK)
Kriteria :
- Terdapat episode hilangnya satu atau lebih gelombang P, QRS, T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal (0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 1
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya antara 60 – 100 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Memanjang > 0,20 detik
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 2 TIPE MOBITZ 1
(WENCHEBACH)
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, ada satu gelombang P yang tidak diikuti QRS
- Interval PR : Terdapat episode makin lama makin panjang, kemudian blok, selanjutnya siklus berulang
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 2 TIPE MOBITZ 2
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, ada satu atau lebih gel P yang tidak diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal/memanjang secara konstan, kemudian ada blok
- Gelombang QRS : Normal
BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 3 ( TAVB )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, akan tetapi gel P & gel QRS berdiri sendiri, sehingga gel P kadang diikuti gel QRS, kadang tidak
- Interval PR : Berubah ubah/tidak ada
- Gelombang QRS : Normal/>0,12 detik
Selasa, Mei 05, 2009
CARA-CARA TERAPI MUSIK
• Untuk memulai melakukan terapi musik, khusunya untuk relaksasi, Anda dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Anda dapat juga menyempurnakannya dengan menyalakan lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.
• Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.
• Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.
• Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Focuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.
• Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.
• Idealnya, Anda dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika Anda tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit itu musik telah membantu pikiran Anda beristirahat.
• Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.
• Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.
• Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Focuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.
• Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.
• Idealnya, Anda dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika Anda tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit itu musik telah membantu pikiran Anda beristirahat.
Kamis, April 30, 2009
PENGARUH PEMBERIAN TEHNIK NAFAS DALAM DAN TERAPI MUSIK TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI (DISMENORE) PADA REMAJA PUTRI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subjektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekuensi dismenore cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan.
Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual maka istilah dismenore hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cirri hidupnya sehari-hari untuk beberapa jam atau beberapa hari.
Tidak ada angka pasti mengenai jumlah penderita dismenorhea di Indonesia, namun di Surabaya di dapatkan angka 1,07 % hingga 1,31% dari jumlah penderita dismenorhea yang datang ke bagian kebidanan (Riyanto, 2002).
Banyak cara untuk menghilangkan atau menurunkan nyeri, baik secara farmakologis, misal obat-obatan analgesik ataupun menghilangkan cara dengan intervensi keperawatan yang bersifat non farmakologis dan independent (Long,1996). Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping yang seperti obat-obatan karena terapi non farmakologis menggunakan proses fisiologis. Oleh karena itu, untuk mengatasi nyeri tingkat ringan atau sedang lebih baik menggunakan manajemen nyeri non farmakologis (Ignatavicius, 1995).
Salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri adalah pengalihan perhatian. Dimana tehnik ini dengan memfokuskan diri kepada lingkungan. Lingkungan yang sangat tenang dan sedikit membangkitkan input sensori. Perhatian harus cukup kuat untuk melibatkan seluruh perhatian yang tidak menjemukan. Nyeri yang diderita sangat luas memerlukan berbagai penarik perhatran yang berarti. Metode menarik perhatian yang digunakan yaitu tehnik nafas dalam dan terapi musik (Long, 1996).
musik dapat membuat para pasien menjadi rileks, sehingga hanya mmerlukan obat-obatan yang lebih sedikit.
Mengingat pentingnya hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik terhadap penurunan nyeri haid (dismenorhea) pada remaja putri.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri haid (dismenore) pada remaja putri?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri haid (dismenorea) pada remaja putri.
b. Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri haid (dismenorea) pada remaja putri.
c. Membandingkan intensitas nyeri haid dengan menggunakan kedua tehnik tersebut.
1.4 Manfaat Penulisan
Bagi mahasiswa
a. Mahasiswa dapat mengaplikasikan teori tehnik nafas dalam dan terapi musik pada klien yang menderita nyeri haid (dismenorea).
b. Mahasiswa dapat menggunakan proposal ini sebagai pedoman untuk melakukan penelitian.
Bagi instansi
a. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi baru khususnya mata kuliah maternitas.
b. Memberikan masukan kepada kelompok usia remaja tentang cara menurunkan intensitas nyeri haid (dismenore) yaitu dengan menggunakan tehnik nafas dalam dan terapi music, serta membandingkan kedua tehnik tersebut mana yang lebih efektif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dismenorhea
2.1.1 Pengertian
Dismenorhea merupakan rasa nyeri saat menstruasi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari (Manuaba, 1998:518).
Dismenore atau nyeri selama nyeri haid adalah satu gejala-gejala ginekologik yang paling sering (Taber, 1994).
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi (www.blogdokter.net).
2.1.2 Macam Dismenorhea
a. Dismenore Primer
Dismenore primer, dengan mulai timbulnya beberapa bulan sampai beberapa tahun setelah menarke, terjadi berhubungan dengan siklus ovulasi (Taber, 1994).
Dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan. Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit.
Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah: rahim yang menghadap ke belakang (retroversi), kurang berolah raga, stres psikis atau stres sosial.
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan. Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore. Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan.
b. Dismenore sekunder
Dismenore sekunder disebabkan oleh keadaan patologis pelvic yang spesifik dan dapat terjadi pada setiap saat selama masa reproduksi pasien (Taber, 1994).
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun.
a. Penyebab dari dismenore sekunder adalah:
b. Endometriosis
c. Fibroid
d. Adenomiosis
e. Peradangan tuba falopii
f. Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut.
g. Pemakaian IUD.
2.1.3 Faktor-faktor etiologi
Manuaba (1994) membagi Faktor-faktor etiologi primer dan sekunder yaitu:
a) Dismenore primer
1) Hiperaktivitas otot uterus
2) Faktor-faktor psikogenik
b) Dismenore sekunder
1) Abnormali uterus congenital
2) Leimioma submukosa
3) Polip intrauterine atau intraservikal
4) Endometriosis
5) Adenomiosis
6) Infeksi pelvis akut dan kronik
7) Stenosis servikalis
8) Alat kontrasepsi dalam rahim
2.1.4 Patofisiologi
Tahap-tahap terjadinya menstruasi, yaitu stadium regenerasi, stadium profilerasi dan stadium promenstruasi (sekresi), dismenorhea terjadi pada saat fase pramenstruasi (sekresi) (Manuaba, 1998). Pada fase ini terjadi peningkatan hormon prolaktin dan hormon estrogen. Sesuai dengan sifatnya, prolaktin dapat meningkatkan uterus. Dan apabila kontraksi ini dirasakan begitu hebat yang melebihi ambang nyeri seseorang, maka orang tersebut akan merasakan nyeri di bagian perut dan disebut sebagai dismenore.
Hormon yang juga terlibat dalam dismenore adalah hormon prostaglandin (PGS) hal ini dibuktikan pada cairan haid dari wanita yang sedang menderita dismenore mempunyai kadar yang lebih tinggi daripada kadar prostaglandin normal (Kacker, 2001: 364). Wong (1998) menyebutkan bahwa prostaglandin sangat terkait dengan infertilitas pada wanita, dismenore, hipertensi, preeklamsi-eklamsi, dan anafilaktik syok. Pada fase menstruasi prostaglandin meningkatkan respon miometrial yang menstimulasi hormon oksitosin. Dan hormon oksitosin ini juga mempunyai sifat meningkatkan kontaraksi uterus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dismenore sebagian besar akibat kontraksi uterus.
Selanjutnya stimulasi nyeri dapat menuju ke otak melalui 4 hal yaitu (Roshdal, 2000).
a. Transdution, system saraf merubah stimulasi nyeri menjadi impuls di ujung saraf
b. Transmission impuls bergerak dari titik awal ke otak
c. Perception, otak merekognisi, mendefinisikan dan merespon nyeri.
Dengan adanya stimulus nyeri tubuh merespon dengan menghambat dan meningkatkan nyeri melalui mekanisme inhibisi dan fasilitasi. Input pada spina cord tersebut dipengaruhi oleh substansi kimia neuroregulation yang meliputi (Ignatavicius, 1996).
a. Neurotrasmiter
Merupakan zat kimia yang menghambat dan mengeksistensi aktivitas post sypnotic sel membaran saraf, antara lain asetikolin, norephinefrin, ephineprin, dopamine.
b. Neuromedulator
Merupakan protein hormon yang ditemukan diotak yang berimplikasi pada modikasi nyeri. Substansi ini berespon menyebabkan analgesik.
c. Peptida besar (endorphin).
Dapat memblok nyeri yang kuat, yang dilepaskan bila dilakukan stimulasi kulit misalnya masase, relaksasi.
d. Peptida kecil (enkephalis)
Tersebar di sepanjang otak dan dorsal horn dari spina cord, yang kurang paten dibanding endorphin.
Dari siklus diatas seseorang dapat memberikan respon nyeri baik verbal atau non verbal.
2.2 Kajian
2.2.1 Pengertian nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
2.2.2 Skala Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) Skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan
secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang
Secara obyektif klien mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat
:secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat
Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Respon perubahan perilaku terhadap nyeri dikatagorikan sebagai berikut:
1. Tidak nyeri
2. Nyeri ringan, secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik, tindakan manual dirasakan sangat membantu.
3. Nyeri sedang, secara objektif akan mendesis, menyeringai dan dapat menunjukkan lokasi nyeri dengan tepat dan dapat sekaligus mendeskripsikannya. Klien dapat mengikuti perintah dengan baik, dan responsif terhadap tindakan manual.
