Sabtu, Juni 27, 2009

KONSEP DASAR SYNDROME NEFROTIK

BAB II
KONSEP DASAR SYNDROME NEFROTIK

1. Pengertian.
Menurut Hartono Andry 1995 ,dalam bukunya yang berjudul “Kesehatan Populer” menyebutkan bahwa syndrome nefrotik adalah kumpulan gejala klinis dan biokimiawi yang berhubungan dengan keadaan patologis pembuluh kapiler yang memungkinkan filtrasi protein plasma.
Sedangkan menurut The Renal Unit of the Royal Infirmary of Edinburgh pada website http://renux.dmed.ed.ac.uk menyebutkan it is name given to a condition when large amounts of protein leak out into the urine. Normal urine should contain almost no protein. In nephrotic syndrome the leak is large enough so that the levels of protein in the blood fall.
Dan dr. Suparman dalam bukunya Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 mengatakan sindrome nefrotik merupakan penyakit yang berhubungan dengan kelainan glomerulus akibat penyakit – penyakit tertentu atau tidak diketahui (idiopatik). Adapun yang berhubungan dengan penyakit – penyakit tertentu seperti penyakit metabolik, gangguan sirkulasi mekanik, keganasan, infeksi toksin dan lain – lain dikenal sebagai sindroma nefrotik sekunder, sedangkan yang primer (idiopatik) berhubungan dengan kelainan primer parenkim ginjal dan sebabnya tidak diketahui.
Pada buku lainnya juga disebutkan bahwa syndrome nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinurea, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia kadang – kadang terdapat henaturia hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (ngastiyah, 1997:304).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa syndrome nefrotik adalah sebagai kumpuolan gejala klinis dan biokimiawi yang berhubungan dengan keadaan patologis pembuluh kapiler glomerulus yang mengakibatkan terjadinya proteinurea, hipoalbuminemia dan hiperkolesterolemia serta penurunan fungsi hati.
2. Etiologi.
Etiologi dari syndrome nefrotik secara pasti belum diketahui, akhir – akhir ini dianggap sebagai penyakit autoimun, yaitu merupakan suatu rekasi antara antigen dan anti bodi.
Namun secara garis besar etiologi nefrotik sindrome, yaitu:
1) Penyakit parenkim ginjal primer :
a. Glomerulonefrotik akut pasca streptokok
b. Glomerulonefrotik idiopatik.
2) Penyakit metabolik dan jaringan kolagen (sistemik) :
a. Diabetes Mellitus
b. Amiloidosis
c. Henoch-schoenlein (purpura)
d. Lupus eritemitosis sistemik (SLE)
3) Gangguan sirkulasi mekanik :
a. Right Heart Syndrome (RHS)
b. Kelainan katup trikuspid
c. Pericarditis dan tamponade jantung
d. Penyakit jantung kongesif refrakter
e. Trombosis vena renalis
4) Penyakit keganasan :
a. Penykait hodgkin
b. Limfosarkoma
c. Mieloma multiple
5) Penyakit infeksi :
a. Malaria
b. Sifilis
c. Thypus abdominalis
d. Herpes zoster
e. Hepatitis B
6) Toksin spesifik :
a. Logam berat :
- Emas
- Bismuth
- Merkuri
b. Obat – obatan :
- Trimetadion
- Parametadion
- Penisilamin
7) Kelainan kongenital :
Sindrome nefrotik herediter
8) Lain – lainnya, sperti :
a. Sirosis hati
b. Obesitas
c. Kehamilan
d. Transplantasi ginjal

3. Patofisiologi.
Perubahan awal yang terjadi pada sindrome nefrotik adalah kekacauan sel – sel pada selaput basement glomerulus, berakibat peningkatan parotis / berlobang – lobang dari membran dengan kehilangan banyak protein lewat urine. Adanya ganggguan metabolisme / biokimia ginjal menyebabkan meningkatnya permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma sehingga protein terutama albumin dapat melewati membran dan dibuang melalui urine, maka terjadi proteinurea (hyperalbuminuria).
Akibat dari hyperalbuminuria, maka albumin dalam pembuluh darah menurun (hyporalbuminemia), dalam keadaan ini tekanan osmotic dalam pembuluh darah menurun yang mengakibatkan perpindahan cairan intravaskuler ke ruang interstitial dan cairan tersebut berkumpul pada ruang intestinal dan rongga badan sehingga terjadi edema, anasarka dan ascites.
Perpindahan cairan dari plasma ke interstitial akan mengurangi volume cairan didalam pembuluh darah sehingga terjadi hypovolemi, yang kemudian merangsang rennin angiotensin dan mengeluarkamn ADH serta aldosteron berakibat pada reabsorbsi natrium (Na) dan air ditubulus dalam usaha meningkatkan cairan intravaskuler.
Untuk mengganti kekurangan protein dalam pembuluih darah, tubuh berusaha meningkatkan produksi lipoprotein tetapi karena permeabilitas glomerulus terhadap protein sedang dalam keadaan meningkat, maka protein akan tetap banyak yang keluar melalui urine sehingga lemak menumpuk didalam pembuluih darah, maka terjadilah hyperkolesterolemia.


Permeabilitas Glomerulus meningkat
Kenaikan filtrasi
Plasma protein
Albuminuria
Hipoproteinemia

Faktor – faktor yang menentukan derajat proteinuria :
1) Besar dan bentuk molekul protein, muatan ion dan keutuhan molekul protein tersebut.
2) Konsentrasi plasma protein.
3) Muatan ion membran basalis dan lapisan sel epitel.
4) Tekanan dan aliran intra glomerulus yang menentukan ultrafiltrasi.

Berikut ini patogenesis (mekanisme) edema pada sindroma nefrotik:
SINDROMA NEFROTIK
PROTEINURIA MASIF
HIPOALBUMINEMIA
TEKANAN ONKOTIK KAPILER
VOLUME DARAH EFEKTIF

4. Gejala dan Tanda.
Edema merupakan gejala klinik yang menonjol. Kadang – kadang mencapai 40 % dari berat badan dan bersifat anasarka yang mengenai muka, tungkai, abdomen, vagina atau skrotum dan hydrothorak. Pembengkakan dari kelopak mata nyata jika bangun tidur di pagi hari. Pembengkakan akan meningkat karena adanya edema mikroskopis. Selama edema, biasanya produksi urine berkurang, agak keruh dan berbusa, berat jenis urine meningkat, terdapat proteinurea terutama albumin (85 – 95 %) sebanyak 10 – 15 gram/hari yang dapat ditentukan dengan pemeriksaan esbach. Selama beberapa minggu mungkin akan terdapat hematuria, azotemia dan hipertensi ringan jika terjadi kegagalan glomerulus. Klien juga mengalami anoreksia dan muntah – muntah karena edema mukosa lambung dan tubuh rentan terhadap infeksi sekunder karena daya tahan tubuh yang sangat rendah. Kimia darah menunjukkan hypoalbuminemia, kadar globulin normal atau meninggi sehingga terdapat perbandingan albumin globulin terbalik, didapatkan pula hyperkolesterolemia, kadar fibrinogen meninggi sedangkan kadar ureum normal, terkadang didapatkan pula anemia defisiensi besi karena transferin banyak yang keluar melalui urine. Apabila terjadi perubahan yang progresif di glomerulus, maka akan didapatkan penurunan fungsi ginjal pada fase nekrotik.

5. Pemeriksaan Penunjang.
a. Laboratorium :
Didapatkan proteionuria; berat jenis urine meninggi; sedimen dapat normal atau berupa thorak hialin dan granula dan terdapat sel darah putih; ditemukan double reflactile bodies; kimia darah menunjukkan hipoalbuminemia; hiperkolesterolemia; fibrinogen meningkat dan kadar urine normal; kadang – kadang terdapat protein bound.
b. X- ray.
Untuk mengetahui apakah ada kelainan baik pembesaran, tumor atau adanya hydronefrosis.
c. CT SCAN.
Untuk mengetahui tingkat keparahan atau luas daerah yang masih bisa berfungsi dan yang telah rusak.
d. Biopsy
Dilakukan untuk memastikan penyebab secara mikroskopis, tetapi buopsy tidak perlu dilakukan pada kasus nefrotik sindrome dengan pasien mengalami penyakit Diabetes Mellitus.