4. Nyeri berat, secara objektif klien terkadang tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri tetapi masalah responsive terhadap tindakan manual, dapat menunjukkan lokasi nyeri tetapi tidak dapat mendeskrifsikannya.
5. Nyeri sangat berat, serta objektif klien tidak mampu berkomunikasi dengan baik, berteriak histeris tidak dapat dikendallikan, menarik-narik apa saja yang dapat digapai, memukul-mukul benda disekitarnya, tidak responsif terhadap tindakan dan tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri (Barbara, 1991).
2.2.3 Tindakan-Tindakan Untuk Mengurangi Nyeri
Secara garis besar ada dua macam untuk mengurangi atau menurukan nyeri yaitu:
a. Tindakan Farmakologis
1) Sedatif untuk mengurangi kecemasan dan merangsang untuk tidur. Barbiturat jarang digunakan karena memiliki efek yang kurang baik bagi klien.
2) Analgesik meliputi anti nyeri, relaksasi dan aktivitas rileks. Analgesik menghilangkan nyeri dengan mencegah impuls saraf ke otak.
b. Tindakan Non Farmakologis
Menurut Ignatavicus (1995) manajemen nyeri non farmakologis terbagi menjadi dua yaitu:
1) Tindakan fisik
Tindakan-tindakan fisik untuk menurunkan nyeri adalah sebagai berikut:
a. TENS ( Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulation)
Tindakan ini melalui pendekatan gate control of pain atau gerbang transmisi nyeri yaitu memblok stimuli nyeri dengan stimuli kurang nyeri kepada serabut-serabut besar. Stimuli listrik dapat mengakibatkan opiat dan non opiat jalur yang menurun.
b. Masasse
Pijatan lembut pada bagian tubuh klien yang nyeri dengan menggunakan tangan akan menyebabkan relaksasi otot dan memberikan efek sedasi.
c. Vibrator
Vibrator dengan tenaga baterai atau listrik yang meningkatkan efek masasse
d. Terapi panas dingin
a. Terapi panas
Fungsi terapi panas salah satunya adalah untuk mengatasi atau mengurangi nyeri. Mekanisme pastinya tidak begitu dimengerti teori menyebutkan bahwa keberadaan stimulasi panas dan nyeri, persepsinya saling mengurangi.
b. Terapi dingin
Terapi dingin sering digunakan untuk membatasi akumulasi pada jaringan tubuh. Hal ini terjadi melalui proses vasokontriksi dan mengurangi sirkulasi, sehingga tidak terjadi penumpukan cairan pada area injuri yang dapat menekan dan menambah nyeri. Nyeri dan spasme otot, juga berkurang dengan efek anastesi dari terapi dingin.
b. Tindakan kognitif behavirol
1. Tehnik distraksi
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan oleh klien),. Stimulus yang menyenangkan dari luar juga dapat merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh klien menjadi berkurang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera saja (Tamsuri, 2007).
Jenis Tehnik Distraksi antara lain :
1) Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat pemandangan dan gambar termasuk distraksi visual.
2) Distraksi pendengaran
Diantaranya mendengarkan musik yang disukai atau suara burung serta gemercik air, individu dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang seperti musik klasik, dan diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu seperti bergoyang, mengetukkan jari atau kaki. (Tamsuri, 2007).
Musik klasik salah satunya adalah musik Mozart. Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya ciptaan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “Efek Mozart”.
Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan (Andreana, 2006)
3) Distraksi pernafasan
Bernafas ritmik, anjurkan klien untuk memandang fokus pada satu objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan kemudian menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan dengan menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang memberi ketenangan, lanjutkan tehnik ini hingga terbentuk pola pernafasan ritmik.
Bernafas ritmik dan massase, instruksi kan klien untuk melakukan pernafasan ritmik dan pada saat yang bersamaan lakukan massase pada bagaian tubuh yang mengalami nyeri dengan melakukan pijatan atau gerakan memutar di area nyeri.
4) Distraksi intelektual
Antara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu, melakukan kegemaran (di tempat tidur) seperti mengumpulkan perangko, menulis cerita.
5) Tehnik pernafasan
Seperti bermain, menyanyi, menggambar atau sembayang
6) Imajinasi terbimbing
Adalah kegiatan klien membuat suatu bayangan yang menyenangkan dan mengonsentrasikan diri pada bayangan tersebut serta berangsur-angsur membebaskan diri dari dari perhatian terhadap nyeri
Tehnik terapi music
a. Untuk memulai melakukan terapi musik, khusunya untuk relaksasi, Anda dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Anda dapat juga menyempurnakannya dengan menyalakan lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.
b. Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda.
c. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.
d. Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.
e. Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Focuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.
f. Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.
g. Idealnya, Anda dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika Anda tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit itu musik telah membantu pikiran Anda beristirahat.
2. Relaksasi
Merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis.
Tehnik nafas dalam
a. Pasien menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara.
b. Perlahan-lahan udara dihembuskan sambil membiarkan tubuh menjadi kendor dan merasakan betapa nyaman hal tersebut.
c. Pasien bernafas beberapa kali dengan irama normal.
d. Pasien menarik nafas dalam lagi dan menghembuskan pelan-pelan dan membiarkan hanya kaki dan telapak kaki yang kendor.
e. Pasien mengulang langkah 4 dan mengkonsentrasikan pikiran pada lengan, perut, punggung dan kelompok otot-otot lain.
f. Setelah pasien relaks, pasien dianjurkan bernafas secara pelan-pelan. Bila nyeri menjadi hebat, pasien dapat bernafas secara dangkal dan cepat (Priharjo, 1993).
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan penelitian
Rancangan penelitian keperawatan ini menggunakan tehnik penelitian observasi partisipatif dengan metode pre test – post test design yang dilakukan pengukuran awal kemudian diberi perlakuan dan pengukuran setelah perlakauan (Arikunto, 1998). Tehnik yang digunakan adalah observasi partisifan yaitu suatu metode dimana pengamat (observer) ikut aktif berpartisifasi dalam kegiatan yang dilakukan (Notoatmojo, 2002).
3.2 Subjek dan sampel Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian ini adalah 10 orang remaja putri yang masih sekolah dengan kriteria sebagai berikut:
1. Remaja putri yang sudah mengalami menstruasi dan mengeluh dismenore
2. Tidak mendapatkan terapi farmakologis selama perlakuan
3. Tidak mendapatkan terapi non farmakologis sebelum perlakuan
4. Bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam studi kasus.
Adapun tehnik pengambilan sampling dengan menggunakan “purposive sampling”.
3.3 Fokus penelitian
Penelitian yang dilakukan berfokus pada “pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik merupakan variabel bebas sedangkan terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri merupakan variabel terikat.
3.4 Definisi Operasional
a. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Alat ukur : Kuisioner
Cara ukur : Observasi
Skala ukur : skala intensitas nyeri
Hasil ukur: 0 : tidak nyeri
1-3 : nyeri ringan
4-6 : nyeri sedang
7-9 : nyeri berat
10 : nyeri sangat berat
b. Tehnik nafas dalam adalah tehnik dengan cara merelaksasikan otot-otot tubuh.
c. Tehnik terapi music adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain.
3.4.1 Bagan Kerangka Opereasional
Variabel independent Variabel dependent
Keterangan:
: variabel yag diteliti
: variabel yang tidak diteliti
3.4.2 Kerangka Konseptual Penelitian
Intervensi Kep
3.5 Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data pada studi kasus ini dengan menggunakan tehnik analitik konjugatif yaitu melakukan pengukuran awal intensitas nyeri kemudian 5 orang yang sudah dipilih yaitu disuruh untuk melakukan tehnik nafas dalam dan 5 orang lagi disuruh melakukan terapi musik. Adapun tehnik ukur nyeri berupa rumus bourjones :
0 : tidak nyeri
1-3 : nyeri ringan
4-6 : nyeri sedang
7-9 : nyeri berat
10 : nyeri sangat berat
Prosedur dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Menentukan responden sebagai subjek penelitian sesuai kriteria.
b. Menentukan responden untuk bersedia menjadi subjek penelitian dengan menandatangani informed concern.
c. Mengajarkan tehnik nafas dalam dan terapi musik dan kemudian klien disuruh untuk melakukan sendiri.
d. Memberikan perlakuan pada responden , yaitu dengan membimbing tehnik nafas dalam dan terapi musik.
e. Meminta responden untuk menunjukkan letak nyerinya dengan skala 0-10 setelah perlakuan.
3.6 Tempat dan Waktu
Tempat : MAN 1 Malang
Waktu : Maret 2009
3.7 Tehnik Pengolahan Data
a. editing data
b. coding data
c. entry data
d. tabulating data
e. describing
3.8 Tehnik analisa Data
deskriftif
intensitas nyeri setelah diberi nafas dalam
intensitas nyeri setelah terapi musik
analitik
lihat buku statistik non parametrik dengan kelompok tidak berpasangan mann whitening.