6. Penatalaksanaan.
a. Therapi
1) Istirahat sampai edema berkurang
2) Mencegah infeksi
3) Deuritik
4) Kortikosteroid.
International Cooperative of Kidney Discase in Children (ISKDC) mengajukan cara pengobatan sebagai berikut :
- Selama 28 hari pranison diberikan peroral dengan dosis 60 mg/hr/luas permukaan badan (1 bp) dengan maksimum 80 mg/hari
- Kemudian dilanjutkan dengan prednison peroral selama 28 hari dengan dosis 40 mg / hari / 1 bp. Setiap 3 hari dalam 1 minggu dengan dosis maksimum 60 mg / hari.
- Bila terdapat respon selama pengobatan, maka pengobatan ini dilanjutkan secara intermitten selama 4 minggu. Sekarang pengobatan dengan kosrtikosteroid tidak selalui seperti uraian pada a + b, tetapi melihat respon dari pasien apakah terjadi remisi / tidak dalam 4 minggu.
5) Antibiotik hanya diberikan bila ada infeksi
6) Lain – lain : fungsi asites; fungsi hydrothorak dilakukan bila ada indikasi vital. Jika ada gagal ginjal diberikan digitalis.
b. Diet.
Terapi diet sangat penting dalam pengobatan sindrome nefrotik dan prinsip yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
1) Masukan protein tinggi untuk menggantikan kehilangan protein dari jaringan dan untuk memberikan cukup asam amino kepada hati guna mempercepat sintesis albumin. Kalau GFR-nya tidak menurun banyak hanya selera penderita yang membatasi masukan protein. Namun demikian untuk orang dewasa dengan ukuran tubuh dewasa asia Normal rata – rata protein kurang lebih 120 gram perhari sudah cukup untuk memperbaharui cadangan tubuh asalkan masukan kalori seluruhnya mencukupi.
2) Peningkatan konsumsi kalori yang mencapai 50 hingga 60 kalori per kg berat badan untuk menggalakkan keseimbangan nitrogen positif termasuk peningkatan sintesis protein plasma.
3) Pembatasan masukan natrium yang kurang dari 10 mEq perhari (230 mg) sudah cukup efektif untuk mencegah penumpukan cairan lebih lanjut. Namun pembatasan semacam ini sering tidak diterapkan karena pembatasan yang ketat akana menghasilkan diet yang cita rasanya tidak dapat diterima.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa diet pada klien dengan sindrome nefrotik adalah tinggi kalori, tinggi protein dan rendah natrium.
7. Prognosis.
Therapi antibakteri dapat menyebabkan mengurangi kematian akibat infeksi tetapi tidak berdaya terhadap kelainan ginjal, sehingga akhirnya dapat terjadi gagal ginjal. Penyembuhan klinik kadang – kadang terdapat setelah pengobatan dengan kortikosteroid selama bertahun – tahun.
8. Komplikasi.
Infeksi sekunder, terutama infeksi kulit yang disebabkan oleh streptokokkus, staphilokokkus, baretopnemonia, tuberkulosis.

GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK (GPDO)

PENDAHULUAN
1. Neuron tidak mampu menyimpan glikogen, makanya jika tidak mendapatkan suplay makanan secara cepat ( toleransi 3 / menit ) akan menyebabkan kematian
2. Hidup matinya neuron tergantung arteri yang memperdarahi
3. Penghentian Aliran Darah Otak (ADO) lebih dari 3 menit menyebabkan kerusakan irreversible
ANATOMI (Review)
1. Otak memperoleh darah melalui 2 sistem :
a. Karotis (interna kanan dan kiri) Bercabang menjadi a. serebri anterior dan media Memperdarahi lobus frontalis, parietalis, beberapa bagian temporalis
b. Vertebra ( a.vertebra kanan dan kiri) Mempercabangkan a.serebeli inferior Memperdarahi lobus oksipitalis dan bagian medial temporalis Darah vena dialirkan dari
2. otak melalui 2 sistem : Vena interna dan eksterna
FISIOLOGI- ALIRAN DARAH OTAK ( ADO )
1. ADO tidak adekuat menimbulkan gejala-gejala defisit neurologi
2. ADO dipengaruhi faktor :
a. Tekanan untuk memompakan darah dari arteri ke vena = p(A-V)
Tekanan sistemik berpengaruh
b. Tahanan pembuluh darah otak = CVR, dipengaruhi oleh :
1) Tekanan intrakranium
2) Viskositas darah
3) Tonus pembuluh darah otak
Diformulasikan
CBF = p (A-V)
CVR
CBF : Cerebral Blood Flow
P : Pressure, A :Arteri, V : Vena
CVR : Cerebro-Vascular Resistance
3. Untuk ADO memadai, p (A-V) dipertahankan, dicegah peningkatan CVR
4. Volume otak, CSF dan darah dalam ruang tengkorak adalah tetap (DOKTRIN KELLIE MONROE
5. Benar selama daya autoregulasi otak berfungsi baik
6. Daya autoregulasi berfungsi normal bila tekanan sistolik 50-150 mmHg
7. TD tidak selalu ADO meningkat karena tonus p.d otak meningkat ? konstriksi ? ADO tetap dan sebaliknya
8. Jika TD sampai titik kritis, ADO tidak mencukupi ? insufiensi serebrovaskular ? iskemi ? infark
9. TIK meningkat mengakibatkan vasokonstriksi dan TD meningkat dan ADO tidak berubah
10. Tetapi bila TIK mencapai 450 mmHg mempengaruhi ADO menurun
11. Viskositas darah meningkat mengakibatkan CVR meningkat dan ADO menurun
12. Tekanan arteri meningkat dan tonus p.d meningkat dan vasokonstriksi, dan sebaliknya
13. Keadaan dinding p.d mempengaruhi tenaga untuk mendorong darah
PENYAKIT GPDO
a. STROKE
b. Hypertensive encephalopaty
c. Arterosklerosis serebri
d. Aneurisma intrakanialis
e. Trombosis Vena otak

GANGGUAN PADA KARYAWAN DI PERKANTORAN MODERN

I. LATAR BELAKANG
Dengan semakin berkembangnya kemajuan kehidupan manusia yang berdampak pada semakin rumitnya masalah hubungan sosial manusia maka munculah apa yang disebut administrasi yang dipakai sebagai metode untuk mengatur tata urusan kehidupan manusia dalam berbagai bidang seperti ekonomi, kenegaraan, hubungan sosial dan banyak lagi. Sistem manajerial kemudian juga hadir sebagai aplikasinya dalam bidang ekonomi. Sistem ini kemudian melahirkan institusi baru yang mengakomodasi administrasi yang kini lazim kita sebut kesekretariatan atau perkantoran. Seiring dengan berjalannya waktu sistem ini berubah menjadi komunitas yang masing-masing mempunyai ciri khas sosialnya sendiri yang kemudian memiliki dampak pada pelakunya.
Sebuah klasifikasi klasik yang masih dapat dipakai tentang pekerja adalah klasifikasi pekerja menjadi dua yaitu pekerja fisik atau Blue-Collar Workers dan pekerja kantor atau White Collar Workers. White Collar Workers memiliki suatu kondisi dan beban kerja yang tentu saja berbeda dengan pekerja lainnya. Mereka bekerja di sebuah ruangan tertutup dalam satu bangunan. Tak jarang bangunan itu cukup sempit dengan ventilasi terbatas dan sering digantikan oleh pendingin ruangan. Mereka bekerja dibelakang meja dengan setumpuk kertas dokumen dan mesin ketik atau komputer dengan mobilitas fisik yang rendah, kecuali pada strata tertentu yang mobilitasnya sangat tinggi seperti direktur atau manajer.
Jam kerja yang diberlakukan bagi mereka bervariasi yang panjangnya antara 6 jam efektif hingga 10 jam pada industri tertentu. Pekerjaan mereka secara umum berkutat pada urusan dokumen dan hubungan interpersonal yang mengarah pada pengaturan bidang yang mereka tangani. Beban mereka cukup menguras pikiran dengan suasana yang kadang penuh ketegangan dan intrik. Timbul gaya hidup dan berbagai ciri kehidupan mereka seperti postur dan kondisi fisik diakibatkan oleh perbedaan pola makan dan gaya hidup lain seperti pilihan hiburan atau kecenderungan pada alkohol dan kurangnya olahraga.
II. DESKRIPSI
Perkantoran di era modern ini didefinisikan sebagai suatu lingkungan kerja dimana fungsinya untuk mengatur kerja operasional dari perusahaan. Strata sosial dalam komunitas perkantoran secara umum dapat digambarkan secara hirakhis seperti sebagai berikut:
Direktorat Komisaris
Bagian (manajerial)
Sub bidang (supervisor)
Tim kerja
Karyawan
Masing-masing bagian ini memiliki beban kerja dan kondisi kerja yang khas dan berbeda. Seperti direktur yang merupakan penanggung jawab tertinggi memiliki beban kerja yang tidak berat dan tingkat stress yang cukup rendah bila dibandingkan pihak manajerial. Kedua strata ini adalah strata yang mempunyai status sosial yang cukup baik di masyarakat dengan gaji yang baik pula.
Sedang bagian sub bidang cenderung untuk mempunyai tingkat stress cukup tinggi dalam posisinya sebagai penanggung jawab pelaksanaan secara teknis. Tim kerja dapat dikatakan sebagai sub unit terkecil dalam perkantoran yang menjadi ujung tombak pelaksana teknis organisasi. Tim inilah yang paling sering ditekan oleh pihak manajerial dengan berbagai target kerja yang kadang menguras pikiran mereka. Mereka jugalah yang berhadapan dengan pihak luar yang memakai jasa mereka. Tingkat stress yang berbeda ini juga membedakan teknik terapi dan penghilangan stress pada tiap strata.


III. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KERJA
Dalam lingkungan perkantoran terutama kita jumpai penyakit-penyakit yang tidak menular, namun tidak menutup kemungkinan munculnya penyakit menular yang penu-larannya didukung oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Ventilasi dan sistem pendingin ruangan (AC/ Air Conditioner)
Di indonesia, AC dipakai di banyak tempat termasuk lingkungan kerja. Apalagi penggunaan AC yang berfungsi kurang baik dapat meningkatkan kelembaban ruangan. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang disebut “Humidifier Fever”.
Timbulnya humidifier fever ini bisa terjadi karena perawatan AC yang tidak baik/teratur dan seringnya frekuensi pemakaian AC (±10jam/hari). Bila hal tersebut dibiarkan tanpa penanganan maka dapat menyebarkan penyakit keseluruh ruangan perkantoran tersebut.
2. Faktor Fisik
Yang termasuk faktor fisik disini bisa benda ataupun zat yang terdapat di kantor dan secara fisik dapat menularkan penyakit. Misalnya karpet yang biasa digunakan untuk melapisi ruangan ber-AC di perkantoran, apabila tidak dijaga kebersihannya maka dapat menimbulkan tumpukan debu halus yang bila tersebar terbawa angin dan terhirup pekerja kantoran akan mengganggu kesehatan.
3. Faktor Sanitasi
Seringkali kita jumpai di perkantoran disediakan minuman ataupun dapur bagi para pegawainya. Bila kebersihan air minum tersebut tidak terjaga maka dapat dapat juga menjadi salah satu faktor yang mendukung penyebaran penyakit.
Selain itu toilet bagi pekerja perkantoranpun harus dijaga kebersihannya agar jangan sampai menjadi sumber dan media penyebaran penyakit.


IV. INDENTIFIKASI MASALAH
Masalah kesehatan dalam lingkungan pekantoran tidak kalah dengan masalah kesehatan di pabrik-pabrik. Faktor-faktor yang mendorong timbulnya masalah tersebut antara lain:
1. Faktor Sosial Ekonomi
Salah satu masalah yang timbul yaitu stress, yang disebabkan karena terlalu banyaknya pekerjaan dan juga adanya konflik dengan rekan sesama karyawan atau dengan atasan. Stress ini termasuk dalam masalah kesehatan mental dan psikologi.
2. Faktor Resiko dan Gaya Hidup Pekerja Perkantoran
Gaya hidup yang salah sering menimbulkan masalah pada para pekerja, seperti:
? Karena terlalu sering duduk di belakang meja, sehingga aktivitas gerak mereka kurang. Hal tersebut dapat menyebabkan aliran darah kurang lancar sehingga timbul masalah pegal-pegal, linu di daerah punggung, pinggang, leher dan bahu.
? Kebiasaan lainnya seperti merokok, minum kopi, dan alkohol juga sering menimbulkan masalah.
? Kebiasaan makan makanan cepat saji (karena kurangnya waktu istirahat) sering menimbulkan masalah yang serius seperti stroke dan jantung koroner.
? Bagi operator komputer, sering timbul masalah dengan penglihatannya seperti mata perih, berair, dan mata merah
? Kebiasaan para pekerja untuk lembur dapat merangsang timbulnya stress akibat terlalu memaksakan diri dalam bekerja
3. Faktor Struktur Bangunan dan Lingkungan Kerja
Hal yang sering menimbulkan masalah antara lain : ventilasi, pencahayaan, dan sanitasi yang kurang memenuhi persyaratan. Sedangkan masalah kesehatan yang mungkin timbul antara lain : sesak nafas, asma, dan pneumoconeosis.

V. EPIDEMIOLOGI
Perkantoran di era modern ini didefinisikan sebagai suatu lingkungan kerja dimana fungsinya untuk mengatur kerja operasional dari perusahaan. Jadi sifatnya tidak terjun langsung ke lapangan namun sifatnya hanya sebagai “otak” dari suatu kegiatan perusahaan. Seringkali ditemukan permasalahan kesehatan pabrik, perkebunan, pertambangan, dan lain-lain, sedangkan masalah kesehatan kantor diabaikan. Hal tersebut disebabkan karena perkantoran seringkali diidentikkan dengan pekerjaan ringan yang hanya duduk dibalik meja serta berada didalam gedung yang dilengkapi dengan fasilitas untuk menunjang kerja dan kenyamanan bagi karyawan. Namun lingkungan seperti itu justru menimbulkan masalah tersendiri mengenai kesehatan para pekerja perkantoran. Pola kerja perkantoran sendiri cenderung lebih banyak mencurahkan pemikiran daripada kerja secara fisik sehingga juga dapat mendukung timbulnya masalah kesehatan psikis.
Canadian Institute Health Research (2004) menemukan fakta bahwa dari 70% pekerja kantor di negara industri yang bekerja di ruangan ber-AC sering menderita gejala-gejala seperti iritasi pada membran mukosa mata, tenggorokan dan hidung yang juga ditemukan pada gejala penyakit respirasi. Selain itu juga telah dilakukan penelitian risiko faktor fisik, kimia dan mikrobiologi terhadap terjadinya gangguan/keluhan sakit pada gedung bertingkat yang menggunakan AC sebagai penyejuk ruangan oleh Sukar antara tahun 1998 sampai 1999.


VI. MANIFESTASI KLINIS
Pada umumnya, penyakit yang sering muncul pada pekerja perkantoran dan perbankan adalah sress dan penyakit pernafasan. Beberapa penyakit yang sering mengenai para pekerja perkantoran tersebut antara lain :


1. Batuk
Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia, dan peradangan. Inhalasi debu, asap dan benda – benda asing kecil merupakan penyebab paling sering dari batuk. Perokok sering kali menderita batuk kronik karena terus menerus mengisap benda asing (asap) dan saluran nafasnya sering mengalami peradangan kronik.
Orang – orang yang bekerja pada perkantoran dan perbankan mempunyai resiko terkena batuk lebih besar. Hal ini disebabkan karena umumnya mereka bekerja pada suatu ruangan tertutup (ventilasi kurang), sehingga resiko inhalasi debu dan asap lebih besar. Hal ini diperparah apabila dalam ruangan tertutup tersebut terdapat perokok sehingga ruangan itu dipenuhi asap rokok.
2. Dispnea
Sering disebut sebagai sesak nafas, adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonal. Seorang yang mengalami dispnea sering mengeluh nafasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Dispnea merupakan keluhan yang biasa pada “syndrome hiperventilasi” pada orang – orang sehat yang mengalami stress emosi.
Orang – orang yang bekerja pada ruangan tertutup tentu saja memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami dispnea. Hal ini diperparah bila orang tersebut mempunyai rasa takut secara psikis bahwa dia tidak dapat memperoleh jumlah udara yang cukup. Seseorang menjadi sangat dispnea terutama akibat pembentukan karbondioksida yang berlebihan dalam cairan tubuh. Namun, pada suatu waktu karbondioksida dan oksigen dalam cairan tubuh dalam batas normal. Tetapi untuk mencapai gas – gas ini dalam batas normal, orang tersebut harus bernafas dengan kuat sekali. Pada keadaan seperti ini, aktivitas otot – otot pernafasan yang sering kali membuat seseorang merasa dalam keadaan dispnea berat.

3. Sianosis
Sianosis merupakan salah satu tanda pertukaran gas yang kurang memadai. Hal ini ditandai dengan warna kebiru – biruan pada kulit dan selaput lendir yang terjadi akibat peningkatan absolut hemoglobin tereduksi (hemoglobin yang tidak berikatan dengan O2). Dapat merupakan tanda insufisiensi pernafasan, meskipun bukan merupakan tanda yang diandalkan.
Ada 2 jenis sianosis: sianosis sentral dan sianosis perifer. Sianosis sentral disebabkan oleh insufisiensi oksigenasi hemoglobin dalam paru – paru, dan yang paling mudah diketahui pada wajah, bibir, cuping telinga serta bagian bawah lidah. Sianosis perifer akan terjadi apabila aliran darah banyak berkurang sehingga sangat menurunkan saturasi darah vena, dan akan menyebabkan suatu daerah menjadi biru. Sianosis perifer dapat terjadi akibat infusiensi jantung, sumbatan pada aliran darah, atau vasokonstriksi pembuluh darah akibat suhu yang dingin.
Pada orang yang bekerja di suatu perkantoran ataupun perbankan, sering terkena suhu yang dingin akibat penggunaan AC yang terus menerus dalam suatu ruangan kerja. Oleh sebab itu, orang – orang yang bekerja pada ruangan yang ber AC mempunyai resiko yang lebih besar terkena sianosis khususnya sianosis perifer
4. Empisema Paru Kronik
Empisema paru kronik yang dapat muncul bila seseorang menghisap asap rokok dalam jangka waktu yang lama. Orang – orang yang bekerja pada perkantoran yang ruangannya tidak ber–AC dan kebetulan di dalam ruangan tersebut terdapat perokok, maka seluruh pegawai dalam ruangan tersebut mempunyai resiko untuk terkena empisema paru kronik. Empisema paru kronik yang disebabkan oleh asap rokok ini diakibatkan oleh adanya bahan – bahan yang dapat mengiritasi bronkhus dan bronkhiolus. Bahan – bahan tersebut mengacaukan mekanisme pertahanan normal saluran pernafasan termasuk kelumpuhan sebagian silia epitel pernafasan oleh efek nikotin. Sehingga mukus tidak dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran nafas. Perangsangan sekresi mukus yag berlebihan yang selanjutnya mengakibatkan kekambuhan kondisi ini, dan hambatan terhadap makrofag alveolus sehingga menjadi kurang efektif dalam memerangi infeksi.
5. Stress Emosi
Selain penyakit pernafasan, orang – orang yang bekerja pada perkantoran ataupun perbankan juga mempunyai kecenderungan untuk mengalami stress emosi. Stress ini dapat disebabkan karena banyaknya pekerjaan yang dibebankan pada mereka, konflik dengan teman sekantor ataupun karena kebosanan terhadap pekerjaan yang monoton di kantor. Untuk menghindari terjadinya stress perlu diciptakan suatu suasana kerja yang harmonis dan variatif.
Suatu hal yang sering kita lupakan pada tinjauan aspek klinik adalah kedudukan pegawai wanita yang hamil. Dalam suatu perkantoran pada umumnya belum diatur secara jelas apa yang menjadi hak mereka. Misalnya, mereka berhak mendapat cuti selama berapa bulan. Namun, yang perlu diingat bahwa selama pegawai tersebut cuti hamil mereka tetap mendapatkan gaji secara utuh. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya menetapkan suatu UU yang mengatur hal ini.