3.9 penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk table dan distribusio frekuensi disertai penjelasan, dimana table analisis hubungan variable dependent dan independent.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 1998. Prosedur suatu pendekatan praktek. Jakrta: PT. Rineka Cipta
Barbara, C. Long. 1996 perawatan medikal bedah. Jakarta : EGC
Ignatavius, DD, Workman, and MIshler, MA. 1995. Pain: Medical surgical Nursing. Philadelphia: WB Saunder Company
Kicker, Nevelle. E. 2001. Essential Obsetri Ginekologi. Jakarta: Hipokrates
Kozier, B and Erb. Glenora. 1995. Fundamental Of Nursing, 5th Edition. California: Wesley Publishing Company
Manuaba, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Manuaba, 1994. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Notoadmodjo, Sukijo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Roshdal. 2000. Basic Nursing. St. Louis: Mosby-Yearbook.Inc
Taber, B. 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta: EGC
www.blogdokter.net
www.knol.google.com
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dismenore atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subjektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekuensi dismenore cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan.
Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual maka istilah dismenore hanya dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cirri hidupnya sehari-hari untuk beberapa jam atau beberapa hari.
Tidak ada angka pasti mengenai jumlah penderita dismenorhea di Indonesia, namun di Surabaya di dapatkan angka 1,07 % hingga 1,31% dari jumlah penderita dismenorhea yang datang ke bagian kebidanan (Riyanto, 2002).
Banyak cara untuk menghilangkan atau menurunkan nyeri, baik secara farmakologis, misal obat-obatan analgesik ataupun menghilangkan cara dengan intervensi keperawatan yang bersifat non farmakologis dan independent (Long,1996). Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping yang seperti obat-obatan karena terapi non farmakologis menggunakan proses fisiologis. Oleh karena itu, untuk mengatasi nyeri tingkat ringan atau sedang lebih baik menggunakan manajemen nyeri non farmakologis (Ignatavicius, 1995).
Salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri adalah pengalihan perhatian. Dimana tehnik ini dengan memfokuskan diri kepada lingkungan. Lingkungan yang sangat tenang dan sedikit membangkitkan input sensori. Perhatian harus cukup kuat untuk melibatkan seluruh perhatian yang tidak menjemukan. Nyeri yang diderita sangat luas memerlukan berbagai penarik perhatran yang berarti. Metode menarik perhatian yang digunakan yaitu tehnik nafas dalam dan terapi musik (Long, 1996).
musik dapat membuat para pasien menjadi rileks, sehingga hanya mmerlukan obat-obatan yang lebih sedikit.
Mengingat pentingnya hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik terhadap penurunan nyeri haid (dismenorhea) pada remaja putri.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimanakah pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri haid (dismenore) pada remaja putri?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri haid (dismenorea) pada remaja putri.
b. Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri haid (dismenorea) pada remaja putri.
c. Membandingkan intensitas nyeri haid dengan menggunakan kedua tehnik tersebut.
1.4 Manfaat Penulisan
Bagi mahasiswa
a. Mahasiswa dapat mengaplikasikan teori tehnik nafas dalam dan terapi musik pada klien yang menderita nyeri haid (dismenorea).
b. Mahasiswa dapat menggunakan proposal ini sebagai pedoman untuk melakukan penelitian.
Bagi instansi
a. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi baru khususnya mata kuliah maternitas.
b. Memberikan masukan kepada kelompok usia remaja tentang cara menurunkan intensitas nyeri haid (dismenore) yaitu dengan menggunakan tehnik nafas dalam dan terapi music, serta membandingkan kedua tehnik tersebut mana yang lebih efektif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dismenorhea
2.1.1 Pengertian
Dismenorhea merupakan rasa nyeri saat menstruasi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari (Manuaba, 1998:518).
Dismenore atau nyeri selama nyeri haid adalah satu gejala-gejala ginekologik yang paling sering (Taber, 1994).
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi (www.blogdokter.net).
2.1.2 Macam Dismenorhea
a. Dismenore Primer
Dismenore primer, dengan mulai timbulnya beberapa bulan sampai beberapa tahun setelah menarke, terjadi berhubungan dengan siklus ovulasi (Taber, 1994).
Dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan. Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat. Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama. Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit.
Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah: rahim yang menghadap ke belakang (retroversi), kurang berolah raga, stres psikis atau stres sosial.
Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan. Perbedaan beratnya nyeri tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore. Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan.
b. Dismenore sekunder
Dismenore sekunder disebabkan oleh keadaan patologis pelvic yang spesifik dan dapat terjadi pada setiap saat selama masa reproduksi pasien (Taber, 1994).
Dismenore sekunder lebih jarang ditemukan dan terjadi pada 25% wanita yang mengalami dismenore. Dismenore sekunder seringkali mulai timbul pada usia 20 tahun.
a. Penyebab dari dismenore sekunder adalah:
b. Endometriosis
c. Fibroid
d. Adenomiosis
e. Peradangan tuba falopii
f. Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut.
g. Pemakaian IUD.