VII. STRATEGI PENANGGULANGAN
Dalam melakukan strategi penanggulangan, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Proses Kerja
Agar proses kerja pada perkantoran modern berjalan optimal, maka proses kerja yang dilakukan harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan proses kerja diantaranya:
a. Sikap tubuh dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, alat petunjuk dan cara-cara dalam melayani mesin (gerak, arah dan kekuatan)
b. Untuk normalisasi ukuran mesin dan alat-alat kerja, harus diambil ukuran terbesar sebagai dasar serta diatur dengan suatu cara, sehingga ukuran tersebut dapat diperkecil dan dapat dipakai oleh tenaga kerja yang lebih kecil. Misalnya; kursi dapat dinaik turunkan, tempat duduk yang dapat dimaju-mundurkan, dll.
c. Dari sudut otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang, dinasehatkan untuk duduk tegak, agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan pemilihan sikap duduk tegak diselingi istrirahat dengan sedikit membungkuk.
d. Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk. Jika tidak mungkin, kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk duduk.

2. Pengendalian Lingkungan Kerja
a. Lingkungan fisik
• Pekerjaan yang memerlukan ketelitian harus mendapat penerangan yang intensitasnya tinggi (±1000 luks). Pekerjaan yang memerlukan perbedaan dalam waktu yang pendek dan kontras harus mendapat penerangan sedikitnya 3000 luks. Pekerjaan kasar yang tidak memerlukan penglihatan yang kritis harus mendapat penerangan sedikitnya 50 luks. Selain intensitas penerangan, kesilauan dan kedipan antara obyek kerja dan sekitarnya juga harus diperhatikan. Sumber cahaya lain selain dari matahari tidak boleh menimbulkan panas berlebihan atau merusak susunan udara sehingga mengakibatkan gangguan dalam bekerja.
• Membersihkan mesin atau peralatan lain (seperti AC) dari debu-debu yang bisa masuk per inhalasi dan mengganggu kesehatan secara rutin
• Mengatur kelembaban udara, pH, suhu sehingga mikroba dan jamur tidak tumbuh
b. Lingkungan sosial budaya
Menciptakan suasana perkantoran yang kondusif. Keharmonisan antar karyawan dan antar karyawan dengan atasan akan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, selain itu bisa mengurangi penyakit yang sering menyerang karyawan yaitu stress.

3. Manajemen Pelayanan Kesehatan Kerja pada Karyawan
a) Primer level of prevention
Penyuluhan kesehatan yang dapat dilakukan diantaranya tentang gizi yang baik (karena kebanyakan pekerja perkantoran lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji akibat waktu istirahat yang terbatas, dimana makanan cepat saji ini disinyalir menjadi penyebab stroke dan penyakit jantung koroner), sanitasi individu dan lingkungan kerja, kebiasaan hidup sehat dan kegiatan sosial/rekreasi serta spiritual
b) Secondary level
Early diagnosis terhadap karyawan sehingga jika dimungkinkan adanya penyakit kerja maka akan segera diketahui dan diterapi. Sehingga fungsi tubuh bisa cepat kembali dan tidak menimbulkan kecacatan
c) Rehabilitation

4. Sistem Manajemen
? Kebijakan perusahaan dalam pemberian upah yang sesuai sehingga karyawan tidak mencari kerja sambilan yang akan mengganggu produktivitas kerja dan juga kesehatannya
? Pengadaan sarana kesehatan yang memadai seperti klinik, rumah sakit dan yang lainnya
? Pemberlakuan sangsi bagi pekerja yang melanggar aturan kesehatan dan keselamatan kerja
? Adanya pembagian shift ataupun kerja malam secara proporsional, karena pada pekerja malam (lemburan) akan menyebabkan:
a. Irama faal terganggu
b. Adanya ketidakseimbangan elektrolit tubuh
c. Kelelahan yang sangat akibat kuatnya kerja parasimpatis dibanding simpatis
? Adanya kebijakan bahwa pekerja dalam sehari tujuh jam dan 35 jam dalam seminggu

5. Pelaksanaan UU yang berhubungan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(a) UU Kerja No. 3
“Tiap-tiap minggu harus diadakan sedikitnya sehari untuk istirahat”
(b) PP Menaker No. 7 Tahun 1964
? Memenuhi ukuran yang sesuai dengan tubuh tenaga kerja kita dan sesuai dengan bentuknya
? Nyaman sehingga menghindarkan ketegangan otot dan kelesuan yang berlebihan
? Memudahkan gerakan untuk bekerja, harus ada sandaran punggung
(c) UU No. 14 Tahun 1969 tentang ketentuan pokok tenaga kerja
Memuat ketentuan pokok tenaga kerja, mengatur hygiene perusahan dan kesehatan kerja
(d) Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1951
“Buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jikalau pekerjaan dilakukan malam hari atau berbahaya bagi kesehatan atau keselamatan buruh, waktu kerja tidak boleh lebih dari 6 jam sehari dan 35 jam seminggu” (Pasal 10 Ayat 1)


DAFTAR PUSTAKA

Canadian Institute Health Research, 2004. Ultra-violet Irradiation Could Reduce Office Sickness. (Online). (http://www.sk.lung.ca/content.cfm?edit_realword=xtra0129), diakses tanggal 9 April 2005.
Sukar, 1999. Sindroma Penyakit pada Gedung Bertingkat. (Online). (http://www.litbang.depkes.go.id/ekologi/abstrak_98-99.htm - 113k), diakses tanggal 9 April 2004.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGEN PENDEKATAN FISIOBIOLOGI

PENDAHULUAN
a. Semua sel dalam tubuh akan menghasilkan energi yang digunakan menyelenggarakan FUNGSI SELULERNYA.
b. Energi di dapat melalui metabolisme zat makanan (gula / glukosa) dalam rangkaian reaksi kimia dengan menggunakan OKSIGEN.
c. Reaksi kimia menghasilkan energi, air, CO2
d. < O2 ? sel mendapatenergi dari glikolisis anaerob menghasilkan energi dalam jumlah sedikit dan asam laktat
e. Glikoliis anaerob berlangsung lama menyebabkan timbunan asam laktat akan merubah situasi cairan tubuh menjadi lebih asam menyebabkan aktivitas sel ?
f. Dampak ? aktivitas sel : hilangnya nafsumakan, ? urine output, pusing, nyeri kepala, wajah nampak ngantuk, cemas, lelah ? lebih berat : ? tingkat kesadaran ? ? koma (diawali klien gelisah & tidak kooperatif)

OKSIGEN : KEBUTUHAN DASAR YANG PALING VITAL DALAM KEHIDUPAN
OKIGENASI :
Proses mendapatkan O2 dan mengeluarkan CO2
Melibatkan sistem pernafasan dan kardiovaskuler
3 Tahapan :
1. Ventilasi Paru
2. Difusi Gas
3. Transportasi Gas

VENTILASI PARU
Masuknya O2 atmosfir ke dalam alveoli dan keluarnya CO2 dari alveoli ke atmosfir terjadi saat respirasi (inspirasi – ekspirasi).
Dipengaruhi oleh :
1. Tekanan O2 atmosfir
2. Keadaan saluran nafas
3. Compliance & recoil
4. Pengaruh nafas

Tekanan O2 Atmosfer :
1. Merupakan jumlah tekanan berbagai gas yang terkandung dalam udara.
2. Saat inspirasi tekanan udara atmosfir yang rendah ? masuk ka alveolus.
Keadaan saluran nafas :
Inspirasi & ekspirasi ? udara melewati saluran nafas (hidung, pharynx, larynx, trachea, bronchus, bronchiolus, alveoli).
Penyebab jalan nafas menjadi lebih sempit / tersumbat ? secret lebih/kental, spasme/kontriksi, benda asing/ masa di saluran nafas / di luar saluran nafas.
Complience & Recoil
1. Daya pengembangan dan pengempisan paru & thorak
2. Kemampuan terbentuk oleh :
a. Gerakan turun naik diafragma melalui kontraksi & relaksasi otot diafragma.
b. Elevasi & depresi iga-iga untuk ? & ? diameter anteroposterior rongga dada melalui kontraksi dan relaksasi otot-otot respirasi.
c. Elastisitas jaringan paru memungkinkan alveolus mengembang dan mengempis.
d. Adanya surfaktan (zat phospholipids yang meliputi permukaan alveoli) paru-paru mudah dikembangkan & mencegah kolap paru.
Pengaturan Nafas
1. Pusat pengaturan respirasi : medulla oblongata & Pons.
2. Pusat nafas terangsang oleh ? CO2 seluruh tubuh.
Ners dituntut : dapat mengidentifikasi kemampuan ventilasi paru klien dan memperkirakan faktor penyebab yang menghambat ventilasi

Kebutuhan Oksigen dipengaruhi oleh :
1. Ketinggian
Dataran tinggi : tekanan darah ? ? tekanan oksigen ?
Sebaliknya
2. Lingkungan
Lingkungan panas dan dingin mempengaruhi kebutuhan seseorang terhadap oksigen.
3. Latihan
Latihan fisik mempengaruhi ? denyut jantung dan respirasi sehingga ? kebutuhan oksigen.
4. Emosi
Takut, cemas, marah merangsang aktivitas simpatis menyebabkan ? denyut jantung frekuensi resp. sehingga kebutuhan oksigen ?
5. Status Kesehatan
Gangguan pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler dapat mempengaruhi kebutuhan oksigen.
6. Gaya Hidup:
Kebiasaan merokok mempengaruhi keadaan pemenuhan oksigen seseorang

PENGKAJIAN
A Keadaan saluran nafas
Apakah klien merasa sesak / kesulitan bernafas ?
Adakah ? frekuensi / tipe pernafasan ?
Apakah klien batuk ? (sputum, hemoptisis)
Bagaimana suara nafasnya ?
? + vesikuler
? + suara nafas tambahan : snoring (ngorok), gargling (seperti suara kumur-kumur), crowing (lengking).
Inspeksi adanya retraksi sternokleidomastoid
Auskultasi Paru : wheezing (penyempatan jalan nafas), rales (? kelembapan saluran nafas), ronchi (akumulasi secret).
Palpasi daerah leher : pembesaran thyroid
Nyeri daerah thorak / abdomen ? menghalangi kemampuan batuk.

B DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
a. Penumpkkan secret / secret yangkental / benda asing.
b. Trauma ? menghalangi batuk ekspansi dada / paru dan batuk
c. Tidak sadar (pengaruh anestesi) / koma ? menyebabkan relaksasi otot-otot
d. Penyakit yang mengganggu kemampuan batuk / pengeluaran secret
e. Tidak adekuat hidrasi
f. Penyakit paru ? penumpukan secret.
Manifestasi Klinis
a. Suara nafas abnormal
b. Batuk produktif dengan secret berlebihan
c. Batuk tidak produktif
d. Sianosis
e. Dispnea
f. Retraksi otot sternokleidomastoid
g. Perubahan rate & kedalaman pernafasan
Intervensi
Intervensi yang tepat tergantung faktor penyebab ? secara umum menghemat penggunaan oksigen istirahat.
a. Penumpukan secret:
1. Secret kental:
a. Berikan cairan yang adekuat bila tidak ada kontra indikasi
b. Humidifikasi / nebulisasi
c. Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran

2. Secret berada pada saluran nafas besar (sampai dengan brochus):
a. Latihan batuk efektif jika klien sadar, kooperatif dan punya kemampuan untuk batuk
b. Jika tidak bisa batuk karena nyeri thorak / abdomen (pembedahan / trauma) ? kolaborasi anti nyeri.
c. Jika tidak bisa batuk lakukan pengisapan lendir.

3. Secret terdapat pada percabangan saluran nafas yang kecil / alveoli: Lakukan fisioterapi dada dengan drainage postural, kemudian batuk efektif atau pengisapan lendir.



b. Tersumbat obstruksi :
1) Oleh lidah yang jatuh kebelakang pada klien koma / pengaruh anestesi, trauma ? obstruksi sal nafas bagian atas ? lakukan pemasangan oropharyngeal tube (mouth tube / goedel).
2) Tersumbat oleh masa, trauma / penyakit yang menyebabkan tertutup atau menyempitnya jalan nafas bawah pharynx ? kolaborasi pemasangan endotracheal tube / tracheotomy.
3) Akibat infeksi akut, alergi yang menyebabkan spasme bronchial & edema atau bronchokontriki ? kolaborasi pemberian kortikoteroid, anti alergi atau bronchodilator.
Kemampuan compliance & recoil thorak dan paru, dilakukan dengan pemeriksaan.
a) Apakah klien mengalami kesulitan bernafas
b) Pemeriksaan fisik
1) Apakah klien mengalami kesulitan bernafas?
2) Pemeriksaan fisik
Inspeksi :
? Penggunaan otot-otot pernafasan tambahan ? menandakan kesulitan pengembangan dada / paru akan terjadi karena penyempitan jalan nafas / gangguan pengembangan covum thoraks / kesulitan pengembangan paru / kesimetrisan pengembangan dada.
? Frekuensi, irama, kedalaman resp & rasio insp: eksp.
? Adakah distensi abdomen yang akan menghalangi ? diafragma.
Auskultasi :
? Bandingkan suara aliran udara paru kiri dan kanan.
? Adakah suara nafas tambahan (rales, wheezing, rochi) yang akan mengganggu kemampuan compliance paru.
Palpasi :
? Keadaan tulang iga, adakah fraktur?
? Vokal fremitus?
Perkusi :
Adakah perubahan suara perkusi diatas area paru
a) Adakah klien mengalami masalah pada hub saraf – otot atau masalah sistem saraf?
b) Adakah klien mengalami nyeri abdomen / thorak? Keadaan nyeri akan menghalangi pengembangan paru.
c) Apakah mampu melakukan aktivitas / immobilisasi ?
d) Apakah ada riwayat trauma kepala / penggunaan obat-obat narkotik yang menekan pusat nafas?
e) Hasil analisa gas darah?

C DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan:
a. Obstruksi jalan nafas
b. Ekspansi dada yang tidak adekuat ? karena imobilisasi, nyeri dada / abdomen.
c. Gangguan neuromuskuler
d. Penyakit paru kronis akanmenyebabkan penumpukan udara / cairan pada rongga pleura
e. ? pengeluaran CO2 karena penyakit paru tertentu (empisema).
2. Manifestasi klinis
a. Dispnea
b. ? frekuensi pernafasan
c. perubahan kedalam pernafasan
d. perubahan rasio inspirasi : ekspirasi
e. retraksi dada

D Intervensi
a. Intervensi yang sifatnya umum untuk semua perubahan pola nafas :
Posisi semi fowler / fowler ? ? kapasitas vital paru
Perubahan posisi memberikan kesempatan semua alveoli berkembang secara optimal.
Ambulasi / exercise mempengaruhi ? pembentukan energi untuk bernafas & CO2 yang akan merangsang pusat nafas.
b. Intervensi spesifik
Latihan nafas dalam ? untuk pasien dengan pernafasan cepat dan dangkal ? mencegah ateletaksis.
Latihan pursed lip breathing ? latihan nafas diafragma / menggunakan incentive spirometers ? untuk pasien dengan hambatan dalam ekspirasi / retensi CO2.
c. Intervensi medis
Pemasangan WSD ? untuk ? tekanan intra pleura akibat efusi pleura, pneumothorax yang mengganggu pengembangan paru
Pemasangan fiksasi ? klien dengan multiple fraktur costae.
Pemasangan ventilator / respirator / IPPB ? klien yang mengalami kesulitan nafas akibat gangguan pada hubungan saraf – otot / gangguan sistem saraf.