2.1.3 Faktor-faktor etiologi
Manuaba (1994) membagi Faktor-faktor etiologi primer dan sekunder yaitu:
a) Dismenore primer
1) Hiperaktivitas otot uterus
2) Faktor-faktor psikogenik
b) Dismenore sekunder
1) Abnormali uterus congenital
2) Leimioma submukosa
3) Polip intrauterine atau intraservikal
4) Endometriosis
5) Adenomiosis
6) Infeksi pelvis akut dan kronik
7) Stenosis servikalis
8) Alat kontrasepsi dalam rahim
2.1.4 Patofisiologi
Tahap-tahap terjadinya menstruasi, yaitu stadium regenerasi, stadium profilerasi dan stadium promenstruasi (sekresi), dismenorhea terjadi pada saat fase pramenstruasi (sekresi) (Manuaba, 1998). Pada fase ini terjadi peningkatan hormon prolaktin dan hormon estrogen. Sesuai dengan sifatnya, prolaktin dapat meningkatkan uterus. Dan apabila kontraksi ini dirasakan begitu hebat yang melebihi ambang nyeri seseorang, maka orang tersebut akan merasakan nyeri di bagian perut dan disebut sebagai dismenore.
Hormon yang juga terlibat dalam dismenore adalah hormon prostaglandin (PGS) hal ini dibuktikan pada cairan haid dari wanita yang sedang menderita dismenore mempunyai kadar yang lebih tinggi daripada kadar prostaglandin normal (Kacker, 2001: 364). Wong (1998) menyebutkan bahwa prostaglandin sangat terkait dengan infertilitas pada wanita, dismenore, hipertensi, preeklamsi-eklamsi, dan anafilaktik syok. Pada fase menstruasi prostaglandin meningkatkan respon miometrial yang menstimulasi hormon oksitosin. Dan hormon oksitosin ini juga mempunyai sifat meningkatkan kontaraksi uterus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dismenore sebagian besar akibat kontraksi uterus.
Selanjutnya stimulasi nyeri dapat menuju ke otak melalui 4 hal yaitu (Roshdal, 2000).
a. Transdution, system saraf merubah stimulasi nyeri menjadi impuls di ujung saraf
b. Transmission impuls bergerak dari titik awal ke otak
c. Perception, otak merekognisi, mendefinisikan dan merespon nyeri.
Dengan adanya stimulus nyeri tubuh merespon dengan menghambat dan meningkatkan nyeri melalui mekanisme inhibisi dan fasilitasi. Input pada spina cord tersebut dipengaruhi oleh substansi kimia neuroregulation yang meliputi (Ignatavicius, 1996).
a. Neurotrasmiter
Merupakan zat kimia yang menghambat dan mengeksistensi aktivitas post sypnotic sel membaran saraf, antara lain asetikolin, norephinefrin, ephineprin, dopamine.
b. Neuromedulator
Merupakan protein hormon yang ditemukan diotak yang berimplikasi pada modikasi nyeri. Substansi ini berespon menyebabkan analgesik.
c. Peptida besar (endorphin).
Dapat memblok nyeri yang kuat, yang dilepaskan bila dilakukan stimulasi kulit misalnya masase, relaksasi.
d. Peptida kecil (enkephalis)
Tersebar di sepanjang otak dan dorsal horn dari spina cord, yang kurang paten dibanding endorphin.
Dari siklus diatas seseorang dapat memberikan respon nyeri baik verbal atau non verbal.
2.2 Kajian
2.2.1 Pengertian nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
2.2.2 Skala Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) Skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan
secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang
Secara obyektif klien mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat
:secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat
Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
Respon perubahan perilaku terhadap nyeri dikatagorikan sebagai berikut:
1. Tidak nyeri
2. Nyeri ringan, secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik, tindakan manual dirasakan sangat membantu.
3. Nyeri sedang, secara objektif akan mendesis, menyeringai dan dapat menunjukkan lokasi nyeri dengan tepat dan dapat sekaligus mendeskripsikannya. Klien dapat mengikuti perintah dengan baik, dan responsif terhadap tindakan manual.
4. Nyeri berat, secara objektif klien terkadang tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri tetapi masalah responsive terhadap tindakan manual, dapat menunjukkan lokasi nyeri tetapi tidak dapat mendeskrifsikannya.
5. Nyeri sangat berat, serta objektif klien tidak mampu berkomunikasi dengan baik, berteriak histeris tidak dapat dikendallikan, menarik-narik apa saja yang dapat digapai, memukul-mukul benda disekitarnya, tidak responsif terhadap tindakan dan tidak dapat menunjukkan lokasi nyeri (Barbara, 1991).
2.2.3 Tindakan-Tindakan Untuk Mengurangi Nyeri
Secara garis besar ada dua macam untuk mengurangi atau menurukan nyeri yaitu:
a. Tindakan Farmakologis
1) Sedatif untuk mengurangi kecemasan dan merangsang untuk tidur. Barbiturat jarang digunakan karena memiliki efek yang kurang baik bagi klien.
2) Analgesik meliputi anti nyeri, relaksasi dan aktivitas rileks. Analgesik menghilangkan nyeri dengan mencegah impuls saraf ke otak.
b. Tindakan Non Farmakologis
Menurut Ignatavicus (1995) manajemen nyeri non farmakologis terbagi menjadi dua yaitu:
1) Tindakan fisik
Tindakan-tindakan fisik untuk menurunkan nyeri adalah sebagai berikut:
a. TENS ( Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulation)
Tindakan ini melalui pendekatan gate control of pain atau gerbang transmisi nyeri yaitu memblok stimuli nyeri dengan stimuli kurang nyeri kepada serabut-serabut besar. Stimuli listrik dapat mengakibatkan opiat dan non opiat jalur yang menurun.
b. Masasse
Pijatan lembut pada bagian tubuh klien yang nyeri dengan menggunakan tangan akan menyebabkan relaksasi otot dan memberikan efek sedasi.
c. Vibrator
Vibrator dengan tenaga baterai atau listrik yang meningkatkan efek masasse
d. Terapi panas dingin
a. Terapi panas
Fungsi terapi panas salah satunya adalah untuk mengatasi atau mengurangi nyeri. Mekanisme pastinya tidak begitu dimengerti teori menyebutkan bahwa keberadaan stimulasi panas dan nyeri, persepsinya saling mengurangi.
b. Terapi dingin
Terapi dingin sering digunakan untuk membatasi akumulasi pada jaringan tubuh. Hal ini terjadi melalui proses vasokontriksi dan mengurangi sirkulasi, sehingga tidak terjadi penumpukan cairan pada area injuri yang dapat menekan dan menambah nyeri. Nyeri dan spasme otot, juga berkurang dengan efek anastesi dari terapi dingin.
b. Tindakan kognitif behavirol
1. Tehnik distraksi
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan oleh klien),. Stimulus yang menyenangkan dari luar juga dapat merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh klien menjadi berkurang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera saja (Tamsuri, 2007).
Jenis Tehnik Distraksi antara lain :
1) Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat pemandangan dan gambar termasuk distraksi visual.
2) Distraksi pendengaran
Diantaranya mendengarkan musik yang disukai atau suara burung serta gemercik air, individu dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang seperti musik klasik, dan diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu seperti bergoyang, mengetukkan jari atau kaki. (Tamsuri, 2007).
Musik klasik salah satunya adalah musik Mozart. Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya ciptaan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “Efek Mozart”.
Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan (Andreana, 2006)
3) Distraksi pernafasan
Bernafas ritmik, anjurkan klien untuk memandang fokus pada satu objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan kemudian menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan dengan menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang memberi ketenangan, lanjutkan tehnik ini hingga terbentuk pola pernafasan ritmik.
Bernafas ritmik dan massase, instruksi kan klien untuk melakukan pernafasan ritmik dan pada saat yang bersamaan lakukan massase pada bagaian tubuh yang mengalami nyeri dengan melakukan pijatan atau gerakan memutar di area nyeri.
4) Distraksi intelektual
Antara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu, melakukan kegemaran (di tempat tidur) seperti mengumpulkan perangko, menulis cerita.
5) Tehnik pernafasan
Seperti bermain, menyanyi, menggambar atau sembayang
6) Imajinasi terbimbing
Adalah kegiatan klien membuat suatu bayangan yang menyenangkan dan mengonsentrasikan diri pada bayangan tersebut serta berangsur-angsur membebaskan diri dari dari perhatian terhadap nyeri
Tehnik terapi music
a. Untuk memulai melakukan terapi musik, khusunya untuk relaksasi, Anda dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Anda dapat juga menyempurnakannya dengan menyalakan lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.
b. Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda.
c. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.
d. Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.
e. Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Focuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.
f. Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.
g. Idealnya, Anda dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika Anda tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit itu musik telah membantu pikiran Anda beristirahat.
2. Relaksasi
Merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis.
Tehnik nafas dalam
a. Pasien menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara.
b. Perlahan-lahan udara dihembuskan sambil membiarkan tubuh menjadi kendor dan merasakan betapa nyaman hal tersebut.
c. Pasien bernafas beberapa kali dengan irama normal.
d. Pasien menarik nafas dalam lagi dan menghembuskan pelan-pelan dan membiarkan hanya kaki dan telapak kaki yang kendor.
e. Pasien mengulang langkah 4 dan mengkonsentrasikan pikiran pada lengan, perut, punggung dan kelompok otot-otot lain.
f. Setelah pasien relaks, pasien dianjurkan bernafas secara pelan-pelan. Bila nyeri menjadi hebat, pasien dapat bernafas secara dangkal dan cepat (Priharjo, 1993).