E DIFUSI GAS
Pertukaran antara O2 dan CO2 alveoli dengan kapiler paru.
Dipengaruhi oleh
1) Ketebalan membran respirasi
2) Luas permukaan membran
3) Koefisien difusi
4) Perbedaan tekanan

Kemampuan difusi gas antara alveoli dengan kapiler paru
Pemeriksaan :
1. KETEBALAN MEMBRAN RESPIRASI
Inspeksi :
a. Retraksi Intercostals, Retraksi Substernal (klien dengan edema paru / radang paru akut)
b. Pernafasan cepat dan dangkal
c. Pernafasan cuping hidung

Auskultasi Suara Paru
Rales (edema paru / radang paru akut)

2. PERUBAHAN LUAS PERMUKAAN PARU :
a. Adakah riwayat operasi ? pengangkatan lobus paru
b. Hasil pemeriksaan thorak photo

3. PERKIRAAN TEKANAN GAS PADA ALVEOLI
Tanda – tanda hambatan ventilasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan pertukaran gas aperfusi jaringan tidak adekuat, berhubungan dengan:
a. Edema Paru
b. Congesti paru
Dengan manifestasi klinis :
a. Hipoventilasi
b. ? kesadaran
c. Sianosis
d. Ekstremitas dingin dan lembab
e. Gas darah abnormal
Intervensi
1) Istirahat ? untuk menghemat penggunaan oksigen (intervensi utama)
2) Pemberian Oksigen ? untuk perbedaan konsentrasi / tekanan oksigen antara alveoli dengan kapiler.
3) membatasi intake cairan (pada klien dengan edema paru)
4) Ambulasi ? untuk ? sirkulasi yang akan memperbaiki rtio perfusi – ventilasi.
5) Kolaborasi : antibiotik (khusus pada klien radang akut parenkim paru.
6) ? Intake protein melalui oral / pemberian plasma albumin (khusus pada hipoalbuminemia)

TRANSPORTASI GAS
Untuk transportasi gas (O2 dan CO2) ditentukan oleh aktivitas sistem kardiovaskuler

Transportasi Oksigen
Oksigen dapat di transport dari kapiler paru ke jaringan-jaringan melalui 2 cara :
a. Secara fisik ? larut dalam plasma (3%)
b. Secara kimia ? berikatan dengan Hb dalam bentuk oxyhemoglobin / HbO2 (97%)
c.
Transport CO2
Transport dari jaringan ke paru-paru kemudian dibuang ke atmosfer, dilakukan dengan cara :
a. Secara fisik ? larut dalam plasma (5%)
b. Secara kimia ? bergabung dengan Hb membentuk carbaminohemoglobin (30%)
c. Berikatan dengan air kemudian membentuk bicarbonat plasma (65%).

Dalam keadaan istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah di transport dari jaringan ke paru-paru
CO2 penting bagi keseimbangan asam basa

Transport gas dipengaruhi oleh:
Curah jantung
N. dewasa CO 5lt ? melalui darah di transport sekitar 5 ml O2 dan 4 ml CO2 per 100 ml darah ? curah jantung ? kecepatan transport O2 ke jaringan dan CO2 dari jaringan.

Jumlah eritrosit
O2 di transport secara kimia berikatan dengan Hb yang terdapat dalam eritrosit ? ? eritrosit dan konsentrasi Hb ? ? transportasi oksigen.

Exercise
Pada gerak badan berat / atlet terlatih ? kecepatan transport O2 ke jaringan ? 15 – 20 kali dari normal
Exercise ? produksi CO2 ? merangsang pusat nafas dan ? kecepatan denyut jantung ? sehingga mempercepat pengiriman CO2 keluar tubuh.

Hematokrit darah:
? HCT >> akan ? viscositas darah ? sehingga beban jantung ? yang mengakibatkan ? curah jantung.
? HCT menggambarkan jumlah cairan <, sementara 65% CO2 di transport dalam keadaan b erikatan H2O
? HCT menggambarkan rendahnya konsentrasi eritrosit dalam darah menyebabkan ? transportasi O2.
Keadaan pembuluh darah
Sumbatan / penyempitan pembuluh darah (ex. Arteriosclerosis O2 ke jaringan sumbatan vena akan ?pengiriman CO2 ke jaringan.
Untuk memperkirakan transportasi gas ? dilakukan pemeriksaan:
1. Evaluasi curah jantung :
Apakah klien mengalami :
a. Nafas pedek?
b. Kelelahan
c. Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
Amati sirkulasi perifer
a. Adakah perasaan tak nyaman pada dada
b. Adakah ?/? BB?
c. Adakah pembengkakan ekstremitas ?
d. Adakah klien mengeluh pusing, sakit kepala, palpitasi ?
e. Berapa jumlah urine out put ? (N. 1 – 2 ml /kg BB/Jam)
f. Amati status mental / tingkat kesadaran klien.

Perkiraan keadaan otot jantung
a. Pemeriksaan serum enzim
b. Pemeriksaan EKG

Pemeriksaan suara jantung
a. S1 – S2
b. Suara jantung tambahan : S3, S4, murmur
Lakukan pemeriksaan
a. Tekanan darah pada berbagai posisi (N. 5 – 10 mmHg)
b. Hitung pulse pressure
c. Radial pulse
d. Frekuensi denyut jantung
e. CTR
f. CVP
g. Adanya distensi vena jugularis
h. Adanya hepato jugular
i. Reflux
j. Serum elektrolit

2. Evaluasi Jumlah Eritrosit dan Hb
3. Evaluasi keadaan cairan tubuh
Periksa tekanan darah
Periksa HCT dan bandingkan dengan Hb (N = 3 x Hb)
Amati tanda-tanda > / < cairan

4. Evaluasi Kondisi Pembuluh Darah
Sumbatan arteri
Area distal sumbatan menjadi :
a. Pucat atau sianosis
b. Pada rabaan dingin
c. Klien mengeluh nyeri terutama saat digerakkan
d. Kulit nampak kering
e. Nadi kadang-kadang tak teraba
Sumbatan vena
Area proximal sumbatan:
a. Kemerahan
b. Pada rabaan panas
c. Klien mengeluh nyeri
d. Tampak bengkak

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Hambatan transportasi gas berhubungan dengan defisiensi hemoglobin,
Manifestasi klinis:
a. Mudah lelah
b. Pusing/sakit kepala

Intervensi
a. Kolaborasi dengan medis ? pemberian transfusi darah (jika diperlukan)
b. Perbaikan diet (TKTP) dan banyak mengkonsumsi sayuran berchlorophyl.

2. Perubahan curah jantung berhubungan dengan:
Disfusi jantung akibat penyakit pada a. coronaria, penyakit katup, abnormal struktur, kegagalan konduksi
? volume cairan intravaskuler
Cardiac arrest
Imbalance elektrolit
Manifestasi Klinis
Arrhythmia jantung
Perubahan tekanan darah
Adanya abnormalitas suara jantung : S3, S4, murmur.
Pucat cianosis pada kulit dan mukosa membran
Kulit dingin dan lembab
Batuk dengan sputum berbercak kemerahan
Abnormalitas elektrolit terutama kalium
Intervensi Kep:
Untuk mengatasi masalah ? curah jantung ? >> intervensi medis yang sangat spesifik sesuai dengan penyebabnya. Ners melakukan intervensi sebagai implikasi dari intervensi medis,
Misalnya :
A Disfungsi Jantung (payah jantung)
Intervensi Keperawatan:
a. Istirahat kan menghemat Oksigen
b. Batasi intake cairan (jumlah out put + insensible water loss)
c. Batasi intake natrium
Intervensi Medis
a. Pemberian digoxin berpengaruh ? kekuatan kontraksi jantung (efek inotropik +) sehingga isi sekuncup ? yang menyebabkan denyut jantung ?
b. Pada hipokalemia mempengaruhi digoxin akan menyebabkan arrytmia, efek samping lain: mual, muntah, nyeri kepala, diare.
Implikasi Keperawatan
a. Sebelum pemberian digoxin; periksa denyut jantung (jika DJ sekitar 60 – 80 x/menit ? kolaborasi untuk perubahan dosis atau dihentikan sementara?).
b. Periksa serum Kalium (jika serum kalium, 3,5 mEq/I ? koreksi Kalium
c. Sesudah pemberian : amati tanda-tanda efek samping obat.

B Penurunan Cairan Intravaskuler
Intervensi medis
Pemberian cairan melalui intravenous line (infus) sesuai dengan kebutuhan.
Implikasi Keperawatan :
a. Tentukan tempat pemasangan sesuai dengan jenis cairan dan perkirakan lamanya pemasangan infus.
b. Observasi kecepatan cairan dan lokasi pemasangan
c. Catat intake dan out put
d. Observasi tanda-tanda kecukupan cairan

C Cardiac Arrest :
Intervensi :Resusitasi cardio – pulmo cerebral

D Imbalance elektrolit :
Intervensi : koreksi elektrolit

ASPIRASI PNEUMONIA KAUSA INTOKSIKASI MINYAK TANAH

Pengertian :
Aspirasi pneumonia adalah radang parenkim paru, karena masuknya benda asing/ aspirasi isi lambung. Sebagian bersifat kimia, akibat reaksi terhadap asam lambung dan sebagaian bacterial akibat organisme yang mendiami mulut dan lambung.
Aspirasi isi lambung dalam jumlah sedikit dapat mengakibatkan edema paru yang menyebar luas dan kegagalan pernafasan.
Minyak tanah dapat menimbulkan keracunan bila terminum manusia dan bila diaspirasi kedalam paru dapat menyebabkan keracunan akut, perdarahan dan bronkopneumonia yang akhirnya menyebabkan kematian.

Laporan kasus :
I. Pengkajian : tanggal 17 – 4 – 200
Jam : 14.30 WIB

IDENTITAS :
Anak AND, laki-laki, 14 bulan, anak I, No CM : 10054458, Diagnosa Medis : Aspirasi pneumonia, causa Intoksikasi Minyak Tanah, dirawat di UPI R. Anak RSUD. Soedarso Pontianak sejak tanggal 16 April 2009 jam 18.45 WIB.

R.K.S
• Awal kejadian, pagi 16 April 2009 klien ditinggal kedua orang tuanya, bersama neneknya di rumah. Saat nenek berada didepan rumah, klein jalan sendiri ke dapur lalu minum minyak tanah yang ada di botol aqua, waktu dan jumlah yang dimunum tidak diketahui persis.
• Klien sempat diberi minum air oleh neneknya, lalu dibawa ke RSU Sambas.
• Di RSU Sambas klien sempat dikumbah lambung dan klien sempat tidak sadar
• Klien dikirim ke RSUD. Soedarso Pontianak

INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan 1 :
Gangguan pertukaran gas berhubungan edema paru
1. Mengobservasi VS : N, S, T, P
2. Memberikan injeksi :
• Cefotaxim 300 mg/I.V
• Cloxacillin 150 mg/I.V
• Kalmethason 3 mg/I.V
3. Melanjutkan terapi O2 : 2 leter/menit via kanule, masker : 10 Liter/menit, ambu bag
4. Mengobservasi posisi dan tetesan infus D10¼Saline 900 cc/24 jam
5. Monitor dan menganalisa AGD
6. Mengatakan kepada orang tua klien bahwa anaknya masih puasa
7. Melakukan bantuan nafas (ambu bag) dan pijat jantung luar
8. Memberikan injeksi adrenalin 1 : 10.000 IU/I.V

INTERVENSI
Diagnosa Keperawatan 2 :
Intolenransi aktifitas berhubunan dengan ketidak seimbangan suplai O2
1. Membatasi pengunjung selama klien kritis
2. Kalau ada keluarga yang bezuk
3. Menjelaskan kepada ibu klien dan neneknya tentang pentingnya keseimbangan istrahat dan aktifitas bagi klien
4. Membantu klien memilih posisi nyaman untuk istirahat
5. Mengevaluasi respon klien terhadap aktifitas ringan

Selasa, Juni 23, 2009

TEKNIS OPERASIONAL DAN INTERPRESTASI EKG STRIP

ELEKTROKARDIOGRAFI

Pendahuluan
Elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktifitas listrik jantung. Sedangkan Elektrokardiografi (EKG) adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung. Kegiatan listrik jantung dalam tubuh dapat dicatat dan direkam melalui elektroda yang dipasang pada permukaan tubuh. EKG sangat berguna dalam membantu menegak kan diagnosa beberapa penyakit jantung, akan tetapi klinis pasien tetap merupakan pegangan yang penting dalam menegakkan diagnosa, sebab sering kelainan EKG ditemukan pada orang normal atau sebaliknya gambaran EKG normal didapatkan pada orang yang menderita kelainan jantung. Oleh sebab itu dalam pembelajaran EKG selalu ditekankan adanya istilah “Don’t treat the monitor but treat the patient”.

EKG sangat berguna dalam menentukan kelainan seperti berikut : Gangguan irama jantung (Disritmia), Hipertrofi Atrium & Ventrikel, Iskemia/Infark otot jantung, Perikarditis, efek beberapa obat – obatan terutama digitalis dan antiaritmia, kelinan elektrolit yang juga dapat menyebabkan kelainan EKG serta untuk menilai fungsi pacu jantung. Sebelum sampai dengan interpretasi EKG, berikut akan dibahas dulu mengenai :

1. SANDAPAN EKG
A. Sandapan bipolar
B. Sandapan Unipolar

2. KERTAS EKG

3. KURVA EKG
A. Gelombang P
B. Gelombang QRS
C. Gelombang T
D. Gelombang U
E. Interval PR
F. Segemen ST

4. Cara menilai EKG strip

1. SANDAPAN EKG

Untuk memperoleh rekaman EKG, dipasang elektroda-elektroda di kulit pada tempat tertentu. Lokasi penempatan elektroda ini penting, karena penempatan yang salah akan menghasilkan pencatatan yang berbeda.
Terdapat 2 jenis sandapan (“Lead”) pada EKG.
1. Sandapan bipolar
2. Sandapan unipolar

Sandapan bipolar
Dinamakan sandapan bipolar karena sandapan ini hanya merekam perbedaan potensial dari 2 elektroda, sandapan ini ditandai dengan angka romawi I, II dan III.

Sandapan I : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan (+).
Sandapan II : Merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).
Sandapan III : Merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).
Ketiga sandapan ini dapat digambarkan sebagai sebuah segitiga sama sisi (segitiga EINTHOVEN)

Sandapan Unipolar
Sandapan unipolar ini terdiri dari 2, yaitu sandapan unipolar ekstremitas dan unipolar prekordial.

Sandapan unipolar ekremitas
Merekam besar potensial listrik pada satu ektremitas, elektroda eksplorasi diletakkan pada ekstremitas yang akan diukur. Gabungan elektroda-elektroda pada ekstremitas lain membentuk elektroda indiferen (potensial 0).

Sandapan aVR : Merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA), dimana tangan kanan bermuatan (+), tangan kiri dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan aVL : Merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA), dimana tangan kiri bermuatan (+), tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sandapan aVF : Merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF), dimana kaki kiri bermuatan (+), tangan kanan dan tangan kiri membentuk elektroda indiferen.

Sandapan unipolar prekordial
Merekam besar potensial listrik jantung dengan bentuan elektroda eksplorasi yang ditempatkan di beberapa tempat pada dinding dada. Elektroda indiferen diperoleh dengan meggabungkan ketiga elektroda ekstremitas.
Sandapan V1 : Ruang interkostal IV garis sternal kanan
Sandapan V2 : Ruang interkostal IV garis sternal kiri
Sandapan V3 : Pertengahan antara V2 dan V4
Sandapan V4 : Ruang interkostal V garis midklavikula kiri
Sandapan V5 : Sejajar V4 garis aksila depan
Sandapan V6 : Sejajar V4 garis aksila tengah
Umumnya perekaman EKG lengkap dibuat 12 sandapan (lead), akan tetapi pada keadaan tertentu perekaman dibuat sampai V7, V8, V9 atau V3R, V4R.

















Gambar 1. Sandapan Bipolar dan Unipolar
Sumber : Halloway, 1993


2. KERTAS EKG

Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horizontal dan vertikal dengan jarak 1 mm. Garis yang lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm. Garis horizontal menggambarkan waktu dimana 1 mm = 0,04 detik;5 mm = 0,20 detik. Garis vertikal menggambarkan voltase dimana 1 mm = 0,1 milivolt; 10 mm = 1 milivolt.

Pada praktek sehari-hari perekaman dibuat dengan kecepatan 25 mm/detik. Kalibrasi yang biasa dilakukan adalah 1 milivolt yang menghasilkan defleksi setinggi 10 mm. Pada keadaan tertentu kalibrasi dapat diperbesar yang akan menghasilkan defleksi 20 mm atau diperkecil yang akan menghasilkan defleksi setinggi 5 mm. Hal ini haris dicatat pada kertas hasil rekaman, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang salah bagi yang membacanya.





















Gambar 2. Kertas EKG
Sumber : Huff, 1993


3. KURVA EKG

Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi pada Atrium dan Ventrikel.
Proses listrik ini terdiri dari :
1. Depolarisasi Atrium
2. Repolarisasi Atrium
3. Depolarisasi Ventrikel
4. Repolarisasi Ventrikel

Sesuai dengan proses listrik jantung, setiap hantaran pada EKG normal memperlihatkan 3 proses listrik yaitu; depolarisasi Atrium, depolarisasi Ventrikel dan repolarisasi Ventrikel. Repolarisasi Atrium umumnya tidak terlihat pada EKG karena disamping intensitasnya kecil juga repolarisasi Atrium waktunya bersamaan dengan depolarisasi Ventrikel yang mempunyai intensitas yang jauh lebih besar.

Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P, Q, R, S dan T serta kadang terlihat gelombang U. Selain itu juga ada beberapa interval dan segmen EKG.

















Gambar 3. Kurva EKG
Sumber : Huff, 1993

Gelombang P

Merupakan gambaran proses depolarisasi Atrium
Nilai normal - Lebar < 0,12 detik
- Tinggi < 0,3 milivolt
- Selalu (+) di Lead II
- Selalu (-) di Lead aVR

Gelombang QRS

Merupakan gambaran proses depolarisasi Ventrikel
Nilai normal - Lebar 0,06 – 0,12 detik
- Tinggi tergantung sandapan (lead)
Gelombang QRS terdiri dari gelombang Q, R dan S

Gelombang Q adalah defleksi negatif pertama pada gelombang QRS.

Nilai normal gelombang Q adalah :
- Lebar < 0,12 detik
- Dalamnya < 1/3 tinggi R

Gelombang Q abnormal disebut gelombang Q pathologis.
Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya gelombang QRS positif di L I, LII, V5 dan V6. Dilead aVR, V1 dan V2 biasanya hanya kecil atai tidak ada sama sekali.