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan penelitian
Rancangan penelitian keperawatan ini menggunakan tehnik penelitian observasi partisipatif dengan metode pre test – post test design yang dilakukan pengukuran awal kemudian diberi perlakuan dan pengukuran setelah perlakauan (Arikunto, 1998). Tehnik yang digunakan adalah observasi partisifan yaitu suatu metode dimana pengamat (observer) ikut aktif berpartisifasi dalam kegiatan yang dilakukan (Notoatmojo, 2002).
3.2 Subjek dan sampel Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian ini adalah 10 orang remaja putri yang masih sekolah dengan kriteria sebagai berikut:
1. Remaja putri yang sudah mengalami menstruasi dan mengeluh dismenore
2. Tidak mendapatkan terapi farmakologis selama perlakuan
3. Tidak mendapatkan terapi non farmakologis sebelum perlakuan
4. Bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam studi kasus.
Adapun tehnik pengambilan sampling dengan menggunakan “purposive sampling”.
3.3 Fokus penelitian
Penelitian yang dilakukan berfokus pada “pengaruh pemberian tehnik nafas dalam dan terapi musik merupakan variabel bebas sedangkan terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri merupakan variabel terikat.
3.4 Definisi Operasional
a. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Alat ukur : Kuisioner
Cara ukur : Observasi
Skala ukur : skala intensitas nyeri
Hasil ukur: 0 : tidak nyeri
1-3 : nyeri ringan
4-6 : nyeri sedang
7-9 : nyeri berat
10 : nyeri sangat berat
b. Tehnik nafas dalam adalah tehnik dengan cara merelaksasikan otot-otot tubuh.
c. Tehnik terapi music adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain.
3.4.1 Bagan Kerangka Opereasional
Variabel independent Variabel dependent
Keterangan:
: variabel yag diteliti
: variabel yang tidak diteliti
3.4.2 Kerangka Konseptual Penelitian
Intervensi Kep
3.5 Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data pada studi kasus ini dengan menggunakan tehnik analitik konjugatif yaitu melakukan pengukuran awal intensitas nyeri kemudian 5 orang yang sudah dipilih yaitu disuruh untuk melakukan tehnik nafas dalam dan 5 orang lagi disuruh melakukan terapi musik. Adapun tehnik ukur nyeri berupa rumus bourjones :
0 : tidak nyeri
1-3 : nyeri ringan
4-6 : nyeri sedang
7-9 : nyeri berat
10 : nyeri sangat berat
Prosedur dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
a. Menentukan responden sebagai subjek penelitian sesuai kriteria.
b. Menentukan responden untuk bersedia menjadi subjek penelitian dengan menandatangani informed concern.
c. Mengajarkan tehnik nafas dalam dan terapi musik dan kemudian klien disuruh untuk melakukan sendiri.
d. Memberikan perlakuan pada responden , yaitu dengan membimbing tehnik nafas dalam dan terapi musik.
e. Meminta responden untuk menunjukkan letak nyerinya dengan skala 0-10 setelah perlakuan.
3.6 Tempat dan Waktu
Tempat : MAN 1 Malang
Waktu : Maret 2009
3.7 Tehnik Pengolahan Data
a. editing data
b. coding data
c. entry data
d. tabulating data
e. describing
3.8 Tehnik analisa Data
deskriftif
intensitas nyeri setelah diberi nafas dalam
intensitas nyeri setelah terapi musik
analitik
lihat buku statistik non parametrik dengan kelompok tidak berpasangan mann whitening.
3.9 penyajian data
Penyajian data dilakukan dalam bentuk table dan distribusio frekuensi disertai penjelasan, dimana table analisis hubungan variable dependent dan independent.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 1998. Prosedur suatu pendekatan praktek. Jakrta: PT. Rineka Cipta
Barbara, C. Long. 1996 perawatan medikal bedah. Jakarta : EGC
Ignatavius, DD, Workman, and MIshler, MA. 1995. Pain: Medical surgical Nursing. Philadelphia: WB Saunder Company
Kicker, Nevelle. E. 2001. Essential Obsetri Ginekologi. Jakarta: Hipokrates
Kozier, B and Erb. Glenora. 1995. Fundamental Of Nursing, 5th Edition. California: Wesley Publishing Company
Manuaba, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Manuaba, 1994. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Notoadmodjo, Sukijo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Roshdal. 2000. Basic Nursing. St. Louis: Mosby-Yearbook.Inc
Taber, B. 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta: EGC
www.blogdokter.net
www.knol.google.com
Langganan:
Postingan (Atom)