Gelombang S adalah defleksi negatif setelah gelombang R.
Di lead aVR, V1 dan V2, gelombang S terlihat lebih dalam, di lead V4, V5 dan V6 makin berkurang dalamnya.

Gelombang T

Merupakan gambaran proses repolarisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hampir semua lead kecuali di aVR.

Gelombang U

Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebab timbulnya gelombang U masih belum diketahui, namun diduga timbul akibat repolarisasi lambat sistem konduksi Interventrikuler.

Interval PR

Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar antara 0,12 – 0,20 detik. Ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi Atrium dan jalannya impuls melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi Ventrikel.

Segmen ST

Segment ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T. segmen ini normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekordial dapat bervariasi dari – 0,5 sampai +2 mm. Segmen ST yang naik diatas garis isoelektris disebut ST elevasi dan yang turun dibawahi garis isoelektris disebut ST depresi.

4. CARA MENGINTERPRETASIKAN EKG STRIP

1. Tentukan iramanya teratur atau tidak, dengan cara melihat jarak antara QRS satu dengan QRS yang lain jaraknya sama atau tidak.
2. Tentukan frekuensi jantung (“Heart rate”)
Menghitung frekuensi jantung ( HR ) melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. 300
Jumlah kotak sedang antara R – R’

b. 1500
Jumlah kotak kecil antara R –R’

c. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah gelombang QRS dalam 6 detik tsb kemudian dikalikan 10 atau ambil dalam 12 detik, kalikan 5.
3. Tentukan gelombang P normal atau tidak, juga lihat apakah setiap gelombang P selalu diikuti gelombang QRS ? (P : QRS) ?
4. Tentukan interval PR normal atau tidak ?
5. Tentukan gelombang QRS normal atau tidak ?
Irama EKG yang normal impuls ( sumber listrik ) berasal dari Nodus SA, maka iramanya disebut dengan irama Sinus (“Sinus Rhythim”).


Kriteria Irama Sinus adalah :
- Irama teratur
- Frekuensi jantung ( HR )  60 – 100 X/menit
- Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR normal  0,12 – 0,20 detik
- Gelombang QRS normal  0,16 – 0,12 detik








Irama yang tidak mempunyai kriteria disebut di atas disebut ARITMIA atau DISRITMIA.

Aritmia terdiri dari aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls atau aritmia dapat terjadi juga dikarenakan oleh gangguan penghantaran impuls.

Beberapa contoh gambaran aritmia yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan impuls.

TAKHIKARDIA SINUS ( ST )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi : > 100 – 150 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR : Normal (0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal (0,06 – 0,12 detik)



BRADIKARDI SINUS ( SB )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : < 60 X/menit

- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal ( 0,12 - 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )

“ARITMIA SINUS”
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Bisanya antara 60 – 100 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS, T
- Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )





“ SINUS ARREST “

Kriteria :
- Terdapat episode hilangnya satu atau lebih gelombang P, QRS dan T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
- Hilangnya gel P, QRS, T tidak menyebabkan kelipatan jarak antara R – R’







EKSTRASISTOL ATRIAL ( AES/PAB/PAC )
Kriteria :
- Ekstrasistol selalu mengikuti irama dasar
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Bentuknya berbeda dari gel irama dasarnya
- Interval PR : Bisanya normal, bisa juga memendek
- Gelombang QRS : Normal






TAKHIKARDI SUPRAVENTRIKEL ( SVT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 150 – 250 X/menit
- Gelombang P : Sukar dilihat karena bersatu dengan gel T.
Kadang gelombang P terlihat kecil
- Interval PR : Tidak dapat dihitung atau memendek
- Gelombang QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )








FLUTTER ATRIAL ( AFL )
Kriteria :
- Irama : Biasanya teratur, bisa juga tidak
- Frekuensi ( HR ) : Bervariasi
- Gelombang : Bentuknya seperti gigi gergaji, dimana gelombang P timbulnya teratur dan dapat dihitung, P : QRS = 2:1, 3:1 atau 4:1
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal






FIBRILASI ATRIAL ( AF )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Bervariasi
- Gelombang P : Tidak dapat diidentifikasikan
- Interval PR : Tidak dapat dihitung
- Gelombang QRS : Normal








IRAMA JUNCTIONAL ( JR )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 40 – 60 X/menit
- Gelombang P : Terbalik di depan, dibelakang atau menghilang
- Interval PR : Kurang dari 0,12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal






EKSTRASISTOL JUNCTIONAL ( JES )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul lebih dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Tidak normal, sesuai dengan letak asal impuls
- Interval PR : Memendek atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal






TAKHIKARDI JUNCTIONAL ( JT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : > 100 X/menit
- Gelombang P : Terbalik di depan, belakng atau menghilang
- Interval PR : < 0,12 detik atau tidak ada
- Gelombang QRS : Normal







IRAMA IDIOVENTRIKULER ( IVR )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : 20 – 40 X/menit
- Gelombang P : Tidak terlihat
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik







EKTRASISTOL VENTRIKEL ( VES/PVB/PVC )
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur, karena ada gelombang yang timbul dini
- Frekuensi ( HR ) : Tergantung irama dasarnya
- Gelombang P : Tidak ada
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik








Lima ( 5 ) bentuk Ekstrasistol Ventrikel yang berbahaya :
1. Ekstrasistol Ventrikel > 6 X/menit






2. Ekstrasistol Ventrikel Bigemini








3. Ektrasistol Ventrikel “ Multifocal”







4. Ekstrasistol Ventrikel “ Consecutif ”







5. Ektrasistol Ventrikel R on T









TAKHIKARDI VENTRIKEL ( VT )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : > 100 X/menit
- Gelombang P : Tidak terlihat
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : > 0,12 detik







FIBRILASI VENTRIKEL ( VF )

Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Tidak dapat dihitung
- Gelombang P : Tidak ada
- Interval PR : Tidak ada
- Gelombang QRS : Tidak dapat dohitung, bergelombang & tidak teratur

Fibrilasi Ventrikel kasar (“Coarse”)





Fibrilasi Ventrikel halus (“Fine”)


Fibrilasi Ventrikel halus (“Fine”)







Beberapa contoh gambaran aritmia yang disebabkan oleh terganggunya penghantaran impuls.

BLOK SINOTRIAL (SA BLOK)
Kriteria :
- Terdapat episode hilangnya satu atau lebih gelombang P, QRS, T
- Irama : Teratur, kecuali pada yang hilang
- Frekuensi : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal (0,12 – 0,20 detik )
- Gelombang QRS : Normal







BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 1
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya antara 60 – 100 X/menit
- Gelombang P : Normal, setiap gel P selalu diikuti gel QRS
- Interval PR : Memanjang > 0,20 detik
- Gelombang QRS : Normal









BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 2 TIPE MOBITZ 1
(WENCHEBACH)

Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, ada satu gelombang P yang tidak diikuti QRS
- Interval PR : Terdapat episode makin lama makin panjang, kemudian blok, selanjutnya siklus berulang
- Gelombang QRS : Normal








BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 2 TIPE MOBITZ 2
Kriteria :
- Irama : Tidak teratur
- Frekuensi ( HR ) : Biasanya < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, ada satu atau lebih gel P yang tidak diikuti gel QRS
- Interval PR : Normal/memanjang secara konstan, kemudian ada blok
- Gelombang QRS : Normal






BLOK ATRIOVENTRIKULER DERAJAT 3 ( TAVB )
Kriteria :
- Irama : Teratur
- Frekuensi ( HR ) : < 60 X/menit
- Gelombang P : Normal, akan tetapi gel P & gel QRS berdiri sendiri, sehingga gel P kadang diikuti gel QRS, kadang tidak
- Interval PR : Berubah ubah/tidak ada
- Gelombang QRS : Normal/>0,12 detik

Selasa, Mei 05, 2009

CARA-CARA TERAPI MUSIK

• Untuk memulai melakukan terapi musik, khusunya untuk relaksasi, Anda dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Anda dapat juga menyempurnakannya dengan menyalakan lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.
• Untuk mempermudah, Anda dapat mendengarkan berbagi jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh Anda. Lalu duduklah di lantai, dengan posisi tegak dengan kaki bersilangan, ambil nafas dalam-dalam, tarik dan keluarkan perlahan-lahan melalui hidung.
• Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah-olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk Anda. Anda bisa memilih duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik itu mengalir keseluruh tubuh Anda, bukan hanya bergaung di kepala.
• Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir keseluruh tubuh Anda. Bukan hanya Anda rasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Focuskan ditempat mana yang ingin Anda sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari Anda membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel-sel, lapisan tipis tubuh dan organ dalam Anda.
• Saat Anda melakukan terapi musik, Anda akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, Anda dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang Anda telah temukan sebagai yang paling berguna bagi diri sendiri.
• Idealnya, Anda dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika Anda tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit itu musik telah membantu pikiran Anda beristirahat